Berita

Bukan Anti-Tradisi, Begini Cara Kader Aisyiyah Semarang Jalankan Ziarah Kubur Sesuai Sunnah

PWMJATENG.COMSEMARANG – Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Karang Tempel bersama PCA Semarang Timur melakukan aksi nyata di Pemakaman Muslim Aisyiyah Patemon, Sabtu (8/5). Mereka melaksanakan kegiatan ziarah kubur Muhammadiyah untuk mendoakan para tokoh persyarikatan yang telah wafat.

Langkah ini secara otomatis mematahkan stigma negatif yang menyebut warga Muhammadiyah anti terhadap tradisi ziarah. Sebaliknya, kegiatan ini bertujuan meluruskan praktik ziarah agar tetap murni sesuai tuntunan sunnah tanpa unsur kesyirikan sedikit pun.

Selama ini, kalimat “Jangan dekat dengan orang Muhammadiyah karena mereka anti ziarah” sering terdengar di masyarakat. Cap buruk tersebut terus diwariskan secara sepihak dari generasi ke generasi. Akibatnya, tak sedikit warga persyarikatan dipandang sinis hanya karena ingin beragama sesuai tuntunan yang mereka pahami.

Edukasi Adab dan Fikih Ziarah

Padahal, ziarah kubur Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang dilarang atau dimusuhi. Hal yang diperangi dengan tegas oleh organisasi ini hanyalah penyimpangan atau perilaku syirik di atas kuburan. Oleh karena itu, edukasi mengenai adab ziarah menjadi sangat penting.

Di bawah komando Ina Farida, kehadiran kader Aisyiyah di Gunungpati ini menjadi jawaban hidup bagi tuduhan tersebut. Ina menegaskan bahwa anjuran ziarah tetap hidup sebagai sarana mendoakan ahli kubur. Selain itu, kegiatan ini menjadi momen penting untuk mengingat kematian atau dzikrul maut.

Sebelum memasuki area makam, para peziarah menerima kajian fikih dari Ustadz Jazuli, Majelis Tabligh PCM Gayamsari. Beliau menekankan bahwa niat yang lurus merupakan kunci utama dalam beribadah. Jika niatnya salah, maka ibadah tersebut akan melahirkan praktik yang salah pula.

Menjaga Kemurnian Akidah

Ustadz Jazuli juga mengingatkan bahwa kuburan bukanlah tempat untuk meminta nasib atau mencari berkah. Beliau mengajak peserta mencontoh makam KH Ahmad Dahlan yang sangat sederhana. Hal ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang terletak pada amal dan tauhidnya, bukan pada kemegahan nisan.

Selanjutnya, para mubaligh dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang terus mengingatkan peserta agar menjaga kemurnian akidah. Ustadz Gunarto Muchsin, Ustadz Kasmui, dan Ustadz Fauroni meminta jamaah untuk tidak meminta apa pun kepada penghuni kubur.

Dalam suasana hening, para kader Aisyiyah mempraktikkan adab ziarah kubur Muhammadiyah yang benar. Mereka melepas alas kaki, tidak duduk di atas kuburan, serta tidak melangkahi nisan. Melalui doa yang tulus, mereka menunjukkan bahwa menghormati tradisi tetap bisa berjalan beriringan dengan menjaga kemurnian tauhid.

Kontributor : Albari
Editor:  Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://middlepassage.dei.uc.pt/https://privacycolab.dei.uc.pt/https://cmd.dei.uc.pt/https://henrique.dei.uc.pt/https://hormon-osteoporosezentrum.de/
https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://aku.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/https://akperstg.ac.id/
zonawin777zonawin777