Berita

Muhammadiyah Ngaliyan Bedah Filosofi Kupat Lepet dan Asal-usul Halalbihalal

PWMJATENG.COMSEMARANG — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan menggelar kajian khusus tentang filosofi kupat lepet dan sejarah Halalbihalal pada Ahad, 29 Maret 2026, di Gedung Dakwah PCM Ngaliyan. Kegiatan ini menjadi sarana memperkuat silaturahmi sekaligus mengedukasi warga persyarikatan tentang akulturasi budaya dalam dakwah Islam di Jawa.

Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus anggota Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Drs. H. M. Danusiri, M.Ag. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Halalbihalal bukan tradisi yang berasal dari Arab, melainkan bentuk kreativitas sosial masyarakat Nusantara yang berkembang dan tidak bertentangan dengan syariat.

“Visualisasi ajaran melalui ketupat dan lepet digunakan para pendahulu karena keterbatasan teknologi komunikasi saat itu. Ini adalah seni menyampaikan pesan agama melalui simbol estetika,” ujar Danusiri.

Makna Kupat dan Lepet dalam Tradisi Halalbihalal

Dalam kajian tersebut, Danusiri menjelaskan pemaknaan simbolik di balik panganan khas yang kerap hadir dalam tradisi Syawal. Menurut dia, kupat atau ketupat dimaknai sebagai lambang rasa khawatir atas sisa dosa, sedangkan lepet dipahami berasal dari kata lepat yang berarti kesalahan.

Ia menjelaskan, tekstur ketan yang lengket pada lepet menjadi simbol khilaf manusia yang sulit lepas dari hati. Namun, kesalahan itu dapat diluruhkan melalui saling memaafkan dan jabat tangan yang tulus.

Pemaknaan tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa dakwah para pendahulu tidak hanya disampaikan lewat lisan, tetapi juga melalui simbol budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

PCM Ngaliyan Perkuat Dakwah Kultural

Ketua PCM Ngaliyan, Dr. H. Karnadi Hasan, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari visi Muhammadiyah untuk menjadi rumah bersama bagi kader dan warga yang ingin berkhidmat.

“Muhammadiyah adalah milik semua yang mau berkhidmat, baik melalui tenaga, waktu, maupun dana untuk kemajuan dakwah dan pendidikan di Ngaliyan,” tegasnya.

Kegiatan ini dihadiri jajaran pimpinan pleno PCM, PRM, PCA, hingga PRA se-Kecamatan Ngaliyan. Acara kemudian ditutup dengan sesi mushafahah atau bersalam-salaman sebagai simbol saling memaafkan dan mempererat ukhuwah.

Melalui kajian ini, warga Muhammadiyah Ngaliyan diajak memahami bahwa Halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan juga media dakwah kultural yang sarat nilai persaudaraan, introspeksi, dan harmoni sosial.

Kontributor: Adib Abyan Albari
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/