Berita

Bukan Sekadar Cuan: Petani Milenial Muhammadiyah Jadikan Inovasi Teknologi sebagai Ibadah

PWMJATENG.COM,  Purworejo – Di tengah anggapan bahwa bertani identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan, generasi muda justru mulai menunjukkan arah baru. Hal ini terungkap dalam Pengajian Ahad Pagi seputar petani milenial yang digelar di SMP Muhammadiyah Bagelen, Purworejo, Ahad (5/4/2026).

Mengubah Paradigma Petani Milenial

Ir. H. Sayogo Yulianto sebagai pemateri utama membongkar paradigma lama tentang petani. Menurutnya, petani milenial bukan sekadar soal usia muda, melainkan sosok yang inovatif, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki visi besar dalam sektor agrobisnis.

“Kita sedang menghadapi ancaman krisis pangan global. Kemandirian pangan adalah syarat mutlak kedaulatan bangsa,” tegas Sayogo.

Kritik Sistem Pertanian Modern

Ia mengkritisi sistem pertanian modern yang membuat petani bergantung pada korporasi, mulai dari benih hingga pupuk kimia mahal. Sebagai solusi, ia menawarkan konsep pertanian pasca-modern, yaitu integrasi teknologi dengan nilai-nilai syariat Islam.

Menurutnya, pemuda Muhammadiyah harus tampil sebagai pelopor. Tidak hanya menguasai teknologi informasi dan distribusi, tetapi juga meluruskan niat bahwa bertani bukan sekadar mencari keuntungan.

“Bertani itu ibadah, bukan sekadar jual beli,” ujarnya.

Nilai Sejarah dan Spirit Dakwah

Sayogo juga mengutip nilai historis yang menggugah, bahwa petani adalah pahlawan bangsa. Ia mengingatkan sinergi ulama terdahulu seperti KH Ahmad Dahlan di wilayah perkotaan dan KH Hasyim Asy’ari di pedesaan.

Bertani sebagai Ibadah

Menjawab ketakutan generasi muda terhadap risiko kerugian, ia menegaskan bahwa dalam Islam, setiap hasil pertanian memiliki nilai sedekah.

“Tanaman yang dimakan burung atau hewan tetap bernilai pahala,” jelasnya.

Inovasi Teknologi dan Zero Waste

Dalam praktiknya, petani milenial didorong untuk memanfaatkan teknologi, seperti sistem irigasi otomatis berbasis aplikasi, serta pengolahan limbah menjadi pupuk organik dengan prinsip zero waste. Langkah ini terbukti mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kemandirian.

Ancaman Tersembunyi dan Kemandirian

Ia juga mengingatkan adanya ancaman tersembunyi dalam sistem global yang dapat melemahkan petani lokal. Jika tidak diantisipasi, petani bisa kehilangan lahan dan hanya menjadi buruh di tanah sendiri.

“Kita tidak boleh menjadi bangsa yang hanya konsumtif,” tegasnya.

Literasi dan Membaca Alam

Selain teknologi, Sayogo menekankan pentingnya literasi bagi petani. Bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca alam (ayat kauniyah). Ia mencontohkan penanaman pohon yang mampu menyimpan ratusan liter air untuk menghadapi kekeringan.

Pertanian Terpadu sebagai Solusi

Konsep pertanian terpadu menjadi kunci, dengan menggabungkan sektor tanaman, perikanan, dan peternakan. Melalui koperasi dan jaringan jemaah, distribusi hasil panen dapat langsung ke konsumen tanpa melalui tengkulak.

Gerakan ini menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya di mimbar, tetapi juga di sawah dan kandang. Petani milenial menjadi bukti bahwa ketaatan bisa diwujudkan melalui kerja nyata menjaga bumi.
Kedaulatan pangan bermula dari tangan pemuda yang bertakwa.

Kontributor : Epin Hidayat

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/