UMS Gelar FGD Strategis: Penguatan Profil Guru PAI dan Kurikulum Adaptif Hadapi Tantangan Pendidikan Modern
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil langkah progresif lewat penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD). Agenda ini merumuskan peningkatan mutu guru PAI sekaligus menyusun kurikulum PAI selaras dengan perkembangan zaman.
Diskusi mendalam itu berlangsung di Ruang Sidang FAI UMS Lantai I pada Rabu, 22 Juli 2026. Acara tersebut mempertemukan kalangan akademisi, praktisi pendidikan, serta para guru PAI guna membedah problem kompetensi pengajar dan efektivitas kurikulum di sekolah.
Mohammad Zakki Azani, S.Th.I., M.Ed., Ph.D., selaku Ketua Program Studi PAI FAI UMS, menegaskan bahwa kemajuan kualitas guru PAI menuntut kolaborasi lintas sektoral. Sinergi kuat antara kampus, sekolah, pemerintah, serta organisasi profesi menjadi kunci utamanya.
Selain itu, ia menilai bahwa tenaga pendidik memegang peranan krusial dalam membentuk karakter peserta didik. Oleh sebab itu, setiap pengajar wajib menguasai keilmuan agama sekaligus mengasah kemampuan pedagogik, literasi digital, serta inovasi pembelajaran.
“Pendidik harus mampu menjawab kebutuhan generasi saat ini. Penguatan keilmuan agama perlu berjalan bersama dengan kemampuan adaptasi terhadap perubahan pendidikan dan perkembangan teknologi,” ujar Zakki pada Senin, 3 Agustus 2026.
Sinergi Teknologi dan Karakter Peserta Didik
Dalam sesi pemantik, Dr. Istanto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa tantangan pendidikan agama Islam berfokus pada penguatan akhlak serta aqidah siswa. Menurutnya, guru PAI memerlukan kreativitas tinggi dan komunikasi efektif agar kontribusinya dirasakan langsung.
Di sisi lain, Sutomo, M.Ag., selaku Ketua FGM Pusat, menyoroti eksistensi pendidik di tengah gempuran media digital. Ia mengimbau para guru agar menyajikan metode pembelajaran kreatif supaya tidak kalah menarik dari konten media sosial.
Selanjutnya, Agus Susilo Susanto, M.Pd., dari Kemenag Kabupaten Sukoharjo sekaligus Sekretaris Majelis Tarjih Muhammadiyah, menyoroti aspek kesejahteraan serta profesionalitas guru PAI. Ia memaparkan bahwa sebagian tenaga pendidik menghadapi kendala administratif, pendataan SIAGA, hingga keterbatasan akses PPG PAI.
Menutup rangkaian acara, Waluyo, M.Pd., membagikan pengalaman nyata seputar dinamika mengajar di lapangan. Melalui forum ini, seluruh peserta sepakat mendorong inovasi pembelajaran PAI yang lebih adaptif, solutif, serta berdaya saing global.
Kontributor: Fika
Editor: Al-Afasy



