Kajian Ba’da Subuh di Cilacap: Ikhwanushoffa Soroti Gengsi Resepsi dan Pamitan Haji, Zakat Terlupakan

PWMJATENG.COM, CILACAP – Ikhwanushoffa mengisi kajian ba’da Subuh di Masjid Roudlotul Mu’minin, Kabupaten Cilacap, Senin (23/2/2026). Dalam tausiyah itu, ia mengajak jamaah menata ulang prioritas ibadah. Ia menekankan pentingnya zakat, infak, dan sedekah di tengah budaya yang kerap mengedepankan gengsi sosial.
Ia membuka kajian dengan mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah,” ucapnya. Menurutnya, ayat itu menegaskan bahwa iman harus melahirkan tindakan nyata.
“Sudah beriman masih diperintahkan bertakwa. Artinya, ada orang yang beriman tetapi belum tentu bertakwa, karena takwa itu mempraktikkan amalan,” tegasnya. Ia lalu mengingatkan jamaah agar rutin mengevaluasi diri. Setiap Muslim perlu memperhatikan amalnya untuk hari esok. Dengan begitu, kualitas ibadah terus meningkat dari waktu ke waktu. Ia menutup penjelasan itu dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Selanjutnya, Ikhwanushoffa menyoroti praktik rukun Islam di Indonesia. Ia melihat banyak umat bersemangat menunaikan haji, tetapi belum serius menunaikan zakat. Menurut dia, ketimpangan ini tidak boleh dibiarkan.
Ia menilai para dai perlu lebih sering mengangkat tema zakat dalam dakwah. Selain itu, guru dan orang tua perlu membiasakan anak-anak gemar berbagi sejak dini. “Anak-anak setelah belajar salat langsung diajari manasik haji. Padahal dalam rukun Islam ada zakat dan puasa sebelum haji. Kenapa tidak dilatih bersedekah sejak kecil?” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan isi Surah Al-Ma’un. Dalam surah itu, Allah mengecam orang yang salat tetapi menghardik anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin. Karena itu, ia menegaskan bahwa salat harus mendorong kepedulian sosial. Ia juga mengutip Surah Ali Imran ayat 133–134. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang bertakwa selalu berinfak, baik saat lapang maupun sempit.
Untuk memperjelas pesannya, ia memberi contoh konkret. Banyak orang rela mengeluarkan hingga Rp100 juta untuk resepsi pernikahan. Sebagian juga menghabiskan puluhan juta rupiah untuk acara pamitan haji. “Kalau untuk resepsi Rp100 juta ikhlas. Tetapi untuk sedekah sering terasa berat,” katanya.
Menurutnya, umat perlu mengubah pola pikir. Ia mengajak jamaah mengurangi orientasi pada kemewahan pribadi. Sebaliknya, ia mendorong mereka menjadi pribadi yang ringan tangan. “Mari menjadi kaum muttaqin, yang mudah berzakat, berinfak, dan bersedekah,” pungkasnya.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



