Kolom

Menjaga Kewarasan Akal di Tengah Arus Teknologi Digital

Oleh: Rumini Zulfikar (Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten)

“Di tengah kemajuan teknologi pada era digital, tata kelola kehidupan ikut berubah dan memengaruhi cara pandang serta tindakan umat manusia.”

Perjalanan kehidupan umat manusia begitu dinamis. Perubahan yang terjadi saat ini tidak dapat dielakkan karena merupakan bagian dari sunatullah dalam kehidupan.

Manusia dibekali akal, pikiran, dan budi serta dipersiapkan untuk memegang amanah sebagai pengatur kehidupan di muka bumi—khalifah fi al-ardh. Dengan bekal tersebut, manusia memegang peranan penting dalam merawat dan menjaga keberlangsungan alam, baik secara pribadi maupun bersama-sama.

Tanggung jawab itu tentu tidak ringan. Manusia harus mampu mengatur ritme perjalanan kehidupannya dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dasar yang menjadi tugas pokoknya.

Teknologi sebagai Hasil Akal dan Budi Manusia

Beberapa abad lalu, ketika peradaban belum mengenal teknologi seperti sekarang, kehidupan manusia lebih banyak bertumpu pada alam. Hubungan manusia dengan bumi, gunung, laut, langit, dan hutan terasa lebih langsung karena seluruh unsur tersebut menjadi bagian utama kehidupan.

Seiring perjalanan waktu, teknologi hadir dan berkembang. Manusia pun harus beradaptasi. Jika melihat kembali sejarah, perkembangan teknologi telah dimulai sejak masa prasejarah dan terus bergerak hingga era digital.

Beberapa tonggak perkembangannya antara lain:

  • Sekitar 3,3 juta tahun lalu, manusia purba telah membuat dan menggunakan perkakas batu.
  • Lebih dari satu juta tahun lalu, Homo erectus diketahui telah memanfaatkan dan mempertahankan api.
  • Pada pertengahan abad ke-15, Johannes Gutenberg mengembangkan teknologi mesin cetak mekanis. Alkitab Gutenberg diperkirakan selesai dicetak pada 1455.
  • Pada 1876, Alexander Graham Bell memperoleh paten atas teknologi telepon.
  • Pada 1946, ENIAC diperkenalkan kepada publik sebagai salah satu komputer elektronik digital berskala besar.
  • Pada 1989, Tim Berners-Lee menggagas World Wide Web. Menjelang akhir 1990, peramban dan server web pertama telah beroperasi di CERN.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa teknologi merupakan hasil dari akal dan budi manusia. Perkembangannya sulit dibendung karena telah menjadi bagian dari kebutuhan kehidupan.

Namun, manusia tetap harus bijak dalam menyikapinya. Teknologi semestinya berada dalam kendali manusia. Jangan sampai manusia justru dikendalikan oleh sesuatu yang diciptakannya sendiri.

Dampak Kemajuan Teknologi Digital

Setiap hal baru, termasuk teknologi digital, mempunyai sisi kemaslahatan sekaligus kemungkinan membawa mafsadat.

Dampak positif teknologi dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai urusan menjadi lebih mudah. Kita dapat mengenal dunia luar, mengakses informasi, serta menjalankan kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan politik dengan lebih cepat.

Di balik kemudahan tersebut, teknologi juga membawa dampak negatif, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampaknya dapat terlihat dalam perubahan kultur, budaya, dan tata kelola kehidupan di berbagai bidang.

Hal yang memprihatinkan adalah ketika teknologi digital, yang semestinya membantu manusia, justru membuat manusia menjadi korban. Kita melihat jerat judi online, penyalahgunaan pinjaman online, perundungan, serta penggunaan kata-kata sarkastis di media sosial.

Semua itu kerap dilakukan tanpa mengindahkan etika sebagai umat beragama maupun sebagai bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya luhur.

Secara psikologis, manusia juga menjadi semakin rentan dalam menyikapi berbagai keadaan sehari-hari. Teknologi yang seharusnya memacu manusia agar mampu berkembang justru dapat mengikis daya kendali apabila digunakan tanpa kebijaksanaan.

Ketika Emosi Kehilangan Kendali

Sadar atau tidak, kemajuan teknologi membuat kita terus-menerus disuguhi berbagai konten. Sebagian konten memberikan manfaat, tetapi tidak sedikit yang tidak mendidik.

Ketika semua itu dibiarkan tanpa kendali, manusia dapat kehilangan kemampuan mengatur diri. Dampaknya terlihat pada anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang tua yang mudah tersinggung, marah, dan terpancing emosi.

Kita juga melihat orang begitu mudah terhasut oleh berita bohong yang tidak jelas sumbernya. Fitnah disebarkan, umpatan dilontarkan, dan bahasa sarkastis digunakan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Arus konten serta kebiasaan mencari rangsangan instan di media sosial dapat membuat seseorang bereaksi sebelum berpikir. Ledakan emosi yang tidak terkendali kemudian memengaruhi kehidupan pribadi maupun interaksi sosial dalam lingkup yang lebih luas.

Sebagian orang bahkan memilih mengisolasi diri dari kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya. Keadaan ini menjadi keprihatinan sekaligus pekerjaan rumah bagi seluruh elemen masyarakat.

Para pemangku kebijakan, tokoh agama, tokoh masyarakat, cendekiawan, kiai, ustaz, dan pendidik harus menjadi garda terdepan. Jangan sampai mereka abai atau mengalami “kematian kepakaran” di tengah derasnya kemajuan teknologi digital.

Menjaga Kewarasan Akal di Era Digital

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu dan mempermudah manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Karena itu, manusia harus mampu menyelaraskan penggunaan teknologi dengan kehidupan dunia dan akhirat.

Ada sebuah ungkapan luhur yang patut direnungkan:

“Hasil dari akal budimu jangan sampai menjadi berhala dalam kehidupan dunia sehingga kewarasan akal mengalami dehidrasi, bahkan hilang.”

Jika kita mengaku beriman, teknologi digital semestinya menjadi sarana atau wasilah agar kita semakin bersyukur. Teknologi juga seharusnya mendorong manusia untuk terus melakukan iqra’ secara menyeluruh dalam kehidupan.

Pesan tersebut dapat dirangkum dalam ungkapan berikut:

إِنَّ مِنْ أَهَمِّ الْمُهِمَّاتِ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي هَذَا الْعَصْرِ الْحَدِيثِ حِفْظُ الصِّحَّةِ النَّفْسِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ

Artinya:

“Pada zaman modern ini, salah satu tugas terpenting bagi orang-orang beriman adalah menjaga kesehatan jiwa dan akal.”

Kekuatan ruhani harus kita jadikan panglima, sedangkan kekuatan jasmani menjadi pasukan yang mempunyai pertahanan spiritual. Dengan bekal tersebut, kita dapat menjaga akal tetap waras di tengah berbagai perubahan kehidupan.

Hal ini semakin penting karena kehidupan telah mengalami pergeseran secara kultur, budaya, maupun tata nilai. Jika tidak mempunyai daya tangkal yang kuat, kehidupan dapat mengalami kekacauan.

Agama sebagai Pijakan Menghadapi Teknologi

Untuk menjawab berbagai persoalan tersebut, agama harus menjadi pijakan yang kuat. Laku spiritual juga harus tetap terjaga agar manusia mampu menyelaraskan kehidupan dengan perkembangan teknologi.

Dengan cara itu, teknologi tidak menjadi momok, melainkan menjadi sahabat dalam kehidupan. Penggunaannya harus terarah, terukur, dan seimbang.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan ketika melihat realitas kehidupan di tengah derasnya arus teknologi pada era modern. Jangan sampai kemajuan teknologi justru membawa manusia menuju kemunduran.

Sejatinya, teknologi harus menjadikan manusia semakin progresif dan dinamis. Namun, kemajuan itu hanya akan membawa kemaslahatan apabila manusia tetap mampu menjaga etika, kekuatan ruhani, dan kewarasan akalnya.

Editor: AL-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/