Mahasiswa Asing BIPA UMS dari 15 Negara Antusias Praktik Bahasa Indonesia di Desa Klaten
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Pembelajaran bahasa kini makin interaktif melampaui dinding ruang kelas. Sebanyak 25 mahasiswa asing BIPA UMS membuktikan hal tersebut secara langsung. Mereka datang dari 15 negara untuk mengikuti program Imersi Bahasa dan Budaya di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Para mahasiswa internasional ini antusias berinteraksi dengan guru dan siswa di enam sekolah setempat.
Rombongan mahasiswa asing BIPA UMS ini mewakili berbagai negara seperti Palestina, India, hingga Uganda. Panitia menyebar mereka ke enam sekolah berbeda di kawasan Bayat untuk mempercepat adaptasi. Sekolah tujuan tersebut meliputi MIM Krakitan, MTs Krakitan, MIM Paseban, MIM Talang, SDMPK Bayat, dan SMP Muhammadiyah 7 Bayat. Kehadiran mereka sukses mengubah suasana sekolah menjadi jauh lebih hidup.
Antusiasme Tinggi Mengenal Budaya Lokal
Setiap peserta aktif memperkenalkan diri di hadapan para siswa lokal. Mereka juga membagikan cerita-cerita menarik mengenai negara asal mereka. Guru dan siswa menyambut kehadiran ekspatriat ini dengan suasana hangat. Rasa ingin tahu siswa lokal berpadu sempurna dengan semangat mahasiswa asing dalam belajar bahasa Indonesia.
Suasana makin semarak saat peserta mengikuti berbagai permainan tradisional bersama warga sekolah. Gelak tawa memecah halaman sekolah tanpa terhalang sekat perbedaan bahasa. Aktivitas bermain ini menghadirkan pengalaman belajar yang sangat berharga. Permainan lokal sukses menjadi media komunikasi ampuh yang merekatkan hubungan antarmanusia beda benua.
Aya Abusidu, seorang peserta asal Palestina, membagikan kesan positifnya. Ia merasa mendapatkan pengalaman belajar bahasa yang jauh lebih segar di lapangan. Ia menilai metode turun ke masyarakat ini sangat efektif dan menyenangkan.
“Belajar bersama adik-adik di sekolah sangat membahagiakan,” ujar Aya pada Senin (3/8/2026). Ia mengaku lebih lancar berbicara dan mengenal budaya Indonesia berkat keramahan warga. Ia bahkan merasa betah layaknya berada di rumah sendiri.
Pertukaran Budaya dan Praktik Membatik
Program unggulan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta ini turut membuka wawasan siswa lokal. Pelajar sekolah dasar hingga menengah berkesempatan berdialog langsung dengan warga negara asing. Interaksi dua arah ini memperluas wawasan generasi muda Klaten. Anak-anak sekaligus memupuk sikap menghargai keberagaman budaya global sejak usia dini.
Agus Wibawanta selaku tokoh pendamping masyarakat Bayat mengapresiasi terobosan ini. Ia menilai langkah mahasiswa asing BIPA UMS turun ke desa membawa manfaat ganda. Warga lokal mendapat pengalaman berharga, sementara pendatang asing makin mahir berbahasa.
“Anak-anak kini lebih berani berkomunikasi dengan orang asing,” tutur Agus. Menurutnya, pertemuan langsung ini sukses menjembatani persahabatan antarnegara. Warga Bayat juga dengan senang hati mendampingi para peserta.
Koordinator Program BIPA UMS, Dini Restiyanti Pratiwi, turut membeberkan konsep acara. Ia merancang kegiatan imersi ini untuk memadukan penguasaan bahasa dengan praktik budaya lapangan. “Peserta tidak sekadar menghafal kosakata dan tata bahasa di kelas,” tegas Dini. Mahasiswa juga langsung mempraktikkan kalimat kontekstual dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Rangkaian Imersi Bahasa dan Budaya ini masih akan terus berlanjut. Panitia menjadwalkan praktik membatik dan membuat kerajinan gerabah untuk para peserta. Rombongan akan mengunjungi sejumlah perajin terampil di kawasan Bayat. Mereka siap mendalami makna filosofis warisan Nusantara yang bernilai tinggi ini.
Program imersi ini menegaskan komitmen institusi dalam menghadirkan pembelajaran yang aplikatif. Kehadiran mahasiswa asing BIPA UMS sukses membangun ruang dialog lintas budaya yang harmonis. Langkah inovatif ini sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



