Bedah Identitas Muslim Belanda, Eco Bhinneka Ikuti Workshop Visual Storytelling Fotografi
PWMJATENG.COM, JAKARTA — Kultur komunikasi visual kini menjadi instrumen penting untuk menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan perdamaian di era modern. Terkait hal tersebut, Eco Bhinneka Muhammadiyah turut mengirimkan delegasinya ke Jakarta pada Kamis (21/5). Mereka bergabung dengan puluhan aktivis masyarakat sipil untuk mengikuti Workshop Visual Storytelling Fotografi di Gedung Erasmus Huis.
Pada dasarnya, agenda kreatif ini berlangsung atas inisiasi dari Cultural Affairs and Erasmus Huis Department Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Pihak kedutaan sengaja mengintegrasikan lokakarya ini dengan pameran foto bertajuk “LABBAYK: Here I Am” karya Ebru Aydin. Melalui pameran tersebut, kurator menampilkan rekam jejak visual serta kisah emosional komunitas Muslim di Belanda selepas menunaikan ibadah Haji dan Umrah.
Kenyataannya, perjalanan spiritual ke tanah suci tidak sekadar menjadi ritual ibadah rutin bagi para subjek foto. Sebaliknya, pengalaman religius itu terbukti mampu membentuk ulang identitas diri serta cara pandang mereka dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, panitia memanfaatkan rangkaian cerita personal tersebut sebagai materi dasar untuk merajut dialog keberagaman.
Fotografi Sebagai Ruang Terbuka Dialog Sosial
Memasuki sesi diskusi kelompok, jalannya acara semakin hidup saat fotografer sekaligus sosiolog asal Belanda, Ebru Aydin, memulai paparannya. Dalam penjelasannya, Ebru menegaskan bahwa kamera tidak boleh bekerja secara pasif untuk mendokumentasikan kenyataan saja. “Fotografi berfungsi untuk membuka percakapan tentang cara kita melihat diri sendiri dan orang lain,” urai Ebru dengan penuh penekanan.
Selaras dengan prinsip itu, panitia langsung menantang para peserta untuk masuk ke dalam sesi praktik bertema ‘making your image’. Di sini, para utusan Eco Bhinneka Muhammadiyah saling membagikan refleksi tentang makna Islam dalam keseharian mereka. Selanjutnya, mereka mentransformasikan curahan cerita lisan tersebut menjadi karya seni visual yang komunikatif melalui kerja sama tim.
Lebih lanjut, keterlibatan aktif ini melibatkan kader dari berbagai program internal, seperti 1000 Cahaya, GreenAbility, dan SMILE. Dampaknya, perspektif yang muncul di dalam forum menjadi sangat kaya karena menyentuh isu keadilan iklim hingga ekofeminisme. Para peserta sepakat bahwa penataan narasi yang matang merupakan kunci utama dari keberhasilan Workshop Visual Storytelling Fotografi.
Menyuarakan Kesetaraan Manusia Tanpa Stigma
Sementara itu, perwakilan peserta bernama Dinul Qoyimah menilai bahwa selembar foto selalu menyimpan kekuatan komunikasi yang magis. Sebab, gambar mampu menyampaikan pesan moral yang kuat bahkan tanpa perlu tambahan teks penjelasan yang panjang lebar. Meskipun demikian, Alif Jihad Rais mengingatkan bahwa satu bidikan lensa tetap berpotensi melahirkan multitafsir tergantung dari sudut pandang penonton.
Untuk mengantisipasi hal itu, Fajar Firmansyah menekankan pentingnya proses wawancara mendalam sebelum fotografer menekan tombol rana. Artinya, seorang pembawa kamera wajib memahami latar belakang kehidupan subjek agar hasil foto memiliki jiwa yang hidup. Melalui pendekatan humanis inilah, karya visual yang reflektif seperti penuturan kisah mualaf bernama Whitney dapat tersampaikan dengan utuh.
Sebagai penutup, Dzikrina Farah Adiba menyimpulkan bahwa pameran LABBAYK membawa pesan kesetaraan manusia yang sangat kuat. Dengan demikian, perbedaan latar belakang ras dan fisik tidak boleh menjadi sekat pemisah dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi Anda yang tertarik, pameran ini masih terbuka untuk umum secara gratis di Erasmus Huis Jakarta hingga 29 Agustus 2026 mendatang.
Kontributor: Farah
Editor: ayma



