BeritaKabar Daerah

Kajian Ramadan PCM dan PCA se-Solo Raya: Teguhkan Wasathiyah Islam Berkemajuan

PWMJATENG.COM, Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah Pengajian Ramadan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Solo Raya. Acara ini berlangsung di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS pada Minggu (23/3), dengan fokus pada penguatan ideologi, politik, dan organisasi (ideopolitor) Muhammadiyah serta pemahaman konsep wasathiyah dalam beragama.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo, Anwar Sholeh, mengapresiasi UMS yang telah menyediakan fasilitas untuk pengajian ini.

“Terima kasih Pak Rektor dan seluruh jajaran UMS atas kesetiaannya. Pokoknya memang kalau di tempat UMS itu semuanya beres,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengajian ini bertujuan memberikan pemahaman lebih mendalam bagi warga Muhammadiyah se-Solo Raya mengenai perkembangan ideopolitor. Selain itu, Anwar juga berterima kasih kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah yang menyelenggarakan pengajian serupa secara serentak di seluruh Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, Muhammad Abdul Fattah Santoso, menyampaikan arahan mengenai pentingnya membaca, tidak hanya dalam arti harfiah tetapi juga membaca situasi, fenomena, dan perkembangan zaman.

“Bulan Ramadan menjadi momen untuk mengecas ulang keberagamaan kita, baik dalam memahami ajaran Islam maupun penerapannya dalam bermuhammadiyah,” jelasnya.

Baca juga, Tafsir: Ramadan Harus Menjadi Kurva Naik dalam Spiritualitas Seseorang

Menurutnya, konsep wasathiyah atau moderasi dalam beragama telah dipraktikkan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Salah satu bentuknya adalah penerimaan terhadap kearifan lokal, yang membuat Muhammadiyah tetap relevan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kalau kita lihat dari foto-foto pimpinan Muhammadiyah terdahulu, mereka masih bersarung dan memakai jas. Itu menunjukkan bagaimana Muhammadiyah menerapkan sikap wasathiyah atau moderat,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa Muhammadiyah harus terus mengembangkan konsep wasathiyah yang telah dirumuskan dalam Risalah Islam Berkemajuan, hasil keputusan Muktamar ke-48 di Solo. Dalam menghadapi modernitas dan berbagai tantangan, sikap wasathiyah harus tetap dijaga agar Muhammadiyah mampu menjadi organisasi yang unggul dan seimbang.

Lebih lanjut, Fattah menjelaskan bahwa wasathiyah dalam Islam berarti memiliki sikap seimbang dalam berbagai aspek kehidupan.

“Sikap seimbang itu harus ada dalam diri kita, baik dalam kehidupan individual dan masyarakat, keseimbangan lahir dan batin, serta keseimbangan duniawi dan ukhrawi,” tegasnya.

Dalam menghadapi dinamika eksternal, Muhammadiyah menolak ekstremisme, baik yang bersifat ultra-konservatif maupun ultra-liberal. Fattah menegaskan bahwa wasathiyah bukan berarti menerima segala hal tanpa batas, tetapi ada prinsip yang tetap harus dijaga.

“Kapan kita boleh tidak toleran? Salah satunya saat berhadapan dengan sekularisme politik dan ketika menghadapi dekadensi moral,” katanya.

Ia menutup dengan mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus meneguhkan ideopolitor serta menjaga keseimbangan dalam menjalankan ajaran Islam yang moderat. Dengan demikian, Muhammadiyah dapat tetap menjadi organisasi yang berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Kontributor : Maysali
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE