Guru Muhammadiyah Siapkan Sekolah Ramah Disabilitas lewat Workshop Pendidikan Inklusif di Temanggung
PWMJATENG.COM, TEMANGGUNG — Guru-guru dari berbagai jenjang sekolah berkumpul di SD Muhammadiyah Temanggung pada Sabtu (19/9/2026). Para pengajar ini berkomitmen menyamakan langkah untuk memperkuat pendidikan inklusif di Temanggung. Langkah nyata tersebut bertujuan agar seluruh sekolah mampu menyambut serta mendampingi anak disabilitas tanpa diskriminasi.
Sebanyak 49 pendidik perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Kabupaten Temanggung menghadiri kegiatan penting ini. Peserta datang dari tingkatan SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga SMK. Seluruh peserta fokus mempelajari teknik identifikasi awal serta pola pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus.
Para pendidik menyadari bahwa setiap peserta didik menyimpan potensi unik dan gaya belajar yang beragam. Oleh karena itu, tenaga pengajar tidak boleh menjadikan perbedaan fisik maupun mental sebagai penghalang proses pembelajaran.
Strategi Guru Kenali Karakter Siswa Disabilitas
Penguatan kapasitas tenaga pendidik menjadi kunci utama keberhasilan sekolah inklusif. Guru memegang peran paling mendasar karena mereka berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari. Kepekaan emosional serta pemahaman teori sangat menentukan kenyamanan anak di dalam kelas.
Narasumber pertama, Dr. Riana Mashar, S.Psi., M.Si., membedah aspek pendampingan dari sudut pandang psikologi perkembangan. Pakar psikologi UAD/PPA ini membagikan panduan praktis agar guru sanggup membaca kebutuhan emosional siswa. Pendekatan emosional yang tepat terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus.
Selanjutnya, pemerhati disabilitas Drs. Singgih Wahyu Purnomo, M.M. memaparkan realitas lapangan yang kerap dihadapi penyandang disabilitas. Singgih menekankan pentingnya menciptakan ruang belajar yang bebas stigma. Di saat bersamaan, Joko Prasetyo, S.Pd., M.Pd. melengkapi materi pelatihan dengan strategi penyusunan kurikulum yang adaptif.
Sinergi ketiga pakar tersebut memberikan wawasan komprehensif bagi para peserta. Kehadiran perwakilan Dikdasmen, Drs. Mudiyono, turut menegaskan dukungan penuh institusi terhadap keberlanjutan program pelatihan ini.
Mewujudkan Lingkungan Belajar Ramah Anak
Penerapan pendidikan inklusif di Temanggung menuntut perubahan sikap mendasar dari seluruh staf pengajar. Mengenali anak disabilitas bukan sekadar memahami diagnosis medis mereka. Sebaliknya, guru harus menunjukkan empati tinggi, kesabaran, serta keluwesan dalam mengajar.
Melalui workshop intensif ini, para pengajar di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah Kabupaten Temanggung menyatakan kesiapan mereka. Sekolah-sekolah Muhammadiyah siap menjelma menjadi rumah belajar yang aman, hangat, serta ramah bagi semua anak.
Pada akhirnya, mutu sekolah tidak hanya terpancar dari deretan prestasi akademik semata. Tolok ukur kebaikan sekolah justru terlihat dari kemampuan lembaga tersebut dalam merawat, menghargai, dan mendampingi setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya.
Kontributor: Reee
Editor: Akmal



