KH Tafsir di Unimus: Nuzulul Quran Adalah Momentum Dakwah dan Islamisasi Budaya

PWMJATENG.COM, SEMARANG – Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah yang berlokasi di kompleks Kampus Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi pusat syiar pada malam peringatan Nuzulul Quran, Senin (3/3). Kegiatan Tausyiah Ramadhan 1447 H ini menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, KH Tafsir, M.Ag., sebagai penceramah utama.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jateng, Dr. H. Karnadi Hasan, M.Ag., jajaran Wakil Rektor Unimus, sivitas akademika, serta ratusan jamaah dari masyarakat sekitar.
Dalam sambutannya, Karnadi Hasan menjelaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran kali ini digelar lebih awal dari tanggal biasanya. “Pelaksanaan malam ini dilakukan lebih awal, namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kekhusyukan ibadah dan esensi syukur kita atas turunnya Al-Quran,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, KH Tafsir dalam tausyiah bertema “Ramadhan Momentum Pendidikan yang Memuliakan Manusia” menegaskan posisi Muhammadiyah dalam merespons tradisi peringatan hari besar Islam (PHBI).
Menurut KH Tafsir, Muhammadiyah menerima peringatan hari besar selama dilandasi niat dakwah dan koridor syariat. “Peringatan Nuzulul Quran memiliki nilai strategis sebagai media dakwah untuk memperkuat pemahaman keislaman masyarakat secara luas,” jelasnya.
Lebih dalam, KH Tafsir memaparkan konsep Islamisasi Budaya. Ia menekankan bahwa strategi dakwah harus mampu masuk ke dalam ruang budaya agar nilai-nilai Islam dapat diterima dengan baik tanpa kehilangan substansi akidahnya. Proses ini merupakan bagian dari ijtihad dakwah yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Ramadhan adalah sarana pendidikan spiritual. Melalui momentum Nuzulul Quran, kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia—pribadi yang berkemajuan,” tambah KH Tafsir.
Kegiatan yang diawali dengan Shalat Tarawih berjamaah ini ditutup dengan harapan agar sivitas akademika Unimus dan jamaah masjid dapat semakin memaknai Al-Quran sebagai pedoman hidup dalam meningkatkan kualitas ibadah dan karakter sosial di tengah masyarakat.
Editor: Al-Afasy



