Alumni UMS, Asri Hartanti Buktikan Bahasa Inggris Bisa Dipelajari dari Aktivitas Sehari-hari

PWMJATENG.COM, Surakarta — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kisah inspiratif alumninya melalui program UMS Talk Podcast. Kali ini, podcast tersebut menghadirkan Asri Hartanti, S.Pd., alumni Pendidikan Bahasa Inggris UMS asal Wonogiri yang dikenal luas melalui konten media sosialnya tentang pembelajaran bahasa Inggris secara sederhana dan kontekstual.
Asri merupakan mahasiswa UMS angkatan 1999 dan lulus pada 2003. Ketertarikannya pada bahasa Inggris bermula sejak duduk di bangku sekolah dasar, ketika ia terinspirasi oleh sepupunya yang mampu bernyanyi menggunakan bahasa Inggris. Meski berasal dari desa, minat tersebut tumbuh menjadi passion yang mengantarkannya menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris di UMS.
“Awalnya belajar bahasa Inggris itu kacau, pernah sedih juga. Tapi dari situ saya belajar bahwa bahasa itu bukan akidah. Salah bisa diperbaiki,” ujar Asri dalam podcast tersebut, Senin (5/1/2026).
Meski berlatar belakang pendidikan guru, Asri mengaku tidak pernah membayangkan dirinya menjadi pendidik. Ia justru bercita-cita menjadi pemandu wisata. Namun, perjalanan hidup membawanya menjadi guru bahasa Inggris di sekolah swasta hingga akhirnya berstatus guru ASN melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik balik bagi Asri untuk mulai aktif membuat konten edukasi bahasa Inggris di media sosial. Berawal dari keinginannya membiasakan anak-anaknya berbicara bahasa Inggris di rumah, ia menjadikan pembuatan konten sebagai sarana latihan sekaligus berbagi.
“Motivasi utama saya anak. Saya ingin bahasa Inggris menjadi investasi masa depan mereka,” ungkapnya.
Konten-konten Asri dikenal natural dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan bahasa Inggris saat berbelanja di minimarket atau beraktivitas di rumah. Menurutnya, tantangan terbesar belajar bahasa Inggris bukan pada kemampuan, melainkan rasa takut salah dan takut dihakimi.
“Sekarang ini sudah 2025. Tidak punya partner itu bukan alasan. Bisa latihan dengan AI, teman media sosial, atau sendiri. Just do it. Jangan takut grammar cops,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya empati dalam mengoreksi kesalahan berbahasa. Terlalu sering mengoreksi, menurutnya, justru dapat mematikan semangat belajar.
“Tidak semua orang nyaman dikoreksi terus-menerus. Kalau belum diminta, sebaiknya dibiarkan dulu,” tambahnya.
Dalam podcast tersebut, Asri membagikan tips belajar kosakata secara efektif, yakni dengan menghindari penerjemahan langsung ke bahasa Indonesia. Ia menyarankan penggunaan gambar atau kamus Inggris–Inggris agar otak terbiasa berpikir dalam bahasa Inggris.
Asri mengakui lingkungan kampus UMS berperan besar dalam meningkatkan kefasihannya berbahasa Inggris. Ia bahkan mulai merasa lancar setelah tiga semester kuliah karena lingkungan yang mendukung untuk praktik.
“Manfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Setelah lulus, belum tentu lingkungannya mendukung untuk latihan,” pesannya kepada mahasiswa UMS.
Hingga kini, Asri tetap konsisten menjalani peran sebagai guru sekaligus konten kreator. Ia mengaku tidak memiliki ambisi besar selain terus mengajar dan berbagi melalui konten edukatif.
“Saya ingin tetap menjadi guru dan terus membuat konten. Itu saja,” pungkasnya.
Kontributor: Fika/Humas
Editor: Al-Afasy



