Soroti Darurat Pendidikan Nasional, BEM UMS Bedah Kebijakan Kurikulum hingga Program MBG
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) bersama BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar diskusi KIHAJAR (Kita Harus Belajar), Kamis (15/10/2026). Agenda intelektual ini mengangkat tema khusus untuk merespons darurat pendidikan nasional yang melanda Indonesia saat ini. Mahasiswa menyoroti berbagai persoalan mendasar, mulai dari kegagalan arah kebijakan pemerintah, krisis moral, hingga maraknya aksi kekerasan di lingkungan sekolah.
Langkah kolaboratif ini menjadi sarana strategis BEM UMS dalam merawat atmosfer intelektual kampus. Melalui mimbar kritis tersebut, mahasiswa tidak sekadar bertukar pikiran secara lepas. Mereka mengkaji akar masalah kebijakan pendidikan nasional secara komprehensif demi mendorong kesadaran sosial pemuda.
Evaluasi Kurikulum dan Kesejahteraan Guru
Diskusi interaktif ini menghadirkan dua pemateri utama, yaitu Dafa Damara Gani dan M. Fadlan Ansori. Dafa Damara Gani menguliti implementasi kebijakan pendidikan nasional yang dinilai belum menyentuh akar masalah. Ia menyoroti dampak efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG), nasib kesejahteraan guru, fenomena bongkar-pasang kurikulum pendidikan, serta beban administrasi pengajar yang menumpuk.
“Pemerintah harus memprioritaskan kesejahteraan guru demi terciptanya proses pembelajaran yang optimal di kelas. Ketika hak dasar tenaga pendidik belum terpenuhi, mutu pendidikan pasti ikut terdampak,” tegas Dafa.
Selanjutnya, Dafa mengkritik pola pergantian menteri yang selalu diikuti perubahan kurikulum pendidikan secara mendadak. Kebijakan instan ini kerap menyulitkan guru di lapangan. Akibatnya, tenaga pendidik kehabisan waktu mengurus berkas administrasi alih-alih fokus mendampingi tumbuh kembang siswa.
Penguatan Moral dan Gagasan Freire
Sementara itu, M. Fadlan Ansori menyoroti darurat pendidikan nasional dari sudut pandang krisis moral dan etika. Menurut Fadlan, proses pendidikan modern wajib mengembalikan nilai moral serta pembentukan akhlak sebagai fondasi utama. Dalam ajaran Islam, ilmu pengetahuan tidak boleh terpisah dari pilar spiritual.
Fadlan juga mengaitkan fenomena ini dengan pemikiran kritis Paulo Freire mengenai banking concept of education atau konsep pendidikan gaya bank. Model pembelajaran kaku ini menempatkan guru sebagai penguasa tunggal materi, sedangkan siswa hanya menjadi penampung pasif.
“Model pembelajaran otoriter harus segera kita hentikan. Kita perlu membuka ruang dialog yang humanis demi menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta bebas dari aksi kekerasan,” jelas Fadlan.
Komitmen Mahasiswa Mencari Solusi
Gubernur BEM FAI UMS, Muhammad Arya Kautsar, menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan tradisi berpikir kritis di PTMA. Ia menilai ruang diskusi seperti ini sangat krusial untuk menjawab tantangan darurat pendidikan nasional.
Melalui forum ini, BEM FAI UMS dan BEM FKIP UMS berharap seluruh elemen mahasiswa terus aktif melahirkan gagasan solutif. Mahasiswa tidak boleh diam melihat ketimpangan sistem pendidikan, melainkan harus hadir memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Kontributor: Irsyad/Maysali
Editor: Akmal



