Berita

Ikhwanushoffa Ajak Pengurus Lazismu Jawa Tengah Teladani Gagasan KH Ahmad Dahlan

PWMJATENG.COMSEMARANG — Pengurus Lazismu Jawa Tengah menyerap pesan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Monthly Meeting Manager di Hotel Candi Indah (HCI) Kota Semarang, Kamis (24/9/2026). Tokoh Muhammadiyah, Ikhwanushoffa, hadir langsung memaparkan pentingnya memadukan paradigma pembaruan (tajdid) dan tradisi positif (turats) dalam mengelola lembaga amil zakat.

Ikhwanushoffa membuka pemaparan dengan mengulas perjalanan haji pertama KH Ahmad Dahlan pada rentang 1883–1888. Sepulang dari Tanah Suci, pendiri Muhammadiyah itu langsung mengajarkan Surat Al Ma’un selama tiga bulan berturut-turut. Langkah tersebut diambil untuk menguji kepedulian umat Islam terhadap anak yatim dan fakir miskin secara nyata.

Gebrakan Surat Al Ma’un dan Pembaruan Sosial

Lewat penafsiran mendalam Surat Al Ma’un, KH Ahmad Dahlan mendorong pengikatan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Beliau bahkan memanggil warga yang hendak membuat resepsi pernikahan untuk menyumbangkan separuh anggarannya ke Muhammadiyah. Tindakan tersebut berlandaskan peringatan ayat keempat yang menyebut orang beribadah pun bisa celaka jika mengabaikan kaum dhuafa.

Setelah menunaikan haji kedua pada 1903–1905, KH Ahmad Dahlan mengajarkan Surat Al Asr selama delapan bulan. Pembelajaran berulang ini bertujuan membentuk karakter umat yang mengamalkan ajaran agama, bukan sekadar menghafalnya.

Sejarah Muhammadiyah mencatat bahwa pendirian organisasi pada 1912 berawal dari keprihatinan atas kondisi bangsa. Saat itu, sekitar 65 juta rakyat Indonesia hidup di bawah kendali pemerintah kolonial yang hanya berjumlah 500 ribu jiwa. Bangsa Indonesia belum memiliki rumah sakit, sekolah, maupun perguruan tinggi yang memadai.

Inovasi Kesehatan dan Perjuangan Dakwah

Guna mengatasi masalah sosial tersebut, KH Ahmad Dahlan mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sebagai cikal bakal rumah sakit Muhammadiyah. Layanan kesehatan ini memberikan pengobatan gratis bagi warga miskin. Beliau juga meluruskan arah kiblat masjid dan memelopori kesetaraan gender melalui Aisyiyah agar wanita bisa menjadi dokter.

Perjuangan KH Ahmad Dahlan tidak selalu berjalan mulus karena beliau sempat mendapat cemoohan sebagai kyai gila. Kendati demikian, beliau merangkul anak-anak kecil yang mengejeknya dengan cara mengajak mereka ke rumah, memberi makan istimewa, dan mendongeng. Pendekatan persuasif tersebut berhasil mengubah para penentang menjadi santri setia.

Selain itu, KH Ahmad Dahlan mengubah kebiasaan masyarakat terkait ibadah puasa dan perjalanan haji. Beliau mengedukasi umat untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Beliau juga berhasil memangkas monopoli biaya haji pemerintah kolonial hingga 75 persen, sehingga memicu kemandirian umat dalam mengelola kapal haji sendiri.

Ikhwanushoffa menambahkan bahwa KH Ahmad Dahlan tetap merawat budaya gemar berbagi (loma) dalam tradisi syukuran (bancaan) masyarakat. Seluruh dedikasi tersebut melahirkan jaringan panti, sekolah, dan rumah sakit Muhammadiyah yang berkembang pesat hingga hari ini.

Ikhwanushoffa menutup pemaparannya dengan mengingatkan seluruh pengurus Lazismu Jawa Tengah akan pesan legendaris pendiri organisasi. Beliau menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan dalam menjalankan amanah lembaga zakat.

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” pungkas Ikhwanushoffa mengutip pesan abadi KH Ahmad Dahlan.

Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Akmal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *