Kolom

Idul Fitri Pembelajaran Tauhid Sosial

Ramadhan beberapa saat lagi akan berpulang kembali setelah selesai berkunjung di kehidupan kita umat muslin di seluruh penjuru dunia.Pendidikan dalam madrasah Ramadhan yang telah menuntun kita untuk benar-benar belajar kembali menata hati dan perbuatan meraih derajat Taqwa sebagaimana tuntunan ayat Suci Al Quran surat Albaqoroh ayat 183.

Ketika kita belajar selama 1 bulan penuh dalam sebuah tempat yang Bernama madrasah Ramadhan untuk benar melakukan pengejawantahan tauhid sosial dalam bentuk zakat, infaq dan shodaqoh serta pelaksanaan ibadah mualamah lainnya. Wujud pelaksanaan tauhid sosial yang dilakukan selama 1 bulan dalam bulan Ramadhan perlu digerakkan kembali selama 11 bulan setelah idul fitri.

Proses pembelajaran selama 1 bulan di madrasah Ramadhan yang sudah mewarnai kehidupan muslim yang tak mudah dalam pelaksanaannya Karena butuh kesabaran dan kejujuran dalam pelaksanaan ibadah Ramadhan. Pembelajaran istiqomah dalam memperbaiki iman dan taqwa kepada Allah SWT. Ibadah Shaum Ramadhan hanyalah Allah yang mengetahui dan menilai secara langsung pelaksanaan shaum Ramadhan yang kita lakukan.

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk melaksanakan shaum Ramadhan dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Hal ini disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar,  “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy).

Lapar dan haus yang didapatkan oleh kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah Ramadhan apabila selama proses menjalankan ibadahnya masih ada rasa sombong, berkata dusta, tidak menjaga paca indranya, serta melakukan maksiat kepada Allah. Artinya ada gerakkan amalan dalam shuam Ramadhan ada nilai-nilai yang tidak dibenarkan oleh Allah SWT serta tidak sesuai dengan nilai-nilai tauhid sosial,

Ramadhan akan pergi Ketika dunia masih dilanda konflik peperangan dimana nafsu amarah masih menyatu dalam hati dan pikiran para penguasa yang zalim begitu juga dengan hati kita yang kadang penuh rasa sombong, takabbur, serta hati yang masih kotor dengan debu. Ntah kita dapatkah derajat Taqwa itu dalam diri kita Ketika  hari-hari mulia itu mulai melambai pamit. Serta tertera angka-angka di kalender kian mengecil, menandakan Ramadhan akan segera menjadi kenangan dan pamit undur diri.

Dalam proses pembelajaran saat ini ada istilah pembelajaran deep learning proses pembelajaran itu dapat diaktualisasikan dalam menggerakkan tauhid sosial dalam renung jiwa anak bangsa.  Pendekatan ini dapat diwujudkan dalam program tauhid sosial deengan indakan sukarela berbagi sumber daya seperti uang, waktu, tenaga, atau keahlianyang didorong oleh cinta kasih terhadap sesama untuk meningkatkan kesejahteraan publik atau sejenisnya. Gerakan ini nanti diharapkan siswa merenungkan dampak tindakan mereka terhadap lingkungan sekitar.

Dalam pembelajaran deep learning ada beberapa pendekan yakni Mindful Learning, Meaningful Learning, Joyful Learning. Ketiga pola pendekatan pembelajaran itulah yang dapat memberikan stimulus perubahan pada sikap pemehaman peserta didik dalam melakukan gerak tauhid sosial. Apabila ditelaah pendekatan deep learning itu dapat mengaktualisasikan dalam proses pembelajaran

Pertama Mindful Learning: Integrasi Spiritualitas dan Kesadaran Sosial. Ketika kita sebagai peserta didik dalam madrasah Ramadhan sikap spritualitas dan kesadaran sosial kita tercermin dalam setiap pelaksanaan ibadah kita. Proses penanaman kesadaran itu dilakukan oleh Allah melalui pesan dalam ayat suci Al quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dengan penanaman nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Sehingga rasa ini yang digugah seperti hadist Nabi Muhammad saw menjelaskan yakni Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari no. 37 & Muslim)  “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mindful learning efektif menumbuhkan kesadaran dari Hadist Nabi Muhammad Saw dengan melibatkan peserta didik dalam setiap rangkaian Ibadah. Pendekatan pedagogis yang berakar pada kesadaran penuh dalam proses belajar, di mana peserta didik hadir secara utuh secara kognitif, emosional, dan tindakan (psikomotorik). Pentingnya keterbukaan terhadap konteks baru, pelepasan dari pola belajar otomatis, dan pemaknaan atas setiap aktivitas belajar etis melalui refleksi pengalaman digital peserta didik.

Pembelajaran berbasis mindful learning juga menciptakan keamanan psykologis, yaitu suasana aman secara emosional yang membuat peserta didik untuk bertanya, berekspresi, dan merefleksi tanpa takut salah atau dihakimi. Suasana seperti ini penting dalam pembelajaran karena banyak aspek nilai dan spiritualitas yang menyentuh sisi personal peserta didik. Dengan ruang yang aman, peserta didik dapat tumbuh dalam pemahaman dan praktik agama yang otentik dan kontekstual

Kedua Meaningful Learning: Teoritis Menuju Aksi Nyata Proses pembelajaran tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus melibatkan aksi nyata. Sekolah masa depan dapat mengembangkan project-based learning dengan tema sosial. Contohnya, siswa dilibatkan dalam program pengelolaan zakat, pembagian sedekah, hingga pendampingan komunitas masyarakat yang kurang mampu. Kegiatan ini memberi siswa pengalaman langsung yang memperkaya makna dari pembelajaran mereka, sekaligus membangun empati dan kemampuan memecahkan masalah nyata..

Pembelajaran meaningful learning sangat terasa dalam pengajaran tidak berhenti pada penghafalan teks, melainkan menghubungkannya dengan tindakan nyata. Seperti yang dilakukan oleh Kyai Dahlan Ia menggiring murid-muridnya untuk memahami bahwa surat Al-Ma’un menuntut implementasi nilai-nilai sosial seperti menolong fakir miskin dan anak yatim. Pemahaman ini dibuat relevan dengan kehidupan murid-muridnya melalui tugas nyata mencari, membantu, dan melayani orang-orang miskin di sekitar mereka. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga membawa dampak yang berarti dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Ketiga Joyful Learning: Belajar Dengan Senang Lalu Terkenang. Proses pembelajaran dalam madrasah Ramadhan ditunjukkan dengan rasa gembira inilah yang dianjurkan Rasul Muhammad SAW. Senang bahwa ibadah Ramadhan merupakan bagian peningkatan iman dan taqwa serta tidak ada pemaksaan yang dilakukan.Pendekatan pendidikan dalam madrasah Ramadhan menciptakan suasana belajar menyenangkan, tanpa tekanan, dan penuh antusiasme untuk meningkatkan motivasi serta keterlibatan aktif setiap muslim. Fokus utamanya adalah pengalaman bermakna yang menggembirakan, menggunakan permainan atau proyek seperti zakat infaq shodaqoh, sehingga materi lebih mudah dipahami dan membekas di ingatan.

Kemudian menumbuhkan jiwa yang sadar butuh dorongan berupa prosess literasi dan filontropi pemahaman terhadap pelaksanaan gerakan kedermawanan Islam yang berlandaskan Surat Al-Maun, berfokus pada kepedulian sosial, pemberdayaan fakir miskin, dan pelayanan kemanusiaan. Gerakan ini mewujudkan teologi praktis berupa pemahaman tauhid sosial dengan aksi nyata berupa pendidikan, kesehatan, dan santunan sosial untuk membantu sesama, mengatasi kemiskinan, serta menciptakan keadilan sosial.

Oleh : Indar Cahyanto

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/