
PWMJATENG.COM – Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Tidak hanya sebagai bulan ibadah dan puasa, Ramadan juga dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Hal ini berlandaskan pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ahmad Hasan Asy’ari Ulamai, dalam program Teras Ramadan menekankan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar diturunkan sebagai bacaan yang hanya dihafal dan dilantunkan, tetapi lebih dari itu, ia adalah pedoman hidup yang seharusnya dipahami dan diamalkan.
Menurut Ahmad Hasan Asy’ari, banyak umat Islam yang menjadikan bulan Ramadan sebagai ajang untuk memperbanyak tilawah atau membaca Al-Qur’an. Tradisi ndhares atau tadarus Al-Qur’an marak dilakukan di masjid-masjid dan rumah-rumah. Namun, yang menjadi perhatian adalah kecenderungan sebagian besar umat Islam hanya berfokus pada membunyikan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa memahami maknanya.
“Tradisi membaca Al-Qur’an memang sesuatu yang baik, tetapi jika hanya sebatas bacaan tanpa pemahaman, maka fungsinya sebagai petunjuk hidup belum sepenuhnya terwujud,” ujar Ahmad Hasan Asy’ari.
Ia menambahkan bahwa banyak masyarakat yang memanfaatkan Al-Qur’an bukan sebagai pedoman hidup, tetapi lebih kepada simbol dan fungsi sekunder lainnya. Salah satunya adalah penggunaan Al-Qur’an sebagai hiasan rumah. Banyak ayat-ayat tertentu, seperti Ayat Kursi dan Surah Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), dipajang di dinding masjid atau rumah. Hal ini memang tidak salah, tetapi jika hanya berfungsi sebagai ornamen estetika tanpa dipahami dan diamalkan, maka makna sejati Al-Qur’an sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia) menjadi terabaikan.
Fenomena lain yang juga menarik perhatian adalah bagaimana sebagian masyarakat memperlakukan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan supranatural. Banyak yang meyakini bahwa ayat-ayat tertentu memiliki daya magis untuk mengusir jin atau menangkal energi negatif. Bahkan, ada yang menggunakan potongan ayat Al-Qur’an sebagai jimat atau mantra perlindungan.
“Bukan tidak mungkin Al-Qur’an memiliki kekuatan dalam hal-hal seperti itu, sebagaimana bangsa lain juga memiliki kepercayaan terhadap simbol-simbol tulisan mereka sendiri. Namun, bukan itu tujuan utama Al-Qur’an diturunkan,” kata Ahmad Hasan Asy’ari.
Ia mencontohkan bagaimana ada orang yang menempelkan Ayat Kursi di rumahnya untuk mengusir setan, tetapi pertengkaran dalam rumah tangga tetap sering terjadi. Atau ada yang membaca ayat suci sebagai pengantar tidur, sehingga fungsinya berubah menjadi sekadar pengantar lelap, bukan sebagai bahan perenungan.
Baca juga, Zakat Fitri dalam Pandangan Muhammadiyah: Esensi, Hukum, dan Tata Cara Pembayarannya
Lebih jauh, ia menyoroti praktik sebagian orang yang menggunakan Al-Qur’an sebagai media penyembuhan dengan cara yang kurang tepat, misalnya dengan merendam atau melarutkan potongan ayat dalam air untuk diminum. Padahal, dalam Al-Qur’an sendiri, fungsi penyembuhan yang disebutkan lebih merujuk pada penyakit-penyakit hati, seperti kesombongan dan kedengkian, bukan semata-mata penyakit fisik. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Yunus ayat 57:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Ahmad Hasan Asy’ari mengajak umat Islam untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan menghayatinya. Menurutnya, daripada mengejar target khatam berkali-kali dalam Ramadan, akan lebih baik jika tadarus dilakukan dengan memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat yang dibaca.
“Jika biasanya kita membaca tiga juz sehari agar bisa khatam dalam sebulan, mungkin lebih baik kalau cukup satu juz sehari, tetapi dengan pemahaman yang lebih mendalam. Atau bahkan hanya satu lembar dua lembar, tetapi benar-benar dipahami maknanya,” jelasnya.
Dengan cara ini, umat Islam bisa lebih memahami apa yang Allah kehendaki dalam Al-Qur’an dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, tujuan utama Al-Qur’an bukanlah sekadar untuk dilantunkan, tetapi untuk menjadi pedoman hidup yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk merefleksikan kembali sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Apakah kita hanya membacanya tanpa memahami? Apakah kita hanya menjadikannya hiasan atau jimat? Ataukah kita benar-benar berusaha memahami dan mengamalkan isinya?
Dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas tadarus, tidak hanya dalam aspek kuantitas tetapi juga kualitas pemahaman, umat Islam dapat lebih dekat dengan pesan-pesan Ilahi yang terkandung dalam Al-Qur’an.
“Mari kita manfaatkan Ramadan ini untuk lebih memahami Al-Qur’an, tidak hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk hidup yang sesungguhnya.”
Kontributor : Raffi
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha