Bukan Cuma Berburu Ranking! UMS Integrasikan SDGs ke Caturdarma Demi Dampak Nyata Masyarakat
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kini tidak lagi berfokus pada pemeringkatan semata. Kampus ini resmi mengintegrasikan indikator SDGs UMS ke dalam Caturdarma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) guna menghadirkan dampak sosial serta lingkungan yang nyata.
Pihak universitas menegaskan langkah strategis tersebut dalam acara bertajuk Integrasi SDGs pada Caturdarma Perguruan Tinggi. Agenda ini berlangsung di Ruang Seminar Utama Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS pada Senin (10/8/2026).
Wakil Rektor UMS, Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., menegaskan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi mandat nasional. Oleh karena itu, perguruan tinggi wajib memberikan kontribusi konkret bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.
Pergeseran Paradigma Menuju Kampus Berkelanjutan
Kebijakan Perguruan Tinggi Berdampak dan Indikator Kinerja Utama (IKU) menjadi momentum penting bagi UMS. Melalui instrumen tersebut, UMS makin memperkuat penerapan SDGs UMS pada seluruh lini caturdarma.
Supriyono menambahkan bahwa perguruan tinggi memegang peran strategis untuk menghadirkan praktik baik. Generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan generasi mendatang tetap menikmati kualitas lingkungan yang sehat.
Sementara itu, Koordinator SDGs Center UMS, Rama Rizana, S.T., M.Sc., menyebut paradigma kampus telah bergeser. Perguruan tinggi kini bergerak dari teaching university menuju impact and sustainability university.
Pergeseran ini melahirkan konsep kampus berkelanjutan yang mengukur keberhasilan dari kontribusi nyata. Kampus mengarahkan dampak positif tersebut secara langsung untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat.
Fondasi Kelembagaan dan Pembaruan Kurikulum
Lembaga pemeringkatan global seperti THE Impact Rankings dan QS Sustainability Rankings turut mendukung komitmen penerapan SDGs UMS. Selain itu, kebijakan ini selaras dengan RPJMN 2025–2029 dan IKU perguruan tinggi.
UMS pun telah membangun fondasi kelembagaan yang sangat kuat. UMS membuktikan langkah ini lewat pembentukan SDGs Center serta Peraturan Rektor tentang Pengelolaan Kampus Ramah Lingkungan.
Selanjutnya, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran (LPPIP) UMS memperbarui Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Ketua LPPIP UMS, Koesoemo Ratih, Ph.D., menjelaskan bahwa pihak universitas kini menyisipkan materi kelestarian lingkungan ke mata kuliah wajib.
Bahkan, pengembang sedang menyempurnakan sistem MyKurikulum untuk menampilkan indikator keberlanjutan secara transparan. Fitur baru ini memudahkan tim audit memantau implementasi kurikulum di setiap mata kuliah.
Aksi Nyata Fakultas Teknik dan Dampak Global
Dukungan nyata juga datang dari Fakultas Teknik (FT) UMS. Wakil Dekan I FT UMS, Dr. Ir. Nur Aklis, M.Eng., mengungkapkan bahwa fakultasnya sedang menyiapkan Program Studi S3 Rekayasa Berkelanjutan.
Selain itu, FT UMS aktif menggarap riset energi terbarukan dan infrastruktur rendah emisi. Pihak fakultas juga menjalankan pengabdian masyarakat melalui pendampingan pengelolaan sampah di Gonilan dan Sragen.
FT UMS bahkan menginisiasi gerakan Kampus Bebas Sampah Plastik serta menyediakan water station. Program ini terbukti efektif mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di area kampus.
Melalui penguatan SDGs UMS dalam Caturdarma PTMA, kampus ini optimistis dapat memperluas dampak positifnya. Langkah ini sekaligus memperkuat reputasi UMS sebagai institusi yang unggul dan berorientasi pada kemaslahatan global.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy



