Mengupas Arti Sidang Tanwir Nasyiatul Aisyiyah: KH Tafsir Ingatkan Esensi Pencerahan
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Pemahaman publik mengenai musyawarah organisasi Islam mendapat perspektif baru dalam perhelatan Sidang Tanwir Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta, Kamis (6/8/2026). Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH Tafsir, M.Ag. memaknai forum permusyawaratan ini sebagai sumbu pencerahan utama untuk meneguhkan arah perjuangan umat di tengah tantangan global.
Oleh karena itu, publik perlu memahami esensi utama dari musyawarah ini. Penyelenggaraan Sidang Tanwir Nasyiatul Aisyiyah ternyata memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Forum tingkat nasional ini bukan sekadar agenda rapat tahunan biasa. Para peserta juga tidak sekadar hadir untuk menjalankan rutinitas mekanisme organisasi.
KH Tafsir mengajak seluruh pihak membedah kembali akar historis musyawarah ini. “Sidang Tanwir bukan hanya forum yang membahas hal-hal teknis dan administratif organisasi,” ujarnya.
Selanjutnya, KH Tafsir menjelaskan arti Tanwir secara kebahasaan. Kata ‘Tanwir’ berakar dari bahasa Arab, yakni nawwara, yunawwiru, dan tanwīran. Akar kata tersebut berarti memberi cahaya atau menerangi. Oleh sebab itu, Tanwir Nasyiatul Aisyiyah mutlak harus menjadi sebuah proses pencerahan sejati.
“Tanwir adalah ruang untuk menghadirkan pencerahan pemikiran, memperkuat nilai-nilai, memperdalam visi, serta meneguhkan arah perjuangan organisasi,” ujar KH Tafsir.
Dengan demikian, musyawarah ini memiliki beban strategis. Forum ini harus memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
Mengubah Pencerahan Menjadi Dampak Nyata
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA), Ariati Dina Puspitasari, merespons positif gagasan pencerahan tersebut. Ia memastikan para kader perempuan muda siap mengimplementasikan nilai-nilai pencerahan ini. Selain itu, mereka berkomitmen mengubah energi musyawarah menjadi dampak sosial.
“Pada Tanwir III ini, kami berusaha mengkristalisasi nilai-nilai serta berbagai ikhtiar yang telah dilakukan Nasyiatul Aisyiyah,” ujar Ariati.
Ia menambahkan bahwa musyawarah ini menjadi ruang pembuktian kekuatan organisasi. Lebih lanjut, ia mengingatkan para kader tentang tujuan luhur pergerakan perempuan Islam.
“Energi itu harus diwujudkan menjadi dampak,” ujar Ariati.
Akhirnya, seluruh rangkaian musyawarah ini memikul satu harapan besar. Organisasi ini harus terus memperkokoh peran perempuan dalam mencerahkan peradaban berkelanjutan.
Editor: Al-Afasy



