Ketua PP ‘Aisyiyah: UMS Kian Mendunia dan Harus Berdampak bagi Masyarakat

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2022–2027, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menilai Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus berkembang sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) unggulan yang kian mendunia dan harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan halalbihalal UMS di Gedung Ahmad Syafii Maarif Lantai 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Salmah, capaian UMS saat ini menunjukkan perkembangan yang membanggakan, baik dari sisi jumlah mahasiswa maupun pengembangan infrastruktur kampus.
“UMS ini sudah menjadi salah satu PTMA terbesar di Indonesia. Tidak hanya bermain di level lokal dan nasional, tetapi juga mulai menuju global. Ini tentu menjadi capaian luar biasa dan semoga semakin memberikan keberkahan serta menjadi universitas yang impactful bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap visi mendunia yang diusung UMS semakin memperluas kontribusi kampus bagi masyarakat luas.
Halalbihalal Jadi Momentum Pererat Sivitas Akademika
Kegiatan halalbihalal UMS menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus saling memaafkan antarsivitas akademika pasca-Idulfitri 1447 Hijriah.
Ketua Panitia Halalbihalal UMS, Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes., dalam sambutannya menekankan bahwa ibadah puasa Ramadan tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga harus diiringi perbaikan hubungan antarsesama.
“Mudah-mudahan ibadah puasa kita diterima Allah dan dihapuskan dosa-dosa kita. Namun, dalam konteks hubungan antarmanusia, acara ini menjadi sarana agar kita bisa saling memaafkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut secara khusus menghadirkan dosen yang masih aktif maupun yang telah purna tugas sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu UMS.
“Kesuksesan UMS hari ini tidak lepas dari kerja keras para pendahulu. Maka melalui kegiatan ini kita lakukan bakti dan silaturahim agar ada keberlanjutan,” ungkapnya.
Em Sutrisna juga mengingatkan pentingnya kelapangan hati dalam memberi dan meminta maaf. Menurutnya, setelah Idulfitri seluruh sivitas akademika diharapkan kembali bekerja dengan hati bersih, penuh semangat, dan menghadirkan inovasi baru.
Ikrar dan Komitmen Membangun UMS
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Ikrar Halalbihalal oleh Sekretaris Universitas, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D. Dalam ikrar tersebut, seluruh perwakilan sivitas akademika UMS menyampaikan permohonan maaf atas segala khilaf, baik yang disengaja maupun tidak, serta berkomitmen meningkatkan kinerja dan kebersamaan demi kemajuan UMS.
“Semoga kita kembali fitrah dan mampu menggapai derajat insan bertakwa, yang memiliki karakter gemar bersedekah, mampu menahan amarah, serta mudah memberi maaf,” tuturnya.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya juga mengajak seluruh hadirin mensyukuri kesempatan bersilaturahmi. Ia menyampaikan permohonan maaf atas nama pimpinan universitas.
“Yang terpenting bukan hanya meminta dan memberi maaf, tetapi juga bagaimana kita menjaga lisan dan sikap. Perkataan yang baik dan memaafkan itu lebih utama,” jelasnya.
UMS Perkuat Daya Saing Global
Lebih lanjut, Harun memaparkan perkembangan UMS yang saat ini memiliki 82 program studi dan akan bertambah menjadi 85 dengan rencana pembukaan dua program doktoral baru. Ia juga menyebut kekuatan sumber daya manusia UMS yang terdiri atas ratusan dosen dan tenaga kependidikan sebagai modal utama untuk terus memajukan institusi.
Tak hanya itu, ia mengungkapkan jumlah pendaftar mahasiswa baru UMS telah mencapai lebih dari 10.000 orang, dengan ribuan di antaranya telah melakukan registrasi.
“Ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika UMS,” ujarnya.
Sebagai penutup, rektor menyampaikan pantun yang mengajak seluruh hadirin untuk terus menjaga kebersamaan dan semangat membangun UMS demi kemajuan bangsa.
Ramadan Harus Mengubah Kualitas Diri
Dalam tausiyahnya, Salmah menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum peningkatan kualitas diri dan kepemimpinan, termasuk dalam konteks kepemimpinan perempuan.
“Tujuan utama puasa adalah menjadikan kita bertakwa. Setelah Ramadan, kita harus naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau tidak ada perubahan, maka kita termasuk orang yang merugi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan keikhlasan, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga amanah.
“Kalau amanah terjaga, maka kepercayaan akan datang. Pemimpin harus mampu menghadirkan dampak, tidak hanya di internal organisasi, tetapi juga bagi masyarakat luas,” pungkasnya.



