Rahasia Sukses Mahasiswa UMS Jinakkan Sapi Bali: Ini Cara Menenangkan Hewan Kurban
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Langkah taktis dan cara menenangkan hewan kurban berkarakter aktif seperti Sapi Bali diperagakan secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam pelaksanaan ibadah kurban di Kampus 2 UMS, Kamis (28/5).
Dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP dan Ilmu Komunikasi UMS, Muhammad Faris Abid Muwaffaq serta Rifat Akhtar Rajwa, membagikan resep khusus tersebut. Mereka tidak sekadar menjadi panitia musiman. Keduanya merupakan eksekutor bersertifikat yang memahami betul psikologi hewan sebelum proses penyembelihan.
Faris menceritakan bahwa perlakuan kasih sayang menjadi kunci utama dalam mempraktikkan cara menenangkan hewan kurban. Sapi yang stres akan menghasilkan daging yang tegang dan kurang berkualitas. Oleh karena itu, panitia harus membangun kedekatan emosional terlebih dahulu dengan hewan tersebut.
“Sapi yang datang sebelum hari penyembelihan diberi makan, minum, diajak berinteraksi, bahkan disikat agar lebih rileks,” ungkap Faris saat menjelaskan teknis persiapan di Lapangan Timur Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS.
Tips Menyembelih Sapi Berkarakter Aktif
Menurut Faris, setiap jenis hewan memiliki karakteristik psikologis yang berbeda. Panitia kurban harus jeli melihat respons visual dari hewan tersebut. Langkah ini sangat krusial dalam menerapkan cara menenangkan hewan kurban secara efektif di lapangan.
“Tantangan terbesar biasanya muncul dari karakter dan jenis sapi. Sapi jenis Bali menjadi yang paling menantang karena karakternya lebih aktif dibanding sapi lainnya,” tambah mahasiswa semester 6 tersebut.
Meskipun demikian, Faris menegaskan bahwa proses eksekusi akan berlangsung sangat cepat jika panitia berhasil menerapkan tips menyembelih sapi dengan benar. Persiapan yang matang terbukti memangkas waktu jagal secara signifikan. Sebaliknya, proses pasca-penyembelihan seperti pengulitan dan pemotongan daging justru membutuhkan durasi yang jauh lebih lama.
Edukasi Kurban dan Kesejahteraan Hewan
Rifat Akhtar Rajwa menilai bahwa pengalaman langsung di kampus ini memberikan edukasi yang sangat berharga. Mahasiswa belajar mengintegrasikan nilai syariat Islam dengan konsep kesejahteraan hewan kurban modern. Ilmu terapan ini menjadi modal penting sebelum mereka terjun langsung ke tengah masyarakat.
“Setiap lini kegiatan di kepanitiaan ini sifatnya edukatif. Dari bagaimana memperlakukan hewan dengan baik sebelum disembelih, teknis penyembelihan, sampai pasca penyembelihan,” jelas Rifat.
Nilai edukasi inilah yang menjadi pembeda utama dalam pelaksanaan kurban idul adha di universitas muhammadiyah surakarta. Kampus menyulap area penyembelihan menjadi ruang belajar yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika.
Menjaga Kualitas Daging Sesuai Syariat
Pada akhir sesi, Faris kembali mengingatkan bahwa penyembelihan halal bukan sekadar urusan keterampilan teknis semata. Sapi yang tenang tidak hanya memudahkan petugas, tetapi juga menjaga marwah ibadah itu sendiri. Sisi spiritual dan ketepatan prosedur syariat harus berjalan beriringan. Hal ini menjadi esensi utama dari seluruh rangkaian cara menenangkan hewan kurban.
Penyembelih wajib meniatkan ibadah murni karena Allah SWT. Proses tersebut harus diawali dengan ikrar, menyebut nama Allah, serta memastikan saluran utama pada leher hewan terputus dengan sempurna. Melalui standardisasi ini, pihak kampus berharap dapat melahirkan budaya penyembelihan yang sah sekaligus memenuhi nilai ihsan.
Kontributor : Yusuf
Editor: Al-Afasy



