Banyak Remaja Alami Kekosongan Jiwa dan Labil, PP Muhammadiyah Ungkap Pentingnya Formula Ini dalam Pendidikan Karakter
PWMJATENG.COM, SOLOKURO — Kekosongan jiwa yang memicu ketidakstabilan emosi dan krisis pendirian pada generasi muda saat ini dapat dicegah melalui pemenuhan nutrisi batin serta penguatan pendidikan karakter berbasis agama secara seimbang. Pendidikan berbasis nilai agama kini menjadi benteng krusial bagi generasi muda. Tanpa fondasi batin yang kuat, remaja sangat rentan kehilangan arah di tengah derasnya arus modernisasi.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, menegaskan hal tersebut secara terbuka. Menurutnya, kegagalan memenuhi kebutuhan hati dan pikiran akan memicu dampak psikologis yang fatal pada anak.
“Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekosongan jiwa yang berdampak pada ketidakstabilan emosi, mudah terpengaruh oleh lingkungan, lemahnya pendirian, serta berkurangnya ketenangan hidup,” ujar Sholihin saat berbicara dalam acara purnawiyata Perguruan Muhammadiyah Palirangan, Solokuro, Jawa Timur, Kamis (18/6/2026).
Bahaya Kekosongan Jiwa dan Krisis Karakter Remaja
Fenomena ketidakstabilan emosi ini menjadi alarm keras bagi para orang tua. Saat ini, krisis karakter remaja sering kali berakar dari pola asuh yang hanya mengejar pencapaian nilai akademik semata. Akibatnya, aspek spiritualitas anak menjadi kering dan terabaikan.
Muhammadiyah memandang persoalan ini sebagai tanggung jawab moral yang besar. Lembaga ini menawarkan konsep pendidikan Muhammadiyah yang integratif untuk mengisi kekosongan jiwa tersebut. Sistem ini menyeimbangkan asupan intelektual dan nutrisi batin secara simultan.
Melalui pendekatan ini, sekolah bukan lagi sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan harus bertransformasi menjadi laboratorium peradaban. Di sinilah pendidik merancang cara membentuk karakter anak secara sistematis sejak usia dini.
Formula 4T dan S untuk Membenteng Jiwa Anak
Untuk mewujudkan visi tersebut, Sholihin membeberkan formula khusus bernama konsep 4T dan S. Formula ini mencakup lima pilar utama, yaitu Tilawah, Tazkiyah, Taklim, Tauhid, dan Sukses. Kelima pilar ini menjadi fondasi utama dalam kurikulum pendidikan karakter di seluruh jaringan sekolah Muhammadiyah.
Pilar pertama, Tilawah, melatih siswa agar gemar membaca dan jeli memahami fenomena zaman. Selanjutnya, Tazkiyah fokus pada proses penyucian jiwa demi melahirkan pribadi yang bersih, rendah hati, dan terhindar dari sifat dengki.
Sementara itu, Taklim membentuk insan yang berilmu serta bijaksana dalam mengambil keputusan. Sekolah memperkuat fondasi ini melalui pilar Tauhid, yakni penanaman keyakinan murni kepada Allah SWT agar siswa memiliki pendirian yang kokoh.
Terakhir, pilar Sukses mengintegrasikan keberhasilan dunia dan keselamatan akhirat. “Hasil pendidikan Muhammadiyah melalui konsep 4T dan S ini harus menjadi bekal bagi para lulusan untuk meraih kesuksesan serta keselamatan hidup di dunia dan akhirat,” kata Sholihin di hadapan ratusan wisudawan.
Momentum Strategis di Solokuro
Acara kelulusan khidmat di halaman Kompleks Perguruan Muhammadiyah Palirangan ini meluluskan ratusan peserta didik. Para lulusan tersebut berasal dari jenjang KB, TK ABA, MI, MTs, hingga MA Muhammadiyah Solokuro.
Jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah Solokuro dan tokoh masyarakat setempat turut mengawal momentum strategis ini. Mereka berkomitmen penuh untuk terus mengawal implementasi pendidikan karakter di wilayah tersebut. Lulusan dapat menggunakan modal nilai keislaman ini untuk mengabdi di tengah masyarakat luas.
Kontributor: Hendra
Editor: Alafasy



