BeritaKhazanah Islam

Konsep Siksa Kubur dalam Islam

PWMJATENG.COM – Dalam ajaran Islam, terdapat keyakinan bahwa di alam kubur nanti, setiap manusia akan menerima konsekuensi dari amal perbuatannya di dunia. Hal ini sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Hadis yang menggambarkan bahwa amal baik akan mendatangkan surga, sementara amal buruk akan membawa seseorang ke dalam neraka.

Salah satu dalil yang menggambarkan hal ini adalah Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar.

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ يُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: Sesungguhnya apabila meninggal salah satu diantaramu, maka ditampakkan kepadanya, setiap pagi dan sore, tempat tinggalnya. Jika dia termasuk ahli surga maka surgalah tempat tinggalnya, dan bila dia ahli neraka maka nerakalah tempat tinggalnya. Kemudian dikatakan, “inilah tempat tinggalmu, sampai nanti engkau dibangkitkan di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar).

Hadis ini menyatakan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, akan ditunjukkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan sore. Jika dia termasuk ahli surga, maka tempat tinggalnya adalah surga, namun jika dia termasuk ahli neraka, maka tempat tinggalnya adalah neraka. Hal ini menegaskan bahwa setiap individu akan mendapatkan hasil dari amal perbuatannya di dunia.

Selain itu, ada juga riwayat Hadis dari Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa seseorang dapat diberi siksa kubur karena perilaku tertentu, seperti kurang menjaga kebersihan atau suka mengadu domba.

Baca juga, Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan Selepas Ramadan: Menjaga Konsistensi dalam Ibadah

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi melewati dua kuburan, maka beliau bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا فَقَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Artinya: “Sesungguhnya keduanya tidak disiksa kubur karena sebab yang besar. Satu di antara keduanya disiksa karena tidak bersih dari air kencingnya, dan yang satu lagi karena suka mengadu domba.” Kemudian Nabi meminta untuk diambilkan pelepah kurma dan membelahnya menjadi dua, selanjutnya beliau bersabda: “Mudah-mudahan meringankan mereka selama belum kering keduanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis ini, Nabi Muhammad menyampaikan bahwa dua orang yang meninggal tersebut menerima siksa kubur, satu karena tidak menjaga kebersihan dari air kencingnya, dan yang lainnya karena suka mengadu domba. Namun demikian, Nabi juga berusaha untuk meringankan siksa kubur keduanya dengan mengambil pelepah kurma dan membaginya menjadi dua bagian.

Selain itu, terdapat riwayat lain yang menyatakan bahwa Nabi pernah mendengar suara dari kuburan di waktu maghrib dan menyampaikan bahwa seorang Yahudi sedang disiksa di kuburnya. Hal-hal ini menunjukkan bahwa siksa kubur adalah suatu realitas yang dapat dialami oleh individu yang berbuat dosa.

Dalam tuntunan Nabi yang selalu dibaca pada waktu salat di waktu duduk tahiyyat, terdapat permohonan perlindungan dari empat hal, termasuk di antaranya adalah perlindungan dari siksa kubur. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga diri dari siksa kubur dan berdoa agar terhindar darinya.

Sumber: Buku Tanya Jawab Agama Jilid II Hal 2-4

Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE