EditorialKolom

Sukses Memimpin ala Muqaddimah Ibnu Khaldun Al Hadrami

Sebentar lagi Indonesia akan segera memasuki tahun-tahun politik, hal ini sudah mulai nampak dengan pergantian kepala daerah karena menjelang Pilkada; dan nanti di tahun 2024 akan ada perhelatan akbar berupa Pemilu presiden dan legislatif.

Selain pemerintah, Muhamadiyah menyusul saudara kembarnya Nahdlatul Ulama’ juga akan menggelar reorganisasi pimpinan, baik di tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang bahkan ranting. Pun dengan beberapa Ortom juga akan mengikutinya.

Pergantian kepemimpinan sendiri merupakan hal yang amat sangat wajar. Hal ini menurut Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd. merupakan upaya untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk dalam ranga menyempurnakan kepemimpinan sebelumnya (Sugeng Listiyo Prabowo, 2014).

Lantas, dalam rangka menyongsong pergantian kepemimpinan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh pemimpin dan pemilih? Dalam hal ini penulis mengingat Kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun yang pernah penulis pelajari saat nyantri. Di dalamnya terdapat berbagai tuntunan yang dapat menjadi rujukan bagi calon pemimpin dan pemilih. Apa saja itu? Mari kita simak sekelumit ulasan di bawah ini!

Seuntai Profil Ibnu Khaldun Al Hadrami

Ibnu Khaldun Al Hadrami dalam Buku Ibn Khaldun; His Life and Work karya Mohammad Abdullah Enan disebutkan bernama lengkap Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 727 Hijriah/27 Mei 1332 Miladiyah  (Enan, 1941).

Ibnu Khaldun masyhur dengan kapasitasnya sebagai filsuf, sosiolog, ekonom, ahli politik. Saking ahlinya, banyak tokoh di antaranya Adam Smith dan Karl Marx yang terinspirasi dari karya-karya Ibnu Khaldun. Bahkan A. Pitirim Sorokin menyejajarkan Ibnu Khaldun dengan Plato, Aristoteles, Giambattista Vico, dan St. Thomas Aquinas  (Sorokin, 1966).

Beberapa karya monumental Ibnu Khaldun yang pernah penulis akses di antaranya  at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

muqaddimah
Ilustrasi foto Ibnu Khaldun. Foto : Pesantren.ID.
Tentang Muqaddimah

Sebagaimana telah penulis sampaikan di awal, bahwa Ibnu Khaldun memiliki karya di bidang sosiologi yakni Muqaddimah. Sejauh yang penulis ingat, kitab ini sangat tebal, saking tebalnya agak sulit dibawa menggunakan tangan–butuh tas untuk membawanya.

Sependek bacaan penulis, Muqaddimah sendiri merupakan hasil renungan teoritis Ibnu Khaldun sekaligus pengalaman empirisnya yang ia tuangkan dalam gagasan dan teori. Pengalaman empirisnya ia peroleh saat menjadi salah satu tokoh strategis dalam kepemimpinan dan politik di Afrika Utara dan Granada.

Dalam pembahasannya, kitab ini cukup berbeda dengan kitab-kitab lainnya karena mengandung banyak hikmah di balik tiap untaian kata.

Faktor Suksesi Kepemimpinan

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh dua hal, yang pertama adalah ashabiyya (relasi kelompok) dan yang kedua adalah agama.

Sebuah kepemimpinan sendiri dapat seseorang raih melalui adanya supremasi. Sementara supremasi hanya dapat dicapai dengan fanatisme. Adapun kepemimpinan atas suatu masyarakat haruslah berasal dari kelompok yang memiliki supremasi atas kelompok-kelompok lain secara keseluruhan. Dengan begitu, mereka akan tunduk dan patuh pada pemimpinnya. Begitu kira-kira garis besar ungkapan Ibnu Khaldun dalam salah satu bab di Muqaddimah.

Atas dasar tersebut maka kemunculan pemimpin tidak dapat lepas dari adanya ashabiyya. Kelompok ini sendiri memiliki peranan penting dalam pengembangan masyarakat. Ashabiyya sendiri menurut analisa Ibnu Khaldun ditemukan di antara orang-orang yang berasal dari ikatan darah atau suku yang sama. Di antara mereka itulah superioritas terbentuk dari perasaan kelompok.

Kemudian di samping ashabiyya, menurut Ibnu Khaldun agama juga sangat mempengaruhi tegaknya kepemimpinan. Ia memandang bahwa secara umum agama memiliki daya pemersatu kelompok. Agama memiliki peran sentral untuk memperkokoh solidaritas kelompok yang memungkinkan sebuah struktur kepemimpinan terbentuk. Oleh karena segala tindakan anggota kelompok diatur oleh keyakinan agama, maka tabiat kebinatangannya akan terkendali.

Dari dua faktor di atas, penulis menqiyaskan dengan fenomena yang timbul dewasa ini. Ashabiyya sendiri berarti koalisi dari beberapa kelompok yang dimotori oleh suatu kelompok dominan, baik dominan secara kualitas maupun kuantitas. Sedangkan agama dapat diartikan sebagai sebuah dogma, keyakinan atau bahkan ideologi yang tertancap di sanubari anggota suatu kelompok.

muqaddimah
Cover Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun. Foto : Arsip.
Prasyarat Pemimpin Suatu Masyarakat

Menjadi seorang pemimpin menurut Ibnu Khaldun tidak hanya mengandalkan kemauan dari seseorang ataupun sekelompok orang saja. Melainkan perlu mempertimbangkan kecakapan-kecakapan untuk mengatur masyarakat/anggota kelompok. Kecakapan-kecakapan tersebut dibutuhkan dalam rangka meraih tujuan yang hendak dicapai oleh syariat, seperti menjaga persatuan dan menghindari konflik.

Muqaddimah menawarkan prasyarat pemimpin sebuah kelompok/masyarakat, di antaranya :

  1. Memiliki ilmu pengetahuan
  2. Mampu berbuat adil
  3. Memiliki kompetensi
  4. Sehat jasmani dan rohani
  5. Garis keturunan (nasab)
Periodesasi Kepemimpinan

Kemudian di bagian akhir ini penulis terinspirasi kajian yang dibawakan oleh Dr. KH. Tafsir, M.Ag. tentang konsep/teori Thaba’i al-Umran di mana Ibnu Khaldun menjelaskan bangkit dan runtuhnya sebuah kota (hadrah). Al-Umran ini sendiri mencakup asosiasi manusia dan kebudayaan, yang menurut Dr. KH. Tafsir, M.Ag. tidak hanya berlaku pada sebuah negara, namun juga dapat diterapkan pada suatu kelompok/lembaga/organisasi, dsb.

Dalam konsep di atas, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa suatu negara memiliki usia yang sama dengan makhluk lain, yakni 120 tahun. Yang mana 120 tahun ini dibagi menjadi tiga generasi, yang masing-masing berperiode 40 tahun-an.

Generasi pertama (40 tahun pertama), diartikan sebagai generasi yang hidup dalam keadaan primitif yang keras. Generasi ini jauh dari kemewahan dan kehidupan kota. Sehingga generasi ini diartikan sebagai generasi perjuangan/perintisan.

Generasi kedua (40 tahun kedua), diartikan sebagai generasi yang telah berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara, sehingga generasi ini telah beralih dari masa kesengsaraan menuju masa kemewahan. Adapun generasi ini diartikan sebagai generasi penikmat.

Generasi ketiga (40 tahun ketiga), diartikan sebagai generasi yang tenggelam akan kemewahan sehingga mengalami kehancuran dan kehilangan makna kehormatan, keberanian dan kebijaksanaan. Sehingga generasi ini diartikan sebagai generasi penghancur.

Lantas, apakah mungkin negara/lembaga/organisasi akan mengalami fase hingga fase generasi ketiga? Sangat mungkin! Ketika suatu generasi kehilangan arah, maka sangat mungkin fase generasi ketiga akan berjalan. Maka untuk mengantisipasinya, Dr. KH. Tafsir, M.Ag. memberikan tips berupa pewarisan spirit dan pengalaman antar generasi. Menurutnya generasi pertama harus memberitahu landasan dan latarbelakang didirikannya sebuah negara/organisasi/kelompok kepada generasi kedua. Generasi kedua juga berkewajiban menyampaikannya kepada generasi selanjutnya, dan seterusnya.

Apakah cukup hanya dengan saling menceritakan? Tidak cukup! Perlu adanya penjaga bara api spirit dan tujuan para pendahulu. Jika sebuah generasi menginginkan inovasi, maka buatlah inovasi yang tidak melebar jauh dari spirit dan tujuan awal didirikannya sebuah negara/lembaga/kelompok. Dengan ini insyaallah sebuah negara/lembaga/organisasi akan terjaga hingga kapanpun.

Muhammad Taufiq Ulinuha

Pemimpin Redaksi PWMJateng.com, Redaktur Rahma.ID.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE