Tegaskan Sistem Satu Atap, Ikhwanushoffa Minta AUM dan Majelis di Sukoharjo Tidak Buka Donasi Sendiri

PWMJATENG.COM, SUKOHARJO – Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, memberikan arahan strategis dalam Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Lazismu Kabupaten Sukoharjo di Aula RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo, Jumat (13/2). Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya komitmen seluruh unsur Muhammadiyah terhadap sistem Satu Atap.
Ikhwanushoffa mengingatkan kembali nomenklatur PP Muhammadiyah tahun 2016 yang menetapkan bahwa seluruh pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) wajib disalurkan melalui Lazismu.
“Baik warga Muhammadiyah, pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), hingga pleno PDM dan PCM, semua ZIS-nya disalurkan melalui Lazismu tanpa terkecuali. Tidak boleh ada lagi lembaga atau majelis yang membuka donasi menggunakan nomor rekening pribadi atau di luar rekening resmi Lazismu,” tegasnya.
Menurut Ikhwanushoffa, target penghimpunan Rp10 Miliar bagi Lazismu Sukoharjo sebenarnya mudah dicapai jika sinergi Satu Atap benar-benar berjalan. Kendala selama ini adalah masih adanya AUM atau majelis yang berjalan sendiri-sendiri dalam menghimpun donasi.
“Coba buktikan, jika majelis, lembaga, dan AUM tidak lagi membuka donasi masing-masing, Lazismu Sukoharjo pasti tembus target,” imbuhnya.
Ikhwanushoffa juga membedah mengenai mekanisme Hak Kelola (HKL). Di Jawa Tengah, HKL didorong agar daerah yang kecil dapat tumbuh besar melalui skema subsidi silang yang mengalir hingga ke tingkat wilayah.
“Jika ada Lazismu yang berhenti beroperasi karena ketiadaan biaya operasional, maka itu 100 persen kesalahan Lazismu Wilayah. Di Lazismu, sistem HKL menjamin keberlangsungan operasional. Berbeda dengan lembaga lain, jika sekolah tidak ada operasional maka tutup, rumah sakit tidak ada pasien akhirnya tutup. Masih lebih enak di Lazismu, kan?” selorohnya yang disambut tawa peserta.

Menjelang Ramadhan dan Idul Adha, Ikhwanushoffa mengingatkan pentingnya fase dakwah sebelum masuk ke fase marketing dan hard selling. Ia menyentil fenomena masyarakat yang sangat bersemangat membayar haji ratusan juta, namun masih “pelit” dalam menunaikan Zakat Mal.
“Seolah-olah rukun Islam ketiga ini sudah ‘ditipek’ (dihapus). Banyak yang berdebat saat diminta zakat, tapi ikhlas daftar haji 100 juta. Bagaimana mau mabrur kalau sedekah untuk tetangga yang kesusahan saja sulit?” tuturnya.
Terakhir, ia mengajak seluruh kader untuk menyukseskan program Qurban kemasan melalui Rendangmu. Inovasi ini hadir untuk menjawab ketimpangan distribusi daging qurban agar manfaatnya dapat menjangkau pelosok daerah dan wilayah bencana secara siap saji.
“Mengajak masyarakat itu sulit, maka harus diawali dari diri kita masing-masing untuk berqurban melalui Rendangmu,” pungkas Ikhwanushoffa.
Kontributor: Rizky Maradona | Humas
Editor: Al-Afasy



