Benarkah Puisi Pertama di Dunia Lahir dari Tangisan Nabi Adam atas Kematian Habil?
Oleh: Heri Isnaini
PWMJATENG.COM, Jika syair yang dinisbatkan kepada Nabi Adam ini benar-benar pernah diucapkan, maka mungkin inilah salah satu puisi paling tua yang pernah dikenal manusia. Bukan puisi cinta. Bukan puisi kepahlawanan. Bukan pula puisi pujian. Melainkan ratapan seorang ayah yang kehilangan anaknya. Mungkin puisi lahir bukan ketika manusia pertama kali jatuh cinta. Mungkin puisi lahir ketika manusia pertama kali kehilangan sesuatu yang dicintainya.
تَغَيَّرَتِ الْبِلادُ وَمَنْ عَلَيْهَا فَوَجْهُ الْأَرْضِ مُغْبَرٌّ قَبِيحُ
“Negeri dan seluruh penghuninya telah berubah, Wajah bumi kini kusam dan muram.”
Sebelum ada sajak tentang bunga, sebelum ada nyanyian tentang kemenangan, sebelum ada pujian kepada para raja, barangkali yang terlebih dahulu hadir adalah tangisan. Sebab manusia mengenal duka jauh lebih awal daripada mengenal sastra. Dan ketika duka itu tidak lagi mampu ditampung oleh air mata, lahirlah kata-kata.
Jika dugaan itu benar, maka salah satu puisi pertama manusia mungkin bukanlah puisi cinta, melainkan elegi. Kisah yang sering dikaitkan dengan gagasan tersebut adalah kisah Habil dan Qabil, dua putra Nabi Adam. Kisah ini bukan hanya hidup dalam satu tradisi keagamaan. Ia melintasi agama, peradaban, dan zaman.
Tragedi Kemanusiaan dalam Lintas Kitab Suci
Dalam Al-Qur’an, kisah tersebut diabadikan dalam Surat Al-Ma’idah ayat 27–31. Dikisahkan bahwa kedua putra Adam mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil ditolak. Penolakan itu melahirkan kecemburuan. Kecemburuan berubah menjadi kebencian. Dan kebencian akhirnya menjelma menjadi pembunuhan. Habil menjadi manusia pertama yang kehilangan nyawa akibat tangan sesamanya.
Kisah yang hampir serupa juga ditemukan dalam Bibel, tepatnya pada Kitab Kejadian (Genesis) pasal 4 ayat 1–16. Dalam narasi tersebut, Kain (Cain) membunuh Habel (Abel) karena iri hati setelah persembahan saudaranya diterima oleh Tuhan. Setelah peristiwa itu, Kain dihukum menjalani kehidupan sebagai pengembara.
Menariknya, baik Al-Qur’an maupun Bibel tidak hanya berbicara tentang pembunuhan. Keduanya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih tua dan lebih dekat dengan kehidupan manusia, yaitu kecemburuan, kehilangan, rasa bersalah, dan rapuhnya hubungan antarmanusia. Sebelum ada peperangan besar, sebelum ada perebutan kekuasaan, sebelum ada tragedi-tragedi sejarah, narasi kemanusiaan ternyata dimulai oleh konflik dalam sebuah keluarga.
Di sinilah kisah itu menjadi begitu menyentuh. Bayangkan Adam. Manusia pertama. Ayah pertama. Ia bukan hanya menyaksikan kematian anaknya. Ia juga menyaksikan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan: anaknya dibunuh oleh saudaranya sendiri.
Kontroversi Historis dan Syair Ratapan Lengkap Nabi Adam
Dalam sejumlah riwayat yang berkembang dalam tradisi Islam, kesedihan Adam kemudian diabadikan dalam sebuah syair ratapan. Para ulama berbeda pendapat mengenai keaslian riwayat tersebut. Sebagian menganggapnya sebagai bagian dari tradisi kisah para nabi yang berkembang kemudian. Namun, terlepas dari persoalan historisnya, syair itu tetap menarik karena memperlihatkan bagaimana generasi-generasi sesudah Adam membayangkan kesedihan pertama manusia.
Syair lengkap yang dinisbatkan kepada Nabi Adam tersebut berbunyi sebagai berikut:
تَغَيَّرَتِ الْبِلادُ وَمَنْ عَلَيْهَا فَوَجْهُ الْأَرْضِ مُغْبَرٌّ قَبِيحُ
تَغَيَّرَ كُلُّ ذِي طَعْمٍ وَلَوْنٍ وَقَلَّ بَشَاشَةُ الْوَجْهِ الْمَلِيحِ
وَبُدِّلَ أَهْلُهَا أَثْلًا وَخَمْطًا بِجَنَّاتٍ مِنَ الْفِرْدَوْسِ فِيحِ
وَجَاوَرَنَا عَدُوٌّ لَيْسَ يَفْنَى لَعِينٌ مَا لَهُ مِنْهُ بُرُوحُ
قُتِلَ هَابِيلُ مِنْ قَابِيلَ ظُلْمًا فَوَا أَسَفًا عَلَى الْوَجْهِ الصَّبِيحِ
فَمَا لِي لَا أَجُودُ بِسَكْبِ دَمْعٍ وَهَابِيلٌ تَضَمَّنَهُ الضَّرِيحُ
أَرَى طُولَ الْحَيَاةِ عَلَيَّ غَمًّا وَمَا أَنَا فِي الْحَيَاةِ بِمُسْتَرِيحِ
Dalam terjemahan bebas, syair itu dapat dipahami sebagai ratapan yang mengatakan bahwa dunia telah berubah sejak kematian Habil. Wajah bumi menjadi muram. Segala rasa kehilangan kemanisannya. Kehidupan tidak lagi menghadirkan ketenteraman seperti sebelumnya. Yang paling menyentuh tentu pengakuan seorang ayah yang tidak lagi mampu menahan air mata karena anak yang dicintainya telah berbaring di liang kubur.
Kehilangan sebagai Pengalaman Purba Manusia
Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah Adam mengucapkan kata-kata itu. Namun mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah syair tersebut otentik atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah, “Mengapa para pendongeng, ulama, dan penulis kisah para nabi membayangkan bahwa puisi pertama manusia adalah ratapan?” Jawabannya mungkin karena kehilangan merupakan pengalaman paling purba yang dimiliki manusia.
Sejak pertama kali diturunkan ke bumi, Adam sesungguhnya telah hidup dalam sejarah kehilangan. Ia kehilangan surga. Ia kehilangan kehidupan yang tanpa kesedihan. Ia kehilangan kedekatan yang sempurna dengan Tuhannya. Dan kemudian ia kehilangan anaknya.
Sejak awal, sejarah manusia tampaknya memang ditulis oleh perpisahan demi perpisahan. Mungkin karena itulah puisi selalu memiliki hubungan yang akrab dengan duka. Ketika seseorang berbahagia, ia sering kali cukup tersenyum. Namun ketika seseorang kehilangan, bahasa sehari-hari terasa tidak lagi memadai. Ada sesuatu yang terlalu besar untuk menjelaskan dengan kata-kata biasa. Pada saat itulah puisi hadir.
Puisi adalah bahasa yang lahir ketika bahasa biasa tidak lagi sanggup menanggung beban perasaan manusia. Tidak mengherankan jika dalam banyak kebudayaan, bentuk puisi tertua justru berupa ratapan.
Bangsa Yunani mengenal elegi sebagai puisi duka. Bangsa Arab mengenal ritha’, tradisi puisi ratapan yang sangat tua. Berbagai masyarakat Nusantara memiliki kidung kematian, tembang perpisahan, dan nyanyian kehilangan. Seolah-olah umat manusia yang dipisahkan oleh lautan, bahasa, dan sejarah yang berbeda sepakat mengenai satu hal bahwa sastra lahir dari luka.
Bahkan hingga hari ini, sebagian puisi terbaik di dunia masih berakar pada kehilangan. Kita menemukannya dalam elegi-elegi kuno. Kita menemukannya dalam nyanyian rakyat. Kita menemukannya dalam surat-surat yang tidak pernah dikirim. Kita menemukannya dalam puisi-puisi modern yang berbicara tentang kematian, kerinduan, atau kenangan yang terus hidup setelah seseorang pergi.
Barangkali manusia menjadi penyair bukan karena ia pandai merangkai kata, melainkan manusia menjadi penyair karena ia pernah kehilangan sesuatu. Sebab kehilangan menciptakan ruang kosong. Dan puisi adalah usaha untuk mengisi ruang kosong itu dengan bahasa.
Jika Adam adalah manusia pertama, maka kehilangan Habil adalah duka pertama. Dan jika benar puisi lahir dari kehilangan, maka elegi adalah bahasa pertama yang digunakan manusia untuk berdamai dengan luka.
Maka kita dapat membayangkan sebuah pemandangan yang sangat sunyi pada awal sejarah manusia. Seorang ayah berdiri di hadapan makam anaknya. Tidak ada teori sastra. Tidak ada buku puisi. Tidak ada sekolah kepenyairan. Hanya ada kesedihan. Lalu dari kesedihan itu lahirlah kata-kata. Dan mungkin, dari sanalah puisi pertama manusia bermula.
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lahir di Subang pada 17 Juni, ia memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor aktif untuk media RNSI dan Literatura Nusantara.
Editor: Alafasy



