Prodi Ilmu Kelautan UNIMUS Gandeng Pakar BRIN, Ungkap Rahasia Perubahan Iklim Lewat Sedimen Laut
PWMJATENG.COM, SEMARANG – Program Studi Ilmu Kelautan UNIMUS menghadirkan pakar oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhitya Kusuma Wardana, S.Kel., M.Sc., dalam kelas pakar pada Kamis (29/10/2026). Langkah strategis Fakultas Sains dan Teknologi Pertanian (FSTP) ini bertujuan membekali mahasiswa dengan metode rekonstruksi perubahan iklim dan pencemaran laut masa lalu melalui media sedimen laut.
Penyelenggaraan kuliah tamu bertajuk Reading the Past Through Sediments ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim serta poin 14 mengenai Ekosistem Lautan.
Memperluas Cakupan Penelitian Kelautan Masa Depan
Dosen Ilmu Kelautan UNIMUS, Angka Mahardini, Ph.D., menegaskan bahwa kuliah pakar ini sengaja dirancang untuk membuka cakrawala riset baru bagi mahasiswa. Menurutnya, fokus kajian perairan di Indonesia masih sangat jarang menyentuh bidang geokronologi.
“Kami ingin memberi wawasan luas bahwa penelitian sektor kelautan memiliki banyak pendekatan. Kajian geokronologi merupakan salah satu bidang yang masih minim di Indonesia, sehingga mahasiswa perlu belajar langsung dari ahlinya,” ujar Angka saat memberikan sambutan.
Ia menambahkan bahwa keahlian Adhitya dalam menentukan urutan kejadian sejarah perairan sangat krusial. Melalui pemahaman rekam jejak lingkungan ini, mahasiswa Ilmu Kelautan UNIMUS tidak hanya menguasai teori dasar, tetapi juga siap menjawab tantangan kerusakan ekosistem secara ilmiah.
Sedimen dan Kerang Laut sebagai “Mesin Waktu” Perairan
Dalam pemaparannya, Adhitya Kusuma Wardana menjelaskan bahwa sedimen laut dan organisme perairan bertindak layaknya buku harian alam. Pengamatan langsung di lapangan hanya merekam kondisi sesaat, sementara endapan lumpur laut mampu menyimpan data iklim hingga belasan tahun lampau.
“Geokronologi memang membutuhkan biaya riset lebih tinggi dan analisis rumit karena sering melibatkan kapal riset. Namun, metode ini menyajikan data sejarah perairan yang tidak bisa kita dapatkan dari pengamatan biasa,” ungkap Adhitya.
Selain endapan lumpur, Adhitya mengenalkan cangkang siput laut Trochus niloticus sebagai proksi alami. Cangkang spesies ini mencatat fluktuasi suhu air laut secara akurat dalam rentang waktu tiga hingga sepuluh tahun.
Bahkan, pemanfaatan teknologi laser ablation spektrometri massa mampu mendeteksi paparan pencemaran laut berupa kandungan logam berat seperti merkuri pada masa lalu.
Menyiapkan Generasi Peneliti Berdaya Saing Global
Selain memaparkan materi teknis, Adhitya memberikan dorongan motivasi agar mahasiswa Ilmu Kelautan UNIMUS berani membangun jejaring riset sejak dini. Ia membagikan kisah personalnya saat berhasil berkolaborasi dengan ilmuwan dunia yang dulu hanya bisa ia kagumi dari jauh.
Sementara itu, pihak FSTP UNIMUS menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan lulusan berdaya saing tinggi. Melalui pemahaman mendalam tentang perubahan iklim dan kesehatan laut, para alumni kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian pesisir Nusantara.
Kontributor: Humas UNIMUS
Editor: Akmal



