ISLAM MENGARAHKAN FITRAH MANUSIA

Makna Fitrah
Rasulullah Saw bersabda: “Kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah…( semua manusia yang baru dilahirkan itu berada dalam keadaan fitrah” HR Imam Bukhari (no. 1385) dan Muslim (no. 2658) dari Abu Hurairah. Menurut KH. Ali Yafie, dalam buku “KH. Ali Yafie Jatidiri Tempaan Fiqh”, Fitrah artinya suci, sesuai desain awalnya, sesuai dengan desain aslinya. Ibarat satu mobil Mercy yang pertama kali dibuat di Jerman, mulai dari membuat komponennya juga awal merakitnya semua di proses di Jerman sesuai dengan desain awalnya. Itulah analogi gambaran dari Fitrah. Jadi Manusia atau bayi yang baru lahir itu masih suci, orisinil, sesuai desain awalnya, sesuai desain aslinya.
Secara umum fitrah manusia terbagi 2; pertama fitrah lahiriah, bawaan asli fisik manusia yang punya dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, dan berjalan tegak. Kedua fitrah jiwa, terdiri dari Nafsu, akal dan hati nurani. pembahasan kita kali ini akan kita fokuskan pada fitrah jiwa manusia.
Fitrah jiwa manusia yang pertama adalah Nafsu. Ia adalah dorongan dalam diri manusia untuk bergerak. Dorongan dalam diri untuk makan, minum, bicara. Dorongan dari dalam diri manusia untuk menyukai harta, lawan jenis, jabatan dan lain sebagainya. Maka apabila manusia menyukai harta, berharap jabatan, tertarik lawan jenis, maka hal itu sesuai fitrah. Sementara fitrah jiwa manusia yang kedua adalah akal. Akal adalah yang memberikan manusia daya pikir dan nalar. Sehingga kita bisa berpikir sebelum berbuat sesuatu, atau menganalisa tentang baik-buruk, manfaat dan madharat dari efek sebuah perbuatan. Dan dengan pikiran ini juga manusia bisa mengevaluasi seluruh tindakannya. Berpikir, mengnanalisa adalah fitrah perbuatan manusia.
Yang ketiga dari fitrah jiwa manusia adalah hati nurani. Yaitu Perasaan halus yang ada pada hati manusia yang paling dalam. Nurani adalah tempat kesadaran paling tinggi dalam diri manusia. Karena sebab hati nurani ini manusia bersikap simpati dan punya empati atas penderitaan orang lain. Nafsu, Akal dan Hati Nurani adalah Fitrah, bawaan manusia sejak lahir yang melekat pada jiwa.
Islam Mengarahkan Fitrah Manusia
Namun ketiga Fitrah manusia ini harus di kawal keberadaanya, bukan di hapus dan di berangus keberadaanya. Islam mengarahkan agar fitrah manusia berfungsi sesuai jalurnya. Islam hadir untuk mengarahkan fitrah manusia agar manusia senantiasa berada diatas jalan kebenaran. Islam mengarahkan Agar nafsu manusia disalurkan pada jalan-jalan halal. Sekedar contoh, maka islam membolehkan jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, gadai, kerja sistem upah/ujrah hal untuk mengarahkan nafsu manusia yang condong pada harta diatas ke jalan halal. Dan islam melarang mencuri, judi, korupsi karena ini berarti fitrah manusia terhadap harta namun berada di rel yang dilarang agama.
Islam juga memerintahkan umatnya agar menjaga kesehatan akal pikirannnya, maka dilarang diharamkan minuman mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkotika dan obat terlarang lainnya yang dapat merusak akal dan daya nalar manusia. Sebaliknya islam memerintahkan manusia agar giat menuntuk ilmu, dimana manusia menggunakan akalnya untuk melatih akal dengan menghafal ilmu, riset, observasi dan tradisi ilmiah lainnya. Sehinggal berkembanglah ilmu pengetahuan yang dapat menjawab persoalan hidup manusia.
Pun demikian islam hadir mengawal keberadaan Hati nurani fitrah jiwa manusia agar tetap hidup. Adanya perintah zakat, shadaqah, infaq, menyantuni anak yatim, faqir, miskin adalah cara islam untuk menjaga nyala api nurani manusia agar tetap hidup, sehingga manusia punya kepedulian sosial, simpati dan empati kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Dan disisi lain islam melarang manusia hidup berpoya-poya, bermewah-mewah, israf, karena hal tersebut dapat mematikan hati nurani.
Fitrah Lurus Sebab Miliu Yang Baik
Nabi melanjutkan sabdanya : ” Faabawahu Yuhawwidanihi, au Yunasshiranihi au Yumajjisanihi ( Maka kedua orang tuanya yang menjadikan anak itu seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi )”. Artinya Fitrah jiwa manusia berupa nafsu, akal dan nurani tadi bisa rusak fungsinya, bisa condong kepada keburukan, bisa liar keberadaanya apabila berada dilingkungan atau miliu yang buruk, lingkungan yang jauh dari nilai-nilai agama. Dan lingkungan kehidupan pertama yang di jalani manusia setelah lahir adalah sikap orang tuanya, contoh hidup ibu bapaknya, nilai-nilai kehidupan dari keluarganya.
Semoga ibadah puasa tahun 1447 H yang telah kita jalani bersama dapat membentuk ulang kebaikan lingkungan keluarga kita, mengarahkan nafsu kita, merefresh fungsi akal kita dan menumbuhkan kepedulian kita pada sesama. Kita berdoa semoga Tuhan Allah mengembalikan kita pada Fitrah kita di hari raya Iedul Fitri ini. selamat hari raya Iedul Fitri 1447 H.
Arip Hidayat, MTT PDM Kabupaten Tegal



