Aktivitas Siang-Malam Berbeda, DPRD Surakarta Akui Pengelolaan Sampah Solo Jadi Tantangan Berat
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Ketua DPRD Surakarta Budi Prasetyo mengakui lonjakan aktivitas ekonomi kaum urban membuat tata kelola lingkungan semakin menantang, terutama terkait pengelolaan sampah solo yang kian membeludak akibat tingginya jumlah pendatang. Masalah pelik perkotaan tersebut mencuat di sela-sela Stadium General DAMNas IMM yang berlangsung di Gedung PDM Surakarta, Rabu (20/5/2026).
Dinamika urban di Kota Bengawan kini semakin kompleks. Pertumbuhan aktivitas ekonomi yang pesat memicu tingginya mobilitas warga serta lonjakan jumlah pendatang dari luar daerah. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah harian yang membebani sudut-sudut kota.
Ketua DPRD Surakarta, Budi Prasetyo, membenarkan situasi krusial ini. Pihaknya mengakui bahwa lonjakan aktivitas masyarakat menjadi tantangan berat bagi sistem sanitasi dan lingkungan kota. Fenomena tersebut terlihat jelas dari perubahan ritme harian wilayah Surakarta belakangan ini.
“Hari ini aktivitas Kota Surakarta siang dan malam sangat berbeda. Itu menandakan banyak masyarakat luar kota yang menjalankan aktivitas ekonominya di sini,” ujar Budi Prasetyo saat memaparkan materi dalam Stadium General DAMNas IMM Surakarta di Gedung PDM Surakarta, Rabu (20/5/2026).
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi
Padatnya aktivitas urban tersebut langsung berdampak pada pengelolaan sampah solo yang kian kewalahan. Menanggapi persoalan lingkungan di kota surakarta ini, jajaran legislatif menegaskan tidak tinggal diam. DPRD Surakarta mengaku terus menerima keluhan dan aspirasi dari berbagai perwakilan masyarakat yang peduli pada kebersihan kota.
Pemerintah daerah bersama legislatif kini tengah merumuskan strategi penanganan jangka panjang. Fokus utamanya tidak lagi sekadar membuang limbah, melainkan menciptakan sistem daur ulang yang produktif di tingkat hilir.
“Pengelolaan sampah tentu menjadi tantangan bagi kami, namun kami terus berusaha mencari solusi terbaik. Salah satunya bagaimana sampah dapat didaur ulang sehingga memiliki nilai manfaat dan menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” jelas Budi Prasetyo menambahkan.
Kritik Mahasiswa Terhadap Kebijakan Publik Solo
Di sisi lain, kalangan akademisi mengingatkan agar modernisasi kota tidak mengorbankan aspek sosial. Pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi yang pesat dinilai tidak akan berarti jika masalah lingkungan di kota surakarta terabaikan. Kaum muda, khususnya mahasiswa, diminta aktif mengawal arah kebijakan publik solo.
Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta, Dr. Suyanto, menegaskan bahwa mahasiswa wajib menjalankan fungsi kontrol sosial secara tegas. Kritik dari elemen mahasiswa harus mengalir sebagai bentuk kepedulian yang nyata, bukan atas dasar kebencian politik.
“Pemerintah juga harus memahami bahwa kritik bukan berarti membenci, tetapi bentuk kepedulian agar kebijakan dan program dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Suyanto memungkasi sesi diskusi.
Kontributor : Fika
Editor: Al-Afasy



