Khazanah IslamKhutbah

Khutbah Idulfitri: Jadilah Pemaaf, Bukan Pendendam!

Khutbah Idulfitri: Jadilah Pemaaf, Bukan Pendendam!

Oleh : Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag. (Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ مِنْ أَكْبَرِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِىِّ الْإِسْلَامِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ وَمَنْ تَبِعَهُ بَإِيمَانٍ وَإِسْلَامٍ وَإِحْسَانٍ إِلَى دَارِ السَّلَامِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللهِ: أُوصِينِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. وَقَالَ: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

وَاللهُ أَكْبَرْ،وَاللهُ أَكْبَرْ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin jamah salat Idul fitri rahimakumullah

Pujian bering takbir, tahlil, tasbih, sejak tadi malam kita kumandangkan, menyongsong datangnya hari raya idul fitri sebagai tanda kita mengakhiri bulan Ramadhan. Bersyukur dan berbahagialah kita dapat menikmati hari yang istimewa pagi ini, karena kita berhasil menamatkan ibadah Ramadhan selama sebulan penuh dengan baik dan ikhlas, semoga Allah SWT menerima amal-amal kita semuanya, serta memberi kita kekuatan untuk tetap istiqamah dengan mempertahankan apa yang sudah kita lakukan yang baik-baik selama ini di bulan Ramadhan.

Allahu akbar Allahu Akbar walillahil hamd

Sudah menjadi tradisi yang baik di hari raya Idul fitri orang bersalam-salaman saling memaafkan kesalahan dan dosa, walau tidak ada sunnah khusus yang mengajarkan, namun pada dasarnya tradisi ini sejalan dengan ajaran agama yang mengajarkan agar tidak memelihara dendam, sakit hati, marah kepada orang lain, namun sebaliknya, ajaran agama menuntunkan kita agar suka memaafkan, menahan amarah, dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

Jika dengan ibadah Ramadhan Allah mnejanjikan ampunan bagi yang rajin qiyam di malam hari dan shiyam di siang hari, maka Insya Allah dosa dan kesalahan kita terhadap Allah sudah diampuni, sekurangnya sudah banyak yang diampuni, maka kita juga perlu memohon maaf terhadap kesalahan yang kita perbuat terhadap sesama.

Bagi yang punya dosa dan kesalahan pada sesama, jangan menunda-nunda, jangan malu dan gengsi untuk segera minta kehalalan atau pemaafan dari yang bersangkutan. Mumpung kita masih diberi kesempatan hidup di dunia, manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sebelum tiba di hari kiamat kelak, di mana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat.

Rasulullah mengingatkan 14 abad yang lalu melalui sabdanya, akan adanya umatnya nanti yang menderita kebangkrutan kelak di hari kiamat dikarenakan banyaknya dosa dan kesalahan yang ia perbuat terhadap sesama, dan ia belum meminta dihalalkan dari yang bersangkutan, selengkapnya bisa kita baca di bawah ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ” قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. أخرجه مسلم و أحمد وغيرهم

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi bersabda: ‘Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di Hari Kiamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad, dan lain-lain).

Baca juga, Puasa sebagai Sarana Membersihkan Jiwa dan Raga

Perhatikan hadis di atas, orang yang banyak ibadah dan pahala pun bisa akhirnya dimasukkan  ke neraka, karena dosa dan kesalahan pada sesama lebih besar dari pahala yang ia kumpulkan. Jadi jangan merasa bangga dulu dengan amal yang kita lakukan, kalau kita juga suka berbuat dosa pada sesama dan selama di dunia belum dihalalkan atau dimaafkan oleh yang bersangkutan.

Allahu akbar Allahu Akbar walillahil hamd

Pentingnya segera rukun dan baikan jika ada yang berseteru dengan sesama, juga disampaikan Nabi sebagaimana dalam riwayat ini.

لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Artinya, “Seorang muslim tidak boleh mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam (hari), kemudian keduanya bertemu dan saling memalingkan wajah mereka. Sesungguhnya yang terbaik di antara keduanya adalah yang mau memulai menegur dengan salam.” (Muttafaqun ‘alaih).

Lebih lanjut Nabi mengancam yang tidak mau damai atau baikan setelah 3 hari dengan sabdanya.

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ ». سنن أبي داود

Tidak halal bagi umat Islam mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari, barang siapa yang melakukan demikian kemudian mati (sebelum berdamai) maka tentu ia akan masuk neraka ( HR Abu Dawud)

Jika nekat mendiamkan saudaranya sampai 1 tahun tidak baikan juga, maka Nabi menganggap orang itu seolah-olah telah menumpahkan darahnya.

مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ  سنن أبي داود ـ

Siapa mendiamkan saudaranya selama satu tahun maka orang itu bagaikan telah mengalirkan darah saudaranya. ( HR Abu Dawud)

Maka dari itu, pupuklah jiwa pemaaf, jauhi sifat pendendam. Tirulah siaft Allah yang Maha Pemaaf dan Pengampun. Jika kita senang kalau kesalahan kita dimaafkan dan diampuni, maka demikian pula orang lain yang bebruat salah pada kita.

Allah memerintahkan kita dengan Firman-Nya dalam Surat al-A’raf ayat 199.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Orang yang mau memaafkan dan bahkan tetap berbuat baik pada orang yang telah menzaliminya, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah SWT. Kita perhatikan isi surat  Asy-Syura ayat 40 berikut ini.

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik [kepada orang yang berbuat jahat] maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”

Baca juga, Etika Islam Berkemajuan: Menuju Mazhab Peradaban Baru?

Maka dari itu kebiasaan masyarakat yang suka mohon maaf lahir batin, perlu dibarengi dengan sikap memberi maaf lahir batin. Jangan hanya enteng meminta maaf tapi tidak jelas apakah mau meberi maaf terhadap orang lain. Maka mulai sekrang mari kita biasakan dalam status medsos kita untuk tidak hanya moho maaf lahir batin, tapi ditamahi lagi menjadi kami sekeluarga memohon dan sekaligus memberi maaf lahir batin. Karena cukup aneh jika orang ramai-ramai memohon maaf, tapi tidak jelas siapa yang ikrar memberi maaf.

Allahu akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd.

Hadirin jamaah salat Id yang berbahagia.

Sebagai penutup marilah kita sedikit tengok dampak Kesehatan jika  menyimpan dendam dan tidak mau memaafkan sesama. Menurut jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Journal of Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, disebutkan kalau menyimpan dendam dapat membuat seseorang beresiko lebih besar mengalami serangan jantung dan darah tinggi. Selain itu, suatu penelitian yang dilakukan pada populasi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa seseorang yang menyimpan dendam memiliki peluang 50% lebih tinggi untuk mengalami penyakit dengan rasa nyeri seperti ulserasi lambung, sakit kepala dan sakit punggung. Memendam dendam yang terlalu lama juga bisa memicu gangguan tidur dan penuaan dini.

Sedang keuntungan suka memaafkan ditunjukkan oleh sebuah studi yang dilakukan oleh Annals of Behavioral Medicine menjelaskan, memaafkan akan membuat tubuh lebih nyaman atau rileks, keluar dari beban mental. Hal ini akan mengurangi risiko stres dan perasaan tertekan, sehingga pada akhirnya proses memaafkan pun dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Sikap memaafkan akan melibatkan sistem saraf parasimpatis, yang membantu sistem kekebalan tubuh berfungsi lebih efisien dan memberi ruang bagi hormon perasaan baik seperti serotonin dan oksitosin. Memaafkan juga bisa memeperbaiki kualitas tidur. Manfaat kesehatan juga akan dirasakan pihak yang dimaafkan, tentunya dia akan merasa lebih tenang, bahagia, dan memebri perasaan lebih baik daripada sebelum dimaafkan.

Allahu akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin muslimat yang berbahagia. Walau bermaafan tidak harus menunggu hari raya, namun momentum hari raya ini adalah momentum yang baik. Karena secara sosial iklim untuk bermaaf-maafan telah terbentuk dan disediakan. Kita tidak perlu gengsi dan malu untuk mengakui kesalahan dan sekaligus meminta maaf. Di sisi lain janganlah kita medit atau berat memaafkan orang lain, apalagi jika ia sudah mengakui kesalahan dan tulus meminta maaf. Sekurangnya, marilah kita ulurkan tangan kita untuk bersalam-salaman karena dengan bersalaman saat bertemu dan berpisah itu sudah bisa menggugurkan dosa-dosa kita sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini.

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

 “Tidaklah kedua muslim bertemu dan saling berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud).

Sebagai penutup, marilah kita lantunkan doa.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ  واَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE