Sentil Budaya Mewah, Ikhwanushoffa Bedah Perbandingan Biaya Resepsi Pernikahan vs Sedekah

PWMJATENG.COM, JEPARA – Ikhwanushoffa mengajak warga Muhammadiyah di Jepara kembali memprioritaskan sedekah di atas kepentingan gengsi duniawi. Ia membandingkan tradisi zaman KH Ahmad Dahlan dengan realita masa kini saat mengisi kajian Ahad pagi di Masjid At Taqwa PDM Jepara, Ahad (10/5/2026).
Ikhwanushoffa mengingatkan bahwa ibadah sholat seharusnya berdampak langsung pada kesalehan sosial. Namun, realita saat ini menunjukkan banyak orang terjebak dalam formalitas ibadah tanpa memiliki empati terhadap sesama.
“Kita lihat kembali dalam Surat Al-Ma’uun. Di situ dijelaskan bahwa orang yang sholat itu bisa celaka, yakni mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi kepada orang miskin,” papar Ikhwanushoffa di hadapan para jamaah.
Kritik Budaya Resepsi Mewah
Ia menyoroti fenomena masyarakat yang lebih mengutamakan gengsi duniawi daripada perintah agama. Banyak orang rela menghabiskan dana besar untuk pesta pernikahan, tetapi merasa berat saat harus berkurban atau bersedekah.
“Keluar uang Rp100 juta untuk resepsi panjenengan ikhlas. Bahkan jika tidak punya uang segitu, panjenengan cari-carikan. Padahal resepsi itu tidak ada perintah wajib di agama,” tegasnya. Menurutnya, perintah yang jelas adalah menikah, bukan menggelar pesta mewah yang membebani finansial.
Meneladani Kesederhanaan KH Ahmad Dahlan
Ikhwanushoffa kemudian membandingkan kondisi sekarang dengan tradisi warga Muhammadiyah zaman dahulu. Ia menceritakan bagaimana pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, bersikap moderat dalam mengatur biaya pernikahan demi kepentingan umat.
“Dulu warga Muhammadiyah mau mantu ditanya Kyai Dahlan, ‘Biayamu berapa?’. Dijawab delapan golden. Lalu Kyai bertanya lagi, ‘Kalau tak minta separuh buat Muhammadiyah boleh?’. Jawabannya, ‘Monggo Kyai’. Sekarang justru sebaliknya,” tambahnya.
Inovasi Kurban untuk Umat
Melalui momentum menjelang Idul Adha, Lazismu berupaya menghidupkan kembali spirit filantropi tersebut. Organisasi ini meluncurkan program inovatif guna memudahkan distribusi daging kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran.
Oleh karena itu, Lazismu memperkenalkan program Qurban Rendang. Produk murni Muhammadiyah ini hadir dengan keunggulan siap saji dan awet hingga dua tahun. Inovasi ini menjadi solusi nyata bagi warga pelosok yang tidak memiliki fasilitas penyimpanan memadai.
Kontributor : Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



