Idul Adha 2026: Dai MUI Pusat Ingatkan Umat Jangan Timbun Harta di Tengah Krisis Global
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, mengingatkan umat Islam untuk mengikis egoisme dan tidak menimbun harta di tengah ketidakpastian dunia. Beliau menyampaikan pesan penegasan tersebut saat berkhotbah dalam salat Idul Adha 2026 di Masjid Al-Ikhlas Kadipiro, Banjarsari, Kota Surakarta, pada Rabu (27/5/2026).
Ustaz Dwi Jatmiko menegaskan bahwa esensi ibadah kurban tahun ini menjadi panggilan nyata bagi umat Islam. Terutama dalam memperkuat ketaatan, pengorbanan, dan solidaritas sosial. Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi ujian berat yang datang bertubi-tubi.
“Dunia saat ini sedang diuji dengan ketidakpastian mulai dari krisis ekonomi, konflik kemanusiaan, hingga bencana alam,” ujar Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut.
Meskipun situasi terasa berat, Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo ini meminta masyarakat untuk tetap bersikap optimistis. Beliau lalu mengaitkan kondisi tersebut dengan pesan mendalam di dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 155.
“Namun, ujian tersebut sejatinya bukan bertujuan menghancurkan, melainkan sarana meninggikan derajat kaum Muslimin yang bersabar,” tambah Ustaz Dwi Jatmiko di hadapan ratusan jemaah.
Mengikis Egoisme di Tengah Krisis Ekonomi
Melalui momentum Idul Adha 2026, umat Islam harus merenungi kembali kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketaatan total tanpa syarat dari kedua tokoh tersebut menjadi cerminan berharga bagi kehidupan modern. Pasalnya, manusia hari ini kerap menunda ketaatan kepada Allah SWT karena terlalu sibuk mempertimbangkan urusan duniawi.
Lebih lanjut, syariat kurban sejatinya mendidik umat Islam untuk mengikis egoisme pribadi. Hakikat ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan dan menumpahkan darahnya. Sebaliknya, esensi utamanya adalah menggapai ketakwaan serta keikhlasan dalam melepaskan apa yang dicintai.
Ustaz Dwi Jatmiko juga memberikan kritik sosial yang tajam terkait perilaku ekonomi masyarakat saat ini. Beliau mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencari keuntungan sepihak di atas penderitaan orang lain.
“Di tengah situasi sulit, sikap egois seperti menimbun harta atau memanfaatkan penderitaan orang lain hanya akan memperparah krisis kemানুsiaan,” bebernya secara tegas.
Mengalirkan Kebaikan Melalui Solidaritas Sosial
Oleh karena itu, masyarakat harus menghadirkan semangat kepedulian sosial secara nyata. Pembagian daging kurban menjadi instrumen penting untuk mengalirkan kebahagiaan kepada sesama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.
Sesuai tuntunan Rasulullah SAW, umat Islam adalah satu tubuh yang saling merasakan penderitaan satu sama lain. Kekuatan hakiki umat tidak diukur dari melimpahnya harta kekayaan, melainkan dari kokohnya rasa peduli.
“Setiap potongan daging yang dibagikan memuat pesan cinta dan harapan yang menguatkan ukhuwah Islamiyah,” ungkap Ustaz Dwi Jatmiko. Beliau berharap spirit Idul Adha mampu membawa umat melewati ujian zaman dan meraih keberkahan hidup.
Senada dengan pesan spiritual tersebut, aksi nyata langsung terlihat di lapangan melalui peran aktif panitia kurban lokal. Panitia Masjid Al-Ikhlas Bayan Krajan RT 4 RW 15, Kadipiro, Banjarsari, Kota Surakarta, menyembelih sebanyak 5 ekor sapi dan 2 ekor kambing.
Ketua Panitia Kurban Masjid Al-Ikhlas, Ade Usman, menjelaskan bahwa pihaknya langsung mendistribusikan seluruh daging kurban kepada warga jamaah sekitar RW 15. Distribusi tersebut menjangkau wilayah RT 3, RT 4, RT 5, dan RT 6, dengan memprioritaskan warga fakir miskin serta masyarakat yang tidak mampu.
“Semoga kurban ini dapat membersihkan jiwa, membunuh sifat kebinatangan, menebas rasa keegoisan, dan memupus sekat-sekat sosial,” pungkas Ade Usman.
Kontributor : Dwi Jatmiko
Editor: Al-Afasy



