Kajian Tafsir UMS Bahas Al-Baqarah 87–96, Pelajaran Akidah dari Kisah Bani Israil

PWMJATENG.COM, Surakarta — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an dengan menghadirkan Dr. Ainur Rha’in, S.Th., M.Th.I. Kajian ini membahas Surah Al-Baqarah ayat 87–96 dan mengulas pelajaran akidah dari kisah Bani Israil, Sabtu (3/1/2026).
Dalam pemaparannya, Ainur Rha’in menjelaskan bahwa Bani Israil memperoleh nikmat besar berupa petunjuk dari Allah melalui diturunkannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Kitab Injil kepada Nabi Isa.
“Dua kitab yang diturunkan melalui dua nabi yang berbeda merupakan nikmat terbesar bagi hamba sebagai petunjuk hidup,” ungkapnya.
Allah juga mengutus banyak nabi untuk membawa risalah kebenaran kepada Bani Israil. Namun, karena keangkuhan dan kedurhakaan, sebagian dari mereka justru menolak, bahkan membunuh para nabi yang diutus.
“Kebengisan dan kedustaan Bani Israil diceritakan dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi umat setelahnya,” ujarnya.
Pada penjelasan ayat 88, Rha’in menguraikan tipologi Bani Israil yang merasa paling beriman dan paling mulia. Allah membantah klaim tersebut dengan melaknat mereka akibat kekufuran yang dilakukan.
“Laknat Allah tidak melihat suku, ras, warna kulit, kekayaan, atau kedudukan, tetapi datang karena kekufuran seorang hamba,” tegasnya.
Ayat 89 mengisahkan penolakan Bani Israil terhadap Nabi Muhammad saw. Mereka meyakini nabi terakhir berasal dari golongan mereka sendiri, sehingga menolak kebenaran ketika Allah mengutus nabi dari bangsa Arab.

Menurut Rha’in, ayat ini membongkar paradoks keimanan palsu. Banyak orang berbicara tentang iman dan keikhlasan, tetapi sejatinya hanya mencari legitimasi kelompok atau kepentingan pribadi.
Memasuki ayat 90, dijelaskan bahwa Bani Israil menukar akhirat dengan kenikmatan duniawi karena kedengkian dan kezaliman. Ia menegaskan bahwa segala sesuatu yang dibangun atas dasar kedengkian akan berakhir dengan keburukan.
“Ukuran kebenaran bukan fanatisme kelompok, tetapi Al-Qur’an dan hadis,” tuturnya.
Pada ayat 91, Allah membantah alasan Bani Israil yang mengaku hanya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Musa, padahal Al-Qur’an merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Ayat 92 menyingkap kesyirikan mereka dengan menjadikan anak sapi sebagai sesembahan.
“Syirik akan melahirkan kezaliman. Orang yang berbuat syirik cenderung mudah melakukan kezaliman dalam hidupnya,” jelasnya.
Allah kembali mengingatkan perjanjian Bani Israil pada ayat 93. Mereka berjanji taat, namun hanya mendengar tanpa menjalankan perintah Allah. Sementara pada ayat 94, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menantang klaim kemuliaan mereka dengan hujjah yang menuntut pembuktian.
“Ini adalah metode dialog ilmiah, memindahkan klaim sepihak ke ruang pembuktian terbuka,” kata Rha’in.
Pada ayat 95, Al-Qur’an menjelaskan ketakutan Bani Israil terhadap kematian karena kesadaran akan banyaknya kesyirikan dan kemunafikan yang mereka lakukan. Sebagai penutup, ayat 96 mencela kerakusan mereka terhadap kehidupan dunia.
“Orientasi hidup yang hanya mengejar dunia menjadi kecaman Allah dalam ayat ini,” pungkasnya.
Kontributor: Affiq/Humas
Editor: Al-Afasy



