Kolom

Ketika Semua Berkata “Tidak”, Saya Memilih untuk Melihat Lebih Dalam

Oleh: Tegar S. Ahimza
Mantan Guru – Profesional HRD – Copywriter – MPI PWM Jateng

Ada satu hal yang sejak dulu saya pegang dalam mendidik manusia:

Jangan pernah terburu-buru menyimpulkan seseorang sebelum kita benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Mungkin karena saya memiliki kecenderungan berpikir intuitif, ditambah ketertarikan yang kuat pada kecerdasan intrapersonal dan interpersonal, saya terbiasa membaca manusia bukan hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Saya bahkan menemukan inspirasi yang agak tidak biasa.

Sherlock Holmes.

Bukan karena saya ingin menjadi Holmes, tetapi karena cara berpikirnya menarik bagi saya. Ia mengamati, mengumpulkan fakta, menyusun inferensi, membangun hipotesis, mengeliminasi kemungkinan, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan pola dan probabilitas.

Bagi saya, pendidikan juga sering membutuhkan cara berpikir seperti itu.

Observasi sebelum menghakimi.
Data sebelum kesimpulan.
Memahami sebelum memberi label.

Teman-teman guru saya mungkin masih ingat. Sejak menjadi guru biasa hingga kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah, saya memang sering menjadi orang yang tidak terlalu nyaman mengikuti arus hanya karena semua orang sedang berada di sana.

Kalau ada dua belas orang mengatakan “iya”, sering kali saya justru menjadi orang ke-13 yang bertanya:

“Benarkah jawabannya iya?”

Bukan karena ingin berbeda.

Tetapi karena terkadang, kebenaran memang tersembunyi di balik sesuatu yang sudah dianggap selesai oleh mayoritas.

Ketika Nilai Tak Menceritakan Semuanya

Saya teringat seorang anak.

Sebut saja M.

Ia lahir pada tahun 2000. Ketika itu, ia masih duduk di kelas 1 SD.

Dalam sebuah rapat kenaikan kelas, hampir seluruh guru memiliki kesimpulan yang sama.

Anak ini dianggap bodoh secara akademik.

Nilai hariannya memang buruk. Banyak mata pelajaran tidak memenuhi standar. Secara angka, data tersebut tampak berbicara dengan sangat jelas.

Mayoritas guru menyimpulkan:

“Not Passed Grade.”

Tetapi saya tidak setuju.

Bukan karena saya mengabaikan nilai.

Justru karena saya melihat ada sesuatu yang tidak konsisten di balik angka-angka tersebut.

Saya mengatakan:

“This child is in a special condition, but not dumb.”

Saya kemudian mulai mengobservasinya lebih jauh.

Kebetulan saya juga mengajar Bahasa Inggris di kelas 1. Dari sana, saya melihat sesuatu yang menarik.

Anak ini mengalami kekacauan yang berulang ketika menulis alfabet.

Huruf S menjadi Z.

Huruf u dan n tertukar.

Huruf b dan d terbalik.

Kalau hanya terjadi sekali atau dua kali, mungkin kita bisa menyebutnya sebagai kesalahan biasa.

Tetapi ini terjadi berulang.

Dan berulang.

Hampir menjadi pola di banyak halaman bukunya.

Di titik itulah saya mulai berpikir:

Ini bukan sekadar anak yang tidak mau belajar.

Saya mengamati perilakunya.

Ia tidak malas.

Ia tidak menolak tugas.

Ia justru tetap berusaha menyelesaikan apa yang diberikan gurunya.

Ada usaha di sana.

Ada kemauan.

Tetapi ada sesuatu yang menghambat.

Melihat Hambatan, Bukan Memberi Label

Saya kemudian menggunakan literasi yang saya miliki tentang psikologi pendidikan dan tumbuh kembang anak untuk mencari kemungkinan penjelasan.

Saya mulai mempertimbangkan apakah M memiliki hambatan belajar tertentu yang selama ini belum kami pahami. Salah satu kemungkinan yang saat itu muncul dalam pikiran saya adalah disleksia.

Tentu, sebagai guru saya tidak berada pada posisi untuk memberikan diagnosis klinis. Observasi di kelas juga tidak cukup untuk menetapkan diagnosis.

Tetapi saya dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih penting pada saat itu:

Saya dapat menolak memberikan label “bodoh” kepada seorang anak hanya karena saya belum memahami hambatannya.

Sebab anak yang salah menulis belum tentu tidak mampu menulis.

Anak yang lambat memahami pelajaran belum tentu bodoh.

Anak yang nilainya rendah belum tentu tidak memiliki potensi.

Apa yang terlihat di buku bisa menjadi alasan bagi guru untuk mengamati lebih jauh, bukan terburu-buru menjadikannya vonis terhadap kemampuan seorang anak.

Dan M memberi saya petunjuk lain yang sangat kuat.

Di antara berbagai nilai yang buruk, ada dua hal yang justru menonjol:

Matematika dan hafalan Al-Qurannya.

Di sana saya melihat sesuatu yang berbeda.

Kemampuan menghafalnya menunjukkan bahwa ada kemampuan yang menonjol dalam dirinya. Begitu pula dengan matematika. Fakta itu membuat saya semakin sulit menerima begitu saja label “bodoh” yang sudah dilekatkan kepadanya.

Ada ketidaksesuaian antara label yang diberikan kepadanya dan potensi anak yang saya lihat.

Dan bagi saya, ketidaksesuaian seperti itu harus diselidiki.

Saya akhirnya menjadi orang yang berdiri di posisi berbeda dari mayoritas.

Saya membela anak itu.

Saya menyampaikan bahwa berdasarkan observasi dan literasi yang saya miliki, ada kemungkinan ia mengalami kesulitan belajar tertentu dan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

Saya juga menyampaikan temuan tersebut kepada orang tuanya.

Ternyata ibunya sendiri seorang guru.

Beliau cukup terkejut.

Bukan karena saya memberikan sebuah jawaban mutlak, tetapi karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang membawa perspektif berbeda terhadap apa yang selama ini dianggap sebagai kegagalan anaknya.

Beliau kemudian mencari informasi lebih jauh mengenai kondisi tersebut dan bagaimana cara menanganinya.

M akhirnya naik kelas.

Dengan bantuan guru lain yang bersedia mendampinginya secara intensif, ia mendapatkan latihan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Dan perjalanan itu terus berjalan.

Kelas II.

Kelas III.

Kelas IV.

Kelas V.

Kelas VI.

Tidak ada lagi cerita bahwa anak ini tidak mampu.

Enam Tahun Kemudian

Enam tahun berlalu.

Sampailah pada hari wisuda dan pelepasan.

Di belakang panggung, setelah acara selesai, ibu dan anak itu secara khusus menghampiri saya.

Ibunya menyampaikan terima kasih.

Beliau mengatakan bahwa jika bukan karena temuan enam tahun sebelumnya, mungkin perjalanan anaknya akan sangat berbeda.

Anak yang dulu hampir dinyatakan gagal di kelas 1 SD itu ternyata menjadi salah satu siswa yang memperoleh hasil wisuda terbaik.

Lalu M memeluk saya.

Anak yang dahulu masih kecil itu kini berdiri di hadapan saya setelah melewati enam tahun perjalanan.

Ia kemudian mencium tangan saya.

Saat itu saya terdiam.

Bagi seorang guru, ada penghargaan yang jauh lebih besar daripada sekadar sertifikat atau penghargaan formal.

Ketika seorang anak yang pernah hampir kehilangan kesempatan datang kembali, berdiri di hadapan kita, lalu menunjukkan bahwa ia mampu melewati semua yang dahulu dianggap sebagai batasnya.

Anak Itu Kembali Membuat Saya Terdiam

Beberapa tahun kemudian, saya sudah menjadi kepala sekolah di lembaga yang berbeda.

Suatu hari, sebuah foto dibagikan di salah satu grup WhatsApp takmir.

Saya melihat seorang anak muda berjubah putih sedang berfoto bersama orang tuanya.

Informasi yang menyertai foto itu membuat saya terdiam.

Ia sedang mengikuti wisuda tahfizh 30 juz di salah satu pondok pesantren besar di Solo Raya.

Saya memperhatikan fotonya.

Dan perlahan saya menyadari siapa anak itu.

M.

Anak yang dulu hampir dianggap gagal di kelas 1 SD.

Anak yang dulu diberi label bodoh.

Anak yang huruf-hurufnya sering terbalik.

Anak yang dulu membuat saya menjadi satu-satunya orang yang mengatakan:

“Tunggu. Jangan buru-buru menyimpulkan.”

Hari itu saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Ada rasa bangga.

Bukan karena saya merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa.

Tetapi karena saya pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan seorang anak yang kemudian tumbuh jauh melampaui apa yang dahulu diperkirakan orang-orang tentang dirinya.

Beberapa tahun kemudian, saya kembali bertemu dengannya.

Ia sudah menyelesaikan kuliah.

Tubuhnya sudah jauh lebih dewasa.

Dan ketika bertemu saya, ia langsung mencium tangan saya.

Saya bahkan sudah lupa siapa dia.

Saya harus memperhatikan wajahnya beberapa saat.

Barulah saya menyadari:

Ini M.

Anak yang dahulu hampir dinyatakan gagal.

Anak yang pernah dianggap bodoh.

Anak yang ternyata mampu melewati semuanya.

Kadang Tugas Guru Adalah Melihat Lebih Dalam

Dan mungkin, di situlah saya kembali belajar tentang makna menjadi seorang guru.

Kadang-kadang tugas guru bukan sekadar mengajarkan apa yang ada di buku.

Kadang tugas guru adalah melihat sesuatu yang belum mampu dilihat oleh orang lain.

Ketika semua orang melihat kegagalan, kita mungkin perlu bertanya tentang hambatan.

Ketika semua orang melihat kelemahan, kita mungkin perlu mencari potensi.

Ketika seorang anak tertinggal, kita tidak selalu perlu bertanya:

“Mengapa dia tidak bisa?”

Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang membuat dia belum bisa?”

Karena satu label yang kita berikan kepada seorang anak mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik.

Tetapi label itu bisa ia bawa selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, satu orang dewasa yang memilih untuk percaya kepadanya dapat mengubah cara seorang anak memandang dirinya sendiri.

Saya bersyukur pernah menjadi orang ke-13.

Bukan karena saya selalu benar.

Tetapi karena pengalaman itu mengajarkan saya satu prinsip yang sampai hari ini masih saya pegang:

Jangan pernah mengubur potensi seorang manusia hanya karena kita belum cukup dalam mengenali masalahnya.

Sebab terkadang, di balik seorang anak yang dianggap “gagal” oleh banyak orang, sedang tumbuh seseorang yang kelak akan membuat kita semua bangga.

Dan mungkin, tugas kita sebagai guru hanyalah memastikan:

jangan sampai dunia terlalu cepat menyerah kepadanya.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *