Ribuan Guru Muhammadiyah Berkumpul di UMS, Rektor Buka Peluang S2-S3 dan Tekankan Adaptasi AI
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Kualitas pendidikan nasional sangat bergantung pada kapasitas para pendidiknya. Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa penguatan kualitas guru Muhammadiyah membutuhkan sosok yang profesional, berdaya saing tinggi, serta tanggap terhadap kemajuan zaman.
Pesan penting tersebut beliau sampaikan di hadapan lebih dari 12.500 guru Muhammadiyah dan ’Aisyiyah se-Jawa Tengah. Ribuan pendidik ini memadati Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS dalam acara Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Tengah, Sabtu (7/11/2026).
Dalam pengarahannya, Harun menekankan lima daya utama sebagai fondasi penting melahirkan pendidik hebat. Lima daya tersebut meliputi daya panggil, daya juang, daya saing, daya inovasi tiada henti, hingga daya beli.
Lima Daya dan Tantangan Era Kecerdasan Buatan
Harun menjelaskan bahwa daya panggil menjadi kekuatan awal yang menumbuhkan keterikatan pendidik terhadap Persyarikatan. Semangat tersebut kemudian melahirkan daya juang atau militansi saat mengabdi di sekolah.
“Guru Muhammadiyah-’Aisyiyah harus punya daya juang dan semangat tinggi. Semangat itu tidak bisa dikonversi dengan uang maupun barang, tetapi tumbuh murni dari kecintaan kita,” ungkap Harun di panggung Edutorium.
Selain daya juang, Harun meminta para pendidik terus meningkatkan daya saing melalui kompetisi yang sehat. Beliau mengingatkan bahwa kompetisi tidak boleh berhenti di internal Persyarikatan, melainkan harus mampu menghadirkan keunggulan di tengah masyarakat luas.
Beliau juga menyoroti pentingnya daya inovasi tiada henti, terutama saat teknologi kecerdasan buatan semakin memengaruhi sistem belajar-mengajar. Menurutnya, guru Muhammadiyah tidak boleh kalah cepat dari perkembangan AI yang bekerja berbasis algoritma data.
“Jangan sampai hasil survei membuktikan anak-anak kita lebih percaya kepada AI daripada gurunya sendiri. Hal itu hanya terjadi jika gurunya tidak memiliki daya inovasi tiada henti,” tegas Rektor UMS tersebut.
Tawaran Kuliah S2-S3 dan Peningkatan Kesejahteraan
Seluruh rangkaian daya tersebut pada akhirnya bermuara pada peningkatan daya beli sebagai indikator kesejahteraan pendidik. Harun menegaskan bahwa penguatan kesejahteraan guru Muhammadiyah perlu dibangun lewat kolaborasi internal yang solid.
Sebagai langkah nyata mendukung kualifikasi akademik pendidik, UMS membuka kesempatan luas bagi guru Muhammadiyah untuk melanjutkan studi jenjang magister (S2) maupun doktor (S3). UMS saat ini mengelola 86 program studi, mencakup 42 program sarjana, 23 program magister, 10 program doktor, dan 11 program profesi.
“Kami juga tengah mengembangkan program doktor di bidang Kedokteran Umum dan Ilmu Kesehatan untuk memperkuat SDM pendidikan kita,” tambah Harun.
Komitmen Kurikulum Bilingual dan Pelatihan MTC
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Bambang Kusmiyanto, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh UMS sebagai tuan rumah. UMS menyiagakan fasilitas gedung dan perlengkapan acara senilai Rp140 juta untuk menyukseskan agenda akbar ini.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D., menilai FGM memegang peran strategis dalam pengembangan kurikulum. Beliau menjelaskan bahwa para guru FGM aktif menyusun buku MIPA bilingual sejak 2025.
Pada 2026 ini, penyusunan berlanjut ke buku IPS bilingual bahasa Inggris serta buku Bahasa Inggris bilingual bahasa Mandarin. Program kurikulum baru ini siap meluncur secara luas di sekolah-sekolah Muhammadiyah pada 2027 mendatang.
Muhammadiyah juga tengah menyiapkan Muhammadiyah Training Center (MTC) di Sentolo, Kulon Progo, sebagai pusat pelatihan profesionalisme pendidik.
Acara akbar ini juga menghadirkan Ketua Umum PP Muhammadiyah ke-14 Prof. Din Syamsuddin serta Dirjen GTK Kemendikdasmen Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Melalui forum ini, UMS makin memperkuat perannya dalam mencetak guru Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.
Kontributor: Fika
Editor: Akmal



