Kolom

Satu Kiblat, Dua Tradisi: Menyelami Akar Perbedaan Tarawih NU dan Muhammadiyah

Oleh: Nashrul Mu’minin

Ramadan selalu menghadirkan suasana ibadah yang hangat, namun sering kali dibarengi pertanyaan klasik: mengapa warga Nahdlatul Ulama (NU) melaksanakan 23 rakaat dengan zikir bersama, sementara Muhammadiyah memilih 11 rakaat secara ringkas?

Perbedaan ini sejatinya bukanlah pertentangan, melainkan bunga rampai ijtihad dalam memahami sunnah Rasulullah ﷺ.

Dua Pintu Memahami Sunnah

1. Jalur Kemurnian (Muhammadiyah) Muhammadiyah berpijak pada hadis Ibunda Aisyah ra.:

“Rasulullah tidak pernah menambah shalat malam di Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi Muhammadiyah, mengikuti jumlah rakaat yang secara eksplisit dicontohkan Nabi adalah bentuk ittiba’ (pengikutan) yang paling murni. Inilah mengapa formasi 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir menjadi standar di masjid-masjid Muhammadiyah.

2. Jalur Sejarah dan Legitimasi Sahabat (NU) NU merujuk pada praktik masa Khalifah Umar bin Khattab yang mengumpulkan umat untuk tarawih 20 rakaat. Umar berkata:

“Sebaik-baik perkara baru adalah ini.” (HR. Bukhari).

Kalangan NU melihat adanya legitimasi bagi sahabat untuk memperluas bentuk ibadah sunnah. Maka, tradisi 20 rakaat ditambah 3 witir (23 rakaat) dijaga sebagai warisan ulama mazhab yang tersambung hingga masa kini.

Zikir Bersama vs Zikir Pribadi

Perbedaan juga tampak pada suasana setelah salat.

  • Warga NU menghidupkan majelis dengan tahlilan dan zikir kolektif (La ilaha illallah). Tujuannya adalah memperkuat ukhuwah dan memfungsikan masjid sebagai pusat syiar sosial-spiritual.
  • Warga Muhammadiyah melakukan zikir secara pribadi tanpa format berjamaah yang terstruktur. Fokusnya adalah menjaga kemurnian tata cara salat agar tetap presisi sesuai contoh Nabi ﷺ dalam teks-teks sahih.

Inti Ibadah: Kualitas, Bukan Sekadar Angka

Rasulullah ﷺ menegaskan:

“Siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan harapan pahala, diampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan tarawih bukan pada panjangnya rakaat, melainkan pada keikhlasan hati. Masjid NU yang hangat dengan zikir panjang dan Masjid Muhammadiyah yang tertib-fokus, keduanya adalah kekayaan Islam Indonesia.

Persatuan tidak harus seragam. Perbedaan fikih adalah rahmat yang menunjukkan kedewasaan berpikir umat Islam. Pertanyaan besarnya bukan lagi “siapa yang paling benar”, melainkan apakah ibadah kita membuat hati semakin lembut, iman semakin kuat, dan persaudaraan semakin erat.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/