Tokoh

Haedar Nashir : Pandemi Menumbuhkan Sikap Luhur Berbasis Nilai-Nilai Utama

PWMJATENG.COM, Semarang – Milad Muhammadiyah ke 109 tahun ini masih diselenggarakan di tengah-tengah masa Pandemi Covid-19. Namun, Semarak Milad Muhammadiyah terus digelorakan oleh seluruh pimpinan dan warga persyarikatan sebagai upaya syiar dan dakwah. Milad kali ini mengusung tema Optimis Hadapi Covid-19: Menebar Nilai Utama.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir,M.Si. dalam pidatonya memberikan highlight bahwa Pandemi Covid-19 menumbuhkan pandangan dan sikap luruh berbasis nilai-nilai utama, di antaranya : nilai tauhid prokemanusiaan (al-qiyam al-tauhid li al-insanī), nilai pemuliaan manusia (alqiyam al-takrim al-insanī), nilai persaudaraan dan kebersamaan (al-qiyam al-ukhuwwah wa al-jamā‘iyyah), nilai kasih sayang (al-qiyam al-tarāhum), nilai tengahan (al-qiyam alwasaṭiyyah), nilai kesungguhan berikhtiar (al-qiyam al-mujāhadah), nilai keilmuan (alqiyam al-‘ilmiyyah), serta nilai kemajuan (al-qiyam al-ḥadāriyyah).

Nilai Ketauhidan Untuk Kemanusiaan

Tauhid merupakan asas paling mendasar dalam Islam. Tauhid dalam Islam tidak terbatas menyangkut aspek iman untuk mengesakan Tuhan semata, bersamaan dengan itu tauhid maupun iman dan takwa terkait dengan urusan kemanusiaan dan kehidupan. Ajaran tentang iman dan takwa dalam Al-Qur’an banyak disandingkan dengan perintah amal saleh dan kebaikan. Allah menegaskan dalam Surah al-Mā‘ūn, orang disebut mendustakan agama karena tidak peduli pada kaum miskin dan anak yatim. Allah memperingatkan, kerusakan di muka bumi akan terjadi bila tidak ada relasi antara “ḥablun min Allāh” dan “ḥablun min al-nās” (Q.S. Ᾱli ‘Imrān: 112). Nabi bersabda, “La yu’minu aḥadukum ḥatta yuḥibba li-akhīhi mā yuḥibbu li-nafsihi”, bahwa tidak beriman seseorang hingga dia terbukti mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya (H.R. Muslim).

Baca juga, Sambut Milad Muhammadiyah ke 109, PWM Jateng Siapkan Resepsi Milad

Dari musibah covid-19 dapat kita petik hikmah menguatkan keyakinan kaum beriman bahwa sikap bertauhid meniscayakan kepedulian pada persoalan kemanusiaan, termasuk menyelamatkan jiwa manusia. Opini yang menyatakan “jangan takut kepada virus corona, takutlah kepada Allah”, merupakan pandangan bias dalam
memahami tauhid. Padahal ketakutan kepada Allah (khasyyah) yang bersendikan iman dan taqwa, berbeda sekali dengan ketakutan dalam makna waspada terhadap virus dan hal lain yang mengancam keselamatan diri. Allah SWT memperingatkan “wa lā tulqū bi aidīkum ilat-tahlukati wa aḥsinū”, artinya “Janganlah kamu menjatuhkan diri pada kebinasaan dan berbuat-baiklah” (Q.S. Al-Baqarah: 195)

Nilai Pemuliaan Manusia.

Pandemi covid memberikan pembelajaran pentingnya untuk memuliakan manusia atau jiwa dan fisik manusia agar dihargai dan diselamatkan, sebaliknya jangan sampai diabaikan, disia-siakan, dan direndahkan. Berusaha maksimal mengatasi virus corona dan melakukan vaksinasi sama dengan ikhtiar memelihara dan memuliakan manusia sebagai makhluk Allah yang terbaik (fī aḥsan altaqwīm) dan harus dihargai dan dijunjungtinggi eksistensinya. Di antara tujuan syariat Islam ialah “menjaga jiwa” (hifẓ al-nafs) sebagai satu kesatuan dengan menjaga agama (hifẓ al-dīn), menjaga akal (hifẓ al-‘aql), menjaga harta (hifẓ al-māl), dan menjaga keturunan (hifẓ al-nasl). Kehilangan satu nyawa sama dengan seluruh nyawa manusia, sebaliknya menjaga kehidupan satu jiwa manusia sama dengan memelihara seluruh manusia (Q.S. Al-Maidah: 32).

Nilai Persaudaraan dan Kebersamaan

Pandemi ini masalah bersama. Tindakan satu orang berpengaruh terhadap pihak lain dan lingkungan sekitar. Manusia tidak bisa egois dan merasa bebas dari wabah ini. Pandemi ini merupakan penderitaan semua umat manusia. Kaum beriman diajarkan bersabar dan tawakal dalam menerima musibah. Namun bukan berarti insan beriman abai dan tidak peduli terhadap keadaan, termasuk dalam merasakan penderitaan saudaranya yang terpapar dan lebih-lebih yang meninggal dunia. Oleh karena itu perlu adanya rasa persaudaraan dan kebersamaan dari semua pihak sebagai wujud aktualisasi nilai utama agar menjalani kehidupan bersama di tengah perasaan satu nasib.

Nilai Kasih Sayang

Ajaran kasih sayang dalam Islam sangat penting dan luas yang lahir dari nilai ihsan, ukhuwah, silaturahmi, dan ta‘āwun dalam wujud kepeduliaan, empati, simpati, kerjasama, dan kebersamaan atas nasib sesama. Jika tidak
mau membantu sesama jangan bertindak semaunya. Jika tidak dapat memberi solusi dalam menghadapi masalah, maka jangan menjadi bagian dari masalah dan mengabaikan masalah.

Baca juga, Semarakkan Milad Muhammadiyah Ke-109, PDA Kota Magelang Gelar Workshop Ke’Aisyiyahan

Nilai kasih sayang antar manusia terhubung dengan kasih sayang Tuhan, sebagaimana hadis Nabi yang artinya: “Orang-orang yang penyayang itu akan dikasihi oleh Yang Maha Penyayang dan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, maka sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh makhluk yang ada di langit” (H.R. ‘Abdullāh bin ‘Amr r.a.).

Nilai Tengahan

Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 mengembangkan pendekatan wasaṭiyah dengan mengambil langkah berdasarkan pertimbangan “rasionalilmiah” dan “spiritual-rohaniah”. Buya Hamka dalam “Taswuf Modern” menuliskan pesan sikap “tawāzun” atau “tawāsuṭ” dalam mengatasi masalah. Muslim tidak boleh memiliki sifat “al-jubnu”, yakni takut berlebihan dalam menghadapi keadaan. Sebaliknya dilarang bersikap “taḥawwur”, yaitu nekad tanpa perhitungan. Adapun sikap yang dianjurkan ialah “syajā‘ah”, yakni berani dengan seksama. Itulah ajaran “wasaṭiyyah Islam” dalam bersikap menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan agar tidak terjebak pada sikap ekstrem atau berlebihan.

Muhammadiyah berusaha mengembangkan nilai moderat atau Wasaṭiyah yang berprinsip dan autentik, tanpa merasa paling Wasaṭiyah, tetapi tidak pula bias Wasaṭiyah yang atas nama moderat membenarkan “apa saja” dan menjurus pada hal-hal yang ekstrem (guluw atau taṭarruf). Nilai Wasaṭiyah Muhammadiyah berdasarkan pada rujukan Al-Qur’an, Sunah Nabi yang maqbūlah, dan ijtihad dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang interkoneksi didukung khazanah ilmu dan hikmah.

Nilai Kesungguhan Berikhtiar

Usaha mengatasi pandemi merupakan komitmen dan tanggungjawab bersama. Konsistensi melaksanakan kebijakan oleh pemerintah, disiplin menjalankan protokol kesehatan, melakukan vaksinasi, dan berbagai
langkah lainnya merupakan keniscayaan dalam mengatasi pandemi ini. Segala ikhtiar maksimal yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-rohaniah harus terus kita lakukan sebagai jalan jihād untuk mengakhirinya. Allah memberikan jalan lapang bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dalam berjuang mengatasi masalah kehidupan (Q.S. AlAnkabut: 69).

Perjuangan yang sungguh-sungguh merupakan jihād umat Islam dan bangsa Indonesia untuk keluar dari lilitan masalah serta meraih kehidupan yang lebih baik dan berkemajuan. Jihad bagi Muhammadiyah adalah jalan perjuangan membangun kehidupan yang lebih baik dan mulia. Muhammadiyah dalam mengagendakan gerakannya memaknai dan mengaktualisasikan jihād sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlu aljuhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju; adil; makmur; bermartabat; dan berdaulat. Jihād dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. Umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (al-jihād li-al-mu‘āraḍah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihād li-al-muwājahah) dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama (PP Muhammadiyah, 2010).

Nilai Keilmuan

Pandemi ini meniscayakan pentingnya manusia bersandar pada ilmu. Ilmu yang mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Para ahli epidemiologi, ahli virus, kedokteran, dan para ilmuwan lainnya telah memberi sumbangan berharga dalam memahami dan menghadapi virus Corona yang mengguncang dunia selama dua tahun ini. Demikian halnya dengan ditemukannya vaksin yang memberikan salah satu jalan untuk memgatasi pandemi ini, meskipun bukan satusatunya jalan.

Fakta tersebut menunjukkan betapa manusia memerlukan ilmu pengetahuan yang harus terus menerus diperbarui, dikembangkan, dan disempurnakan. Ajaran Islam bahkan meniscayakan umatnya agar berilmu dan beriman (Q.S. Al-Mujādilah: 11), serta sebaliknya jangan sampai bertindak tanpa ilmu sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Q.S. Al-Isra: 36).

Nilai Kemajuan

Pandemi ini meniscayakan manusia untuk belajar memahami masalah secara mendalam dan luas serta membangkitkan diri untuk maju pasca musibah. Tuhan mengajari manusa dengan berbagai cara. Musibah boleh jadi merupakan cara Tuhan agar manusia terus mengungkap rahasia ciptaan-Nya yang sangat luas dan tak terbatas, bersyukur atas segala nikmat-Nya, serta mengakui Kemahakuasaan-Nya. Di sinilah pentingnya membangkitkan nilai dan etos kemajuan bagi seluruh manusia atas musibah yang mewabah di seluruh dunia ini.

Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi yang berat ini secara teologis memandang kehidupan sebagai sesuatu yang luhur, berharga, dan bermakna. Memaknai kehidupan dengan segala aspek dan siklusnya niscaya didekati dengan pandangan yang mendalam, luas, dan multiperspektif. Letakkanlah persoalan pandemi ini dalam dimensi iman, tauhid, dan ḥablun min Allāh yang terhubung langsung dengan ḥablun min al-nās; ilmu’; ihsan; dan amal saleh yang bermakna. Pandangan keagamaan dan keilmuan niscaya holistik-integratif dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang lahir dari pandangan atau nilai-nilai kemajuan dalam ajaran Islam.

Editor : M.T.Ulinuha

 

Muhammad Taufiq Ulinuha

Pemimpin Redaksi PWMJateng.com, Redaktur Rahma.ID.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE