Berita

Sindiran Keras di Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah: Umat Islam Terbalik Jalankan Ibadah

PWMJATENG.COM, SRAGEN – Manajer Eksekutif PWM Jateng, Ikhwanushoffa, memberikan kritik tajam terkait praktik ibadah umat Islam saat ini. Ia menyampaikan hal tersebut saat mengisi Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah di Masjid Agung Kedawung Sragen, Ahad (9/8/2026). Ia menyoroti fenomena masyarakat yang sering membolak-balik urutan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pada awal sesi, Ikhwanushoffa mengingatkan kembali esensi belajar agama. Belajar agama tidak sekadar teori, tetapi umat wajib mengamalkannya secara nyata. Kiai Ahmad Dahlan pada zaman dahulu mengajarkan Surat Al-Ma’un selama tiga bulan berturut-turut. Tokoh pendiri ini menjadikan surat tersebut sebagai fondasi utama gerakan sosial persyarikatan.

Selain itu, ia membandingkan kedermawanan orang zaman dahulu dengan masa kini. Ia menceritakan kisah seseorang yang rela menyumbangkan separuh biaya resepsinya untuk pergerakan umat. Tokoh pimpinan pada masa itu meminta sumbangan secara langsung dan umat menyetujuinya tanpa ragu.

Sebaliknya, kondisi saat ini berbanding terbalik. “Tiba-tiba Ketua PCM datang meminta 25 juta dari biaya resepsi 100 juta. Kira-kira panjenengan membolehkan tidak?” tanyanya retoris kepada para jemaah.

Sindiran untuk Fasilitas Kesehatan

Lebih lanjut, Ikhwanushoffa menyoroti perubahan orientasi sosial. Dahulu, organisasi mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) secara gratis bagi kaum duafa. Fasilitas tersebut murni melayani warga miskin yang membutuhkan pengobatan.

Namun, kondisi sekarang sudah berubah menjadi rumah sakit berbayar. Padahal secara finansial, organisasi saat ini jauh lebih kaya. Ia menyayangkan hilangnya semangat menggratiskan layanan kesehatan bagi warga miskin dalam bahasan Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah ini.

Selanjutnya, ia mengutip Surat Al-Hasyr ayat 18 tentang perintah bertakwa. Umat Islam wajib memperhatikan amal perbuatan untuk bekal akhirat kelak. Allah selalu meneliti setiap detail perbuatan manusia di dunia.

Fenomena Urutan Rukun Islam

Topik kemudian beralih pada fenomena pelaksanaan ibadah di Indonesia. Ikhwanushoffa menilai masyarakat sering mengabaikan urutan rukun Islam yang benar. Idealnya, umat menunaikan syahadat, salat, zakat, puasa, lalu beribadah haji.

Faktanya, masyarakat justru memprioritaskan puasa dan haji. Banyak orang rajin berpuasa namun meninggalkan salat lima waktu. Bahkan, sekolah sering mengajarkan manasik haji tanpa menekankan pentingnya kewajiban bersedekah terlebih dahulu. Wali murid justru terharu melihat anaknya praktik haji tanpa menyadari kekeliruan edukasi tersebut.

Pada sesi penutup, penceramah ini membahas kewajiban finansial umat. Banyak jemaah masih bingung mengenai cara menghitung zakat penghasilan. Ikhwanushoffa menegaskan bahwa umat wajib mengeluarkan zakat dari total penghasilan kotor demi mencari keberkahan.

Ia juga memberikan solusi bagi warga yang masih memiliki utang. Umat harus membayar zakat sekaligus melunasi utang tersebut secara beriringan tanpa menunda salah satunya. Pesan tegas dalam penutup Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah ini diharapkan mampu meluruskan kembali pemahaman syariat masyarakat.

Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/