Kolom

Catatan Tadarus Kebudayaan dan Ekologi Spiritual

Malam itu Ahad 15 Maret 2026, Gedung Rakyat Slawi menjadi ruang tempat saya menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan tentang relasi manusia, alam, dan Tuhan. Dalam agenda “Tadarus Kebudayaan: Ekologi Spiritual dan Kebudayaan” yang digagas Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Tegal, saya berdiri atas nama Majelis tarjih dan Tajdid PDM Kab. Tegal, sebagai bagian dari forum yang mempertemukan beragam perspektif—dari kebijakan publik hingga filologi. Di tengah keragaman itu, saya mencoba menghadirkan sudut pandang keagamaan sebagai tawaran etika yang tidak berhenti pada wacana, tetapi menyentuh akar persoalan lingkungan.

Saya memulai dengan satu hal mendasar nan sederhana: krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis cara pandang manusia terhadap alam. Dalam perspektif Islam, manusia tidak pernah ditempatkan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai khalifah yang memikul amanah. Relasi manusia dengan alam seharusnya bersifat etis dan bertanggung jawab, bukan eksploitatif-ekstraktif. Ketika kesadaran ini hilang, alam direduksi menjadi sekadar objek ekonomi, dan di situlah kerusakan menemukan momentumnya.

Bagi saya, ekologi dalam Islam tidak bisa dipahami secara sempit sebagai persoalan teknis atau biologis semata. Ia berakar pada tauhid, kesadaran bahwa seluruh alam adalah satu kesatuan ciptaan Ilahi. Dari sini, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi bagian dari amaliyah keimanan. Sebaliknya, merusak alam mencerminkan keretakan-bahkan perlawanan dalam relasi spiritual manusia dengan Tuhannya.

Saya kemudian menguraikan pendekatan Manhaj Tarjih (Bayani-Burhani-Irfani) sebagai kerangka yang ditawarkan Muhammadiyah dalam membaca persoalan ini. Pendekatan bayani mengingatkan saya dan kita semua pada otoritas wahyu yang secara tegas melarang kerusakan. Pendekatan burhani mendorong penggunaan akal dan ilmu pengetahuan untuk memahami keseimbangan alam. Sementara pendekatan irfani mengajak pada kesadaran batin bahwa alam bukan sekadar benda mati, melainkan bagian dari harmoni kosmis yang senantiasa bertasbih kepada Allah. Ketiganya, dalam pandangan saya, satu kesatuan yang harus berjalan bersama.

Saya juga menegaskan bahwa gagasan ini bukan sesuatu yang berdiri di ruang kosong. Muhammadiyah telah merumuskannya dalam berbagai dokumen resmi, seperti Risalah Islamiyah Bidang Akhlak, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dan Teologi Lingkungan: Etika Lingkungan Perspektif Islam. Di dalam ketiganya, etika lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim. Artinya, menjaga alam bukan pilihan tambahan, melainkan konsekuensi dari kewujudan manusia di atas bumi ini.

Di hadapan forum itu, saya melihat bahwa pendekatan keagamaan masih memiliki relevansi yang kuat di tengah krisis ekologis modern. Ketika banyak pendekatan teknokratis gagal menyentuh akar persoalan, agama justru menawarkan dimensi nilai yang lebih dalam. Ia menghubungkan manusia dengan tanggung jawab moral dan spiritual, sekaligus mendorong tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengalaman berbicara di forum tersebut, saya sampai pada satu titik bahwa: merawat bumi tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi. Ia membutuhkan kesadaran yang lebih mendasar tentang posisi manusia dalam semesta. Dan kesadaran itu, bagi saya, hanya bisa tumbuh ketika manusia kembali melihat alam bukan sebagai objek, tetapi sebagai amanah—sesuatu yang harus dijaga, dirawat, dan dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.

Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag, M.Pd, MTT PDM Kab. Tegal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/