Berita

Ribuan Jemaah Padati Lapangan Kottabarat, Prof Andri Nirwana Ajak Istikamah Usai Ramadan

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Ribuan umat Islam memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Bertindak sebagai imam dan khatib, Prof Andri Nirwana, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sejak pukul 06.00 WIB, jemaah telah berdatangan ke lokasi. Lantunan takbir yang menggema menambah suasana khidmat dan penuh haru. Panitia menyiapkan 12 saf untuk menampung jemaah yang hadir, dengan jumlah sekitar 1.200 orang.

Pelaksanaan Salat Idulfitri ini berlangsung mengikuti ketetapan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal. Sementara itu, kalender hijriah resmi Kementerian Agama menandai Idulfitri 1447 H pada 21–22 Maret 2026.

Menjaga istikamah setelah Ramadan

Dalam khutbahnya, Prof Andri Nirwana mengajak seluruh jemaah untuk menjaga istikamah dalam beribadah setelah bulan Ramadan. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar umat Islam bukan hanya menjalankan ibadah selama Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan konsistensi tersebut pada bulan-bulan berikutnya.

“Pada bulan Ramadan, ibadah terasa lebih ringan karena setan dibelenggu. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga konsistensi ibadah di luar bulan Ramadan,” ujarnya di hadapan jemaah.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kunci menjaga istikamah adalah peran keluarga dalam membentuk kebiasaan ibadah. Menurutnya, keluarga perlu menyusun jadwal rutin, seperti puasa sunah, salat berjamaah, serta membaca Al-Qur’an agar amalan Ramadan tetap berlanjut.

“Jika kebiasaan ini tidak dibangun dalam keluarga, akan sulit untuk istiqamah, apalagi ketika masing-masing anggota memiliki kesibukan. Dengan perencanaan yang baik, amalan Ramadan bisa terus berlanjut hingga bertemu Ramadan berikutnya,” jelasnya.

Menyikapi perbedaan dengan dewasa

Selain itu, Prof Andri juga menyinggung perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri yang terjadi di tengah masyarakat. Ia mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak dan penuh kedewasaan.

Menurutnya, perbedaan itu muncul karena adanya perbedaan metode penetapan awal bulan, seperti rukyat dan hisab. Ia menambahkan, perkembangan ilmu astronomi saat ini memungkinkan penentuan kalender dilakukan secara lebih akurat dan dapat diprediksi jauh ke depan. Muhammadiyah sendiri menggunakan KHGT sebagai dasar penetapan awal bulan secara global.

“Pada masa Rasulullah, rukyat digunakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan. Saat ini, ilmu astronomi sudah berkembang, sehingga penentuan kalender bisa dilakukan secara lebih akurat. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dengan saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada.

Pelaksanaan Salat Idulfitri di Lapangan Kottabarat berlangsung tertib, khusyuk, dan penuh kebersamaan. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga mempererat tali persaudaraan umat Islam. Semangat Ramadan diharapkan terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan pribadi yang lebih baik dan berdaya bagi umat serta bangsa.

Kontributor: Aryanto
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/