“Ramadhan Hampir Pergi, Hati Baru Sadar Rindu”

Awal Maret 2026 hadir dengan hembusan angin yang berbeda. Kalender menunjukkan perjalanan kita dari 18 Februari menuju 19 Maret 2026—sebuah durasi yang terasa amat singkat bagi jiwa yang haus akan ketenangan. Baru kemarin rasanya kita menata niat di sahur pertama, kini kita sudah berada di tikungan akhir, perlahan bergerak menuju penghujung bulan suci.
Ramadhan memang tamu yang elegan; ia tidak gaduh saat datang, namun meninggalkan lubang rindu yang besar saat berkemas untuk pulang.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga di bawah terik matahari. Ia adalah laboratorium batin untuk menundukkan ego yang seringkali liar. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa “wisuda” dari madrasah Ramadhan bukanlah sekadar Idulfitri yang meriah, melainkan derajat Taqwa yang membekas dalam perilaku sehari-hari.
Di awal Maret ini, suasana semakin syahdu. Keheningan malam membawa kejujuran bagi siapa pun yang bersujud. Termasuk di sudut-sudut Yogyakarta yang damai, di mana langit malam seolah menjadi saksi bisu atas doa-doa yang melangit.
Malam Ramadhan di Jogja
Malam penuh makna di bulan suci Ramadhan
Menikmati malam sepoi-sepoi, hati terasa tenang
Langit bintang biru, kelap-kelip penuh kehangatan
Dunia ini indah aku menikmati, puncak sosok selalu di hati
Begitu indah di Yogyakarta, kota yang damai
Malam Ramadhan, saatnya untuk bermunajat
Keindahan alam, cerminan kebesaran Ilahi
Mengingatkan kita, akan nikmat yang tak terhingga
Puisi ini menggambarkan hakikat Ramadhan: sebuah pertemuan antara manusia yang rapuh, alam yang tenang, dan Sang Pencipta yang Maha Pengasih. Di bawah bintang Jogja, kita diingatkan bahwa kemewahan sejati ada pada segelas air saat berbuka dan sepiring syukur di meja makan yang sederhana.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat di fase evaluasi awal Maret: Sudahkah kita berpuasa dengan iman, atau hanya sekadar latihan menahan lapar? Apakah sujud kita sudah lebih lama? Apakah lisan kita sudah lebih terjaga?
Ramadhan mendidik kita bahwa yang paling penting bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita menutupnya. Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sempurnakanlah bilangannya dan agungkanlah Allah atas petunjuk-Nya agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ketakutan terbesar kita bukanlah kehilangan suasana takjil atau sahur, melainkan kehilangan sosok diri kita yang lebih baik saat Ramadhan berlalu nanti. Jika setelah 19 Maret kita masih menjaga salat, mencintai Al-Qur’an, dan melembutkan hati pada sesama, maka Ramadhan itu belum pergi—ia telah hidup di dalam jiwa.
Editor: Al-Afasy



