Akademisi UMS Ingatkan Potensi El Nino “Godzilla” 2026: Kemarau Diprediksi Lebih Panjang

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki El Nino “Godzilla” diprediksi akan membayangi wilayah Indonesia pada tahun 2026. Akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang dan suhu udara yang lebih ekstrem dari biasanya.
Istilah “Godzilla” sendiri merujuk pada intensitas El Nino kategori super atau sangat kuat. Menurut Prof. Kuswaji, fenomena ini dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pergerakan angin global secara drastis.
Prediksi Kemarau Hingga Akhir Tahun
Guru Besar Fakultas Geografi UMS tersebut mengungkapkan bahwa peluang terjadinya El Nino pada tahun 2026 mencapai 70 persen. Fenomena ini diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun dan dampaknya bisa dirasakan hingga Desember 2026.
“Dampak utama dari El Nino kuat adalah lonjakan suhu udara dan merosotnya curah hujan. Musim kemarau yang biasanya berakhir pada Oktober, kemungkinan besar akan bergeser hingga akhir tahun,” papar Prof. Kuswaji pada Jumat (1/5/2026). Ia menambahkan bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki risiko kekeringan paling ekstrem karena letak geografisnya yang lebih dekat dengan Samudera Pasifik.
Ancaman Ketahanan Pangan dan Kesehatan
Selain kekeringan, Prof. Kuswaji menyoroti ancaman serius terhadap sektor pertanian. Penurunan curah hujan secara drastis dipastikan akan memengaruhi produktivitas padi dan komoditas pangan lainnya. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat mengguncang stabilitas ketahanan pangan nasional.
Lebih lanjut, potensi gelombang panas (heatwave) juga perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Dinamika iklim yang kompleks di Indonesia, yang terapit dua samudra dan dua benua, membuat anomali cuaca ini menjadi lebih sulit diprediksi secara lokal.
Mitigasi dan Peran Masyarakat
Prof. Kuswaji juga mengkritisi faktor manusia yang memperburuk dampak iklim, seperti deforestasi dan alih fungsi lahan. Penggundulan hutan mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air, sehingga memperparah krisis air saat kemarau tiba.
Sebagai langkah mitigasi, ia mengajak masyarakat untuk mulai melakukan konservasi air sejak dini melalui pembuatan lubang biopori dan penampungan air hujan. “Kami di UMS terus aktif memberikan edukasi dan melakukan aksi penghijauan bersama mahasiswa untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak El Nino Godzilla ini,” pungkasnya.
Editor: Al-Afasy



