Kolom

Pelajaran dari Lapangan Hijau: Apa Hubungan Final Piala Dunia 2026 dan Strategi Dakwah Muhammadiyah?

Oleh: Bambang Wen (Ketua PDM Wonosobo)

PWMJATENG.COMSepak bola bukan sekadar olahraga 90 menit di atas rumput hijau. Di balik riuh tepuk tangan penonton dan adu taktik di lapangan, ada pelajaran hidup mendalam yang sangat relevan dengan cara kita mengelola persyarikatan Muhammadiyah.

Euforia yang baru saja kita rasakan—mulai dari kemeriahan PDM Wonosobo Cup 2026 hingga laga pamungkas Final Piala Dunia FIFA 2026 kemarin—bukan hanya soal siapa yang mengangkat piala. Oleh karena itu, momen ini menjadi pengingat penting bahwa mengelola dakwah Muhammadiyah sejatinya mirip dengan mengelola sebuah tim sepak bola profesional.

Lantas, apa saja pelajaran berharga dari lapangan hijau untuk gerakan dakwah kita?

1. Kerja Tim Meraih Kemenangan, Bukan Dominasi Satu Bintang

Pemain sehebat Lionel Messi sekalipun tidak akan bisa meraih kemenangan tanpa dukungan 10 rekan di lapangannya.

Prinsip yang sama juga berlaku di persyarikatan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) tidak akan berdiri kokoh jika Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) pasif. Selain itu, PCM tidak akan bernapas jika Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) mati suri. Hasilnya, seluruh elemen—mulai dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Organisasi Otonom (Ortom), hingga Majelis—harus saling “mengumpan” dan menopang satu sama lain.

Dengan demikian, jangan ada pengurus yang merasa paling penting atau ingin tampil menonjol sendirian. Sebab, kita baru bisa mencetak gol kemenangan dakwah ketika semua elemen bergerak harmonis ke arah yang sama: memajukan dakwah Islam berkemajuan.

2. Tim Hebat Harus Punya Game Plan dan Strategi Jelas

Di dunia sepak bola, tim yang bertanding tanpa strategi matang pasti akan mengalami kekalahan. Muhammadiyah pun membutuhkan game plan yang terukur.

Kita harus mengeksekusi visi lima tahunan, program kerja nyata, pemenuhan Key Performance Indicator (KPI) di tingkat PDM, PCM, hingga PRM, target raihan CRM Award, serta penguatan ranting.

Oleh sebab itu, kita perlu merumuskan bersama: Apakah tahun ini kita akan tampil menyerang atau bertahan? Ke mana arah umpan-umpan dakwah kita berlabuh?

Sebab, ketika kita merancang strategi dengan jelas, setiap personel akan paham betul posisinya:

  • Striker: Sektor pendidikan dan kesehatan yang berani melakukan terobosan.

  • Bek: Sektor sosial dan pemberdayaan masyarakat yang menjaga ketahanan warga.

  • Kiper: Elemen yang kokoh menjaga marwah serta ideologi persyarikatan.

3. Disiplin Adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Umat

Terlambat satu detik di area penalti bisa berbuah gol bagi lawan. Begitu pula ketika pemain melanggar regulasi, wasit akan memberi hukuman kartu kuning atau merah.

Dalam mengarungi persyarikatan, kita mewujudkan disiplin tersebut secara nyata: hadir rapat tepat waktu, menyajikan laporan keuangan yang transparan, menuntaskan amanah organisasi, serta mematuhi SK dan kaidah organisasi.

Kedisiplinan konsisten dalam hal-hal kecil inilah yang membangun trust atau kepercayaan masyarakat. Hasilnya, Muhammadiyah hadir sebagai teladan konkret di tengah umat, bukan sekadar penonton yang jago berwacana.

4. Sportivitas: Menang Tetap Rendah Hati, Beda Pendapat Tetap Bersaudara

Begitu peluit panjang berbunyi, seluruh pemain langsung berjabatan tangan. Akibatnya, perdebatan di lapangan selesai seketika tanpa menyisakan dendam.

Musyawarah di Muhammadiyah pun hendaknya demikian. Kita boleh berargumen dan berbeda pandangan saat berdiskusi. Namun, setelah kita menetapkan keputusan resmi, kita wajib kembali melangkah rapat dalam satu barisan.

Jangan sampai perbedaan pilihan atau dinamika musyawarah memberi “kartu merah” bagi ukhuwah kita. Padahal, lawan sejati Muhammadiyah bukanlah sesama warga persyarikatan, melainkan kebodohan, kemiskinan, dan kemunduran umat.

5. Latihan Rutin Menempa Juara Sejati, Bukan Secara Instan

Tidak ada tim juara dunia yang lahir dalam semalam. Sebaliknya, latihan disiplin setiap sore di lapangan rumput selalu menjadi akar dari prestasi besar.

Ranting Muhammadiyah yang tangguh juga lahir dari pola serupa. Kita tidak membangunnya dari satu acara seremonial yang megah, melainkan dari pengajian rutin yang konsisten, keberlanjutan TPQ, geliat kegiatan pemuda, serta tradisi memakmurkan masjid setiap pekan.

Sambil menyongsong CRM Award VII 2026 yang mengusung tema “Menggerakkan Kaum Muda, Menggiatkan Jamaah”, mari kita jadikan momentum ini untuk terus “berlatih” di tingkat ranting, cabang, hingga AUM. Mari kita hidupkan jamaah dan memberi ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk memimpin.

Penutup: Mencetak “Gol” untuk Kemajuan Umat

Dalam permainan sepak bola, seluruh taktik bermuara pada satu tujuan: mencetak gol. Bagi Muhammadiyah, “gol” tertinggi kita adalah terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Jika 11 pemain di lapangan mampu menyatukan ego demi terciptanya satu gol kemenangan, maka kita yang terikat dalam satu akidah dan satu gerakan dakwah seharusnya bisa jauh lebih solid untuk memajukan persyarikatan.

Oleh karena itu, mari terus bermain sebagai satu tim yang utuh. Sebab, kita tidak sedang bertanding satu sama lain—kita sedang berjuang bersama demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/