Berita

Diskusi Politik Perempuan di UMP Tegaskan Pentingnya Suara Perempuan

PWMJATENG.COMPURWOKERTO – Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik atau HPKP IMM Komisariat Buya Hamka Universitas Muhammadiyah Purwokerto bersama Kementerian Sosial Politik BEM Fakultas Agama Islam UMP menggelar diskusi politik perempuan, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UMP ini mengangkat tema “Dari Raden Ajeng Kartini ke Generasi Kini: Antara Emansipasi, Relevansi Perjuangan, dan Realitas Kesetaraan dalam Politik Gender.”

Diskusi tersebut diikuti sejumlah komisariat di Cabang A.K. Anshori Purwokerto serta delegasi BEM Fakultas se-UMP.

Diskusi Politik Perempuan Bahas Emansipasi Kartini

Narasumber tunggal, Muhandisa Elvin Pramita, membuka diskusi dengan menyoroti pemikiran kritis R.A. Kartini. Menurutnya, Kartini kerap direduksi hanya sebagai simbol kebaya dan tata krama.

Padahal, melalui surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar sejak 1899, Kartini membahas pendidikan, poligami, feodalisme, hingga kritik terhadap sistem kolonial.

Muhandisa menilai pemikiran Kartini masih relevan untuk membaca tantangan perempuan hari ini, terutama dalam ruang pendidikan, sosial, dan politik.

“Panggil aku Kartini saja,” menjadi salah satu kalimat yang ia angkat sebagai simbol keberanian Kartini menolak privilese feodal.

Perempuan Harus Aman dan Berani Bersuara

Dalam paparannya, Muhandisa menegaskan bahwa emansipasi perempuan masa kini harus diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan. Di antaranya hak atas keamanan, privasi, kebebasan bersuara, otonomi ekspresi diri, kesetaraan karier, dan kepemimpinan.

Ia juga menyoroti pentingnya penegakan hukum terhadap kekerasan seksual. Menurutnya, pelaku kekerasan seksual harus mendapat sanksi tegas agar muncul efek jera.

Selain itu, ia menolak normalisasi pelecehan verbal, body shaming, dan candaan tidak etis, baik di ruang sosial maupun digital.

“Perempuan itu harus dihargai. Sebagai laki-laki, ketika ada perempuan lewat, jangan dipandang dengan cara yang merendahkan. Bukan karena dia memakai baju ketat atau longgar, tapi karena dia manusia yang punya martabat,” tegas Muhandisa.

Ia menambahkan, penghormatan terhadap perempuan dimulai dari kesadaran dasar untuk tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai objek pandang atau bahan candaan.

“Perempuan terlalu murah jika hanya dinilai dari lekuk tubuhnya. Ia lebih harum dari kasturi, menyempurnakan yang cacat, memberi riuh bagi yang sunyi,” ujarnya.

Pendidikan dan Kesadaran Gender

Diskusi semakin hidup ketika Hasyifa, salah satu peserta, mengajukan pertanyaan tentang peran pendidikan dalam melahirkan perempuan kritis.

“Apakah pendidikan Indonesia gagal melahirkan perempuan-perempuan yang kritis?” tanyanya.

Menanggapi hal itu, Muhandisa menjelaskan bahwa kegagalan pendidikan tidak bersifat mutlak. Namun, menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia masih menyimpan bias gender dan sering kali lebih menekankan kepatuhan daripada keberanian bersuara.

Ia juga menilai narasi sejarah masih kerap meminggirkan peran perempuan kritis. Karena itu, pendidikan harus berani membuka ruang diskusi yang jujur terhadap pengalaman perempuan dan luka sejarah.

“Pendidikan yang gagal adalah pendidikan yang mengajarkan kita melupakan, bukan belajar dari kesalahan,” ungkapnya.

Muhandisa kemudian mengajak peserta, khususnya perempuan, untuk berani menentukan sikap.

“Kamu mau jadi perempuan seperti apa? Jadilah perempuan yang bersuara. Jangan seperti luka yang dipendam hingga jadi nanah. Karena perempuan yang diam hanya akan menjadi mumi yang kehilangan harga diri,” katanya.

Teladan Perempuan Lintas Zaman

Sebagai penutup, peserta diajak merefleksikan teladan sejumlah tokoh perempuan lintas zaman. Di antaranya Khadijah, perempuan pertama yang mengimani Islam dan mendukung dakwah dengan hartanya.

Selain itu, Muhandisa juga menyebut Ibu Sumarsih, pencetus Aksi Kamisan, serta Christina Hammock Koch, astronot perempuan yang mencatat rekor 328 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Di akhir kegiatan, Muhandisa membacakan puisi berjudul “Perempuan”. Puisi tersebut menjadi refleksi tentang pengalaman perempuan, ketidakadilan, serta pentingnya keberanian bersuara.

“Maka jadilah perempuan yang bersuara. Jangan biarkan sejarah memutihkan lukamu. Dan bagi laki-laki: ketika seorang perempuan lewat, cukup tundukkan pandanganmu. Itu awal dari peradaban,” pungkasnya.

Kontributor: Ilyas Fachriansyah
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/