Berita

Merawat Ruh Dakwah Akar Rumput: Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro Hidupkan Gerakan Berbasis Komunitas

PWMJATENG.COM, WONOSOBO — Ratusan warga Muhammadiyah memadati Balai Pengajian Ranting Muhammadiyah (PRM) Kepaksan pada Ahad (25/10/2026). Warga antusias menghadiri Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro, sebuah agenda keagamaan ikonik yang rutin bergulir di Kabupaten Wonosobo.

Masyarakat setempat mengenal kegiatan periodik ini sebagai Hari Bermuhammadiyah. Pada kesempatan kali ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kaliwiro menghadirkan pembicara utama Ustadz Qosdan Dawami, M.Sc. dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo.

Dalam tausiahnya, Ustadz Qosdan mengupas tuntas pilar penting ajaran Islam. Ia menekankan pemaknaan Khair (kebaikan universal), Ma’ruf (kebajikan bersama), serta Ikhsan (kesempurnaan ibadah dan perilaku).

Sementara itu, Ketua PCM Kaliwiro Ustadz Setyo Budi, S.Pd., mengimbau warga untuk meningkatkan kedisiplinan organisasi. Setyo mendorong anggota segera melengkapi Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah Elektronik (E-KTAM) demi menjaga ketertiban administrasi serta soliditas gerakan di tingkat akar rumput.

Penerapan Community-Based Development di Kaliwiro

Tradisi keagamaan di Kaliwiro ini menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, mengategorikan Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro sebagai wujud nyata Community-Based Development (CBD) atau gerakan berbasis komunitas.

Sejarah mencatat gerakan ini telah mengakar sejak tahun 1965. Berawal dari masuknya dakwah Muhammadiyah di kawasan Selomanik, tradisi pengajian tersebut kemudian berkembang pesat menjadi pusat pergerakan warga di Cabang Kaliwiro.

Selama lebih dari enam dekade, pergerakan berbasis warga inilah yang menjadi tiang utama pengibar bendera persyarikatan. Kehadiran Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro membuktikan bahwa dakwah komunitas memiliki ketahanan dan keluwesan tinggi dalam menghadapi dinamika zaman.

Para pimpinan dan anggota di Kaliwiro terus memegang teguh prinsip utama pergerakan. Mereka meyakini bahwa persyarikatan akan terus hidup selama kegiatan pengajian tetap berjalan ramah di tengah masyarakat.

Menyeimbangkan Pilar CBD dan Amal Usaha

Di era modern saat ini, pengurus persyarikatan kerap mencurahkan energi pada pendekatan Amal Usaha-Based Development (ABD). Pendekatan institusional ini berfokus pada pembangunan fisik seperti sekolah, rumah sakit, dan unit bisnis.

Pendekatan ABD memang memberi kepastian legal dan stabilitas finansial. Kendati demikian, kebergantungan berlebih pada pilar institusional berisiko membuat gerakan terasa kaku serta berjarak dari warga lokal.

Sebaliknya, Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro menunjukkan keunggulan pendekatan CBD yang tumbuh secara bottom-up dari akar rumput. Gerakan komunitas ini mengandalkan partisipasi murni warga, tokoh lokal, serta modal sosial kemasyarakatan.

Meski memiliki perbedaan karakter pengelolaan, kedua pendekatan dakwah tersebut sejatinya saling melengkapi. Model pergerakan ideal justru lahir saat pengurus mampu mengawinkan pilar institusi dengan kekuatan komunitas.

Pengembangan amal usaha memberikan kepastian sarana formal, sedangkan kegiatan seperti Pengajian Ahad Kliwon PCM Kaliwiro menyuntikkan ruh partisipasi dan rasa memiliki. Kolaborasi harmonis ini memastikan Muhammadiyah tak sekadar berdiri sebagai institusi, tetapi terus mengakar kuat dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Kontributor: Rudyspramz
Editor: Akmal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor