Pintar Saja Tidak Cukup, Kader IMM Universitas Muhammadiyah Purwokerto Wajib Punya 3 Nalar Kunci Ini!
PWMJATENG.COM, BANYUMAS — Karakter mahasiswa ideal tidak boleh hanya unggul secara akademis tetapi harus memiliki ketajaman nalar teologis, filosofis, dan etis. Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam kegiatan One Day Week Kader (ODWK) yang digelar PK IMM Buya Hamka Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) di Curug Lawa, Sumbang, Minggu (21/6).
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Buya Hamka Universitas Muhammadiyah Purwokerto sukses menggelar One Day Week Kader (ODWK) di Curug Lawa, Sumbang, Banyumas. Rangkaian kegiatan luar ruangan ini menjadi ruang rekreasi sekaligus penguatan ingatan kolektif terhadap fondasi keorganisasian. Langkah taktis ini sengaja dirancang untuk mendobrak stigma bahwa kaderisasi mahasiswa selalu kaku dan menegangkan.
Membentuk Cendekiawan Berpribadi
Penanggung Jawab Acara, Ilyas Fachriansyah, mengingatkan pentingnya menjaga identitas gerakan di tengah gempuran perubahan zaman. Mahasiswa masa kini menghadapi tantangan moral yang besar, sehingga kecerdasan akademis saja tidak lagi cukup. Kader IMM harus mampu memadukan antara ketajaman intelektual dan keluhuran akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita ingat kembali mars IMM yang menyebutkan ‘Kitalah cendekiawan berpribadi’. Ini bukan sekadar slogan, ini adalah identitas khas yang membedakan IMM dari gerakan mahasiswa lainnya. Seorang kader IMM tidak boleh hanya pintar, tapi akhlaknya kurang. Juga tidak boleh hanya rajin ibadah, tapi otaknya tumpul,” ujar Ilyas Fachriansyah.
Ilyas Fachriansyah kemudian merinci tiga nalar kunci yang wajib hidup dalam jiwa setiap aktivis kampus. Tiga fondasi tersebut meliputi nalar teologis sebagai bangunan spiritualitas, nalar filosofis-keilmuan untuk ketajaman visi ilmiah, serta nalar etis dalam menjunjung prinsip moral. Internalisasi nalar ini menjadi modal utama untuk melahirkan karakter mahasiswa yang progresif dan berdampak luas.
“Ada tiga nalar yang harus hidup dalam diri setiap kader: pertama nalar teologis, bangunan spiritualitas yang kokoh. Kedua nalar filosofis-keilmuan, visi keilmuan yang tajam dan semangat belajar yang tinggi. Ketiga nalar etis, menjunjung tinggi prinsip moral dan etik dalam setiap tindakan. Tiga nalar ini bukan sekadar teori, tapi harus menjadi praktik sehari-hari,” tegas Ilyas Fachriansyah.
Estafet Kepemimpinan Angkatan 2024
Sesi diskusi hangat di area air terjun tersebut juga menjadi momentum krusial untuk membahas masa depan organisasi. Manajemen kaderisasi yang matang menjadi kunci utama agar roda gerakan mahasiswa tetap berjalan konsisten. Oleh karena itu, persiapan matang sejak dini menjadi harga mati demi menjaga keberlanjutan kepemimpinan.
Ketua Umum PK IMM Buya Hamka, Haidar Abdussalam, menegaskan bahwa tongkat estafet perjuangan akan segera berpindah. Pihaknya sengaja mempersiapkan pimpinan dari angkatan 2024 untuk memegang kendali kepengurusan pada periode mendatang. Kehadiran generasi baru ini membawa harapan besar bagi kemajuan gerakan di lingkungan kampus.
“Kalian adalah penerus estafet perjuangan. Periode depan ada di tangan kalian, maka persiapkan diri dengan baik. Tunjukkan bahwa kader angkaan 2024 siap membawa IMM Buya Hamka ke arah yang lebih maju,” pesan Haidar Abdussalam di hadapan seluruh peserta.
Kaderisasi Kreatif di Curug Lawa
Model perkaderan pendukung ini berhasil memadukan unsur fisik, materi keilmuan, dan penyegaran mental secara seimbang. PK IMM Buya Hamka Universitas Muhammadiyah Purwokerto membuktikan bahwa penguatan karakter dapat berjalan efektif melalui suasana yang menyenangkan. Inovasi ini sekaligus menjadi jawaban atas kejenuhan mahasiswa terhadap aktivitas formal kampus.
Melalui kolaborasi Bidang Kaderisasi serta Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO), suasana akrab langsung terbangun sejak senam pagi. Permainan kelompok di alam terbuka juga sukses menyegarkan ingatan para kader terhadap materi Darul Arqam Dasar (DAD). Pada akhirnya, kegiatan ODWK ini sukses melahirkan komitmen bersama untuk membawa kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Kontributor: Ilyas Fachri
Editor: Alafasy



