Tembus 51 Jam Perjalanan, Relawan Psikologi UMS dan MDMC Jateng Dampingi Penyintas Gempa NTT
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tim relawan gabungan dari Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan MDMC Jawa Tengah menerjunkan bantuan darurat untuk korban gempa NTT. Aksi kemanusiaan ini berfokus pada pemulihan psikologis anak-anak serta penyaluran logistik di wilayah terdampak.
Bramantyo Wijaya Kusuma, mahasiswa Psikologi UMS, bergabung bersama rombongan relawan MDMC Jateng sejak 8 September 2026. Tim menempuh perjalanan darat dan laut selama 39 jam hingga berlabuh di Pelabuhan Bung Karno, Ende.
“Setelah tiba di pelabuhan, kami melanjutkan perjalanan darat selama 12 jam menuju titik posko layanan di Desa Mbay 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,” ujar Bramantyo pada Kamis (22/10/2026).
Asesmen Lapangan dan Pendirian Hunian Darurat
Tim relawan tiba di posko pusat Klinik Utama Muhammadiyah Ende pada 10 September 2026. Mereka langsung menggelar asesmen lapangan bersama MDMC Flores Timur dan PDPM Nagekeo sehari setelahnya.

Koordinasi tersebut bertujuan memetakan kendala lapangan sekaligus merancang layanan darurat penanganan gempa NTT. Selanjutnya pada 12 September 2026, relawan mendirikan hunian sementara dan membagikan bantuan pangan pokok kepada warga terdampak.
“Kami mendirikan hunian darurat sebagai tempat singgah sementara yang aman bagi para penyintas,” kata Bramantyo menambahkan.
Layanan Kesehatan dan Trauma Healing Anak-Anak
Selain menyalurkan logistik, relawan memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis anak-anak korban gempa NTT. Tim menggelar layanan kesehatan gratis serta membagikan perlengkapan sekolah pada 13 September 2026.
Puncak aksi psikososial berlangsung di MTsN Nagekeo pada Jumat, 18 September 2026. Relawan memberikan edukasi mitigasi bencana dan membagikan 500 paket alat tulis (school kit) bantuan MDMC Jateng.
“Gedung sekolah belum dapat menampung kegiatan belajar mengajar karena kondisi tembok retak dan plafon ambruk,” tutur Bramantyo menceritakan kondisi fisik bangunan.
Edukasi Mitigasi dan Penutupan Misi Kemanusiaan
Rangkaian bantuan gempa NTT berakhir pada Minggu, 20 September 2026, melalui lomba mewarnai dan edukasi keselamatan. Sebanyak 16 anak usia 4-12 tahun mengikuti kegiatan bertema keindahan alam tersebut.
Program trauma healing ini efektif menghibur anak-anak sekaligus menggantikan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia yang sempat tertunda akibat gempa NTT. Relawan berharap pendampingan berkelanjutan ini mampu mempercepat pemulihan fisik dan mental warga Nagekeo.
Kontributor: Maysali
Editor: Akmal



