Babad Diponegoro Terancam Rusak, Perpustakaan Nasional Gagas ‘Klinik Naskah Tropis’ Pertama
PWMJATENG.COM, JAKARTA — Perpustakaan Nasional menggagas pembangunan “Klinik Naskah Tropis” pertama di Indonesia guna menyelamatkan manuskrip kuno Babad Diponegoro yang terancam hancur akibat korosi tinta. Langkah darurat ini menjadi strategi kebudayaan baru untuk memulihkan dokumen sejarah Indonesia. Pihak lembaga mempublikasikan terobosan tersebut bertepatan dengan momentum hari jadi di Jakarta, Senin (25/5).
Aris Riyadi mencuatkan gagasan inovatif ini dalam peluncuran buku bunga rampai “64 Tahun Perpusnas: Menyemai Harapan, Membangun Literasi Indonesia”. Penerbitan buku tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Perpustakaan Nasional. Melalui refleksi para insan kepustakawanan, lembaga ini berupaya menjawab tantangan zaman dalam menjaga warisan intelektual bangsa.
Salah satu fokus krusial dalam buku tersebut menyoroti kondisi naskah Babad Diponegoro. Saat ini, manuskrip kuno bernilai sejarah tinggi tersebut mengalami kerusakan serius akibat korosi tinta besi empedu. Kerusakan fisik ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai hilangnya memori kolektif bangsa jika tidak ada tindakan penyelamatan yang masif.
Oleh karena itu, Aris Riyadi melalui esai ilmiahnya menawarkan gagasan segar berupa pembangunan “klinik naskah tropis”. Pusat konservasi modern ini mengintegrasikan laboratorium, dunia akademis, serta komunitas pencinta sejarah Indonesia dalam menjaga warisan tertulis dari ancaman kepunahan.
Kolaborasi Selamatkan Manuskrip Kuno
Langkah penyelamatan ini memerlukan sinergi yang luas dari berbagai pihak. Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa lembaga yang ia pimpin kini harus melangkah jauh ke depan. Perpustakaan modern tidak boleh lagi sekadar menjadi ruang sunyi tempat menyimpan buku-buku tua.
“Perpustakaan harus menjelma menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, ruang bertumbuhnya kreativitas, serta wadah lahirnya inovasi masyarakat,” ujar E. Aminudin Aziz. Beliau menambahkan bahwa investasi pada perpustakaan akan menciptakan masyarakat yang bernalar tinggi dan kritis.
Selain masalah pelestarian fisik, tantangan era digital juga membayangi kerja literasi Indonesia. Banjir disinformasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) menuntut kesiapan kelembagaan. Perpustakaan memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjamin hak masyarakat dalam mendapatkan informasi yang sahih.
Benteng Pelestarian Sejarah Indonesia
Meskipun administrasi birokrasi modern semakin kompleks, ruh kepustakawanan harus tetap menjadi panglima. Upaya menjaga idealisme literasi di tengah sistem birokrasi menjadi kunci agar akses informasi publik tidak tersumbat. Penyelamatan naskah kuno pada akhirnya merupakan sebuah strategi kebudayaan nasional yang berdampak panjang.
Hubungan antara literasi dan nasionalisme sendiri sangatlah erat dalam sejarah Indonesia. Buku reflektif setebal puluhan esai ini mempertegas posisi Perpustakaan Nasional sebagai penjaga ingatan kolektif. Melalui pemeliharaan dokumen sejarah, masyarakat dapat terus merawat identitas nasional di tengah gempuran modernisasi.
Sebagai langkah konkret, kegiatan perayaan hari jadi ini juga melibatkan masyarakat luas secara inklusif. Perpustakaan Nasional menggelar serangkaian acara mulai dari Literacy Run hingga webinar nasional. Melalui pendekatan sosial tersebut, gerakan literasi akan mampu menyentuh seluruh lapisan bidang kehidupan publik secara nyata.
Kontributor: Nashrul Mu’minin
Editor: Alafasy



