Tokoh

Haji Agus Salim : Potret Muslim Patriot Nasionalis

Pahlawan Nasional

Haji Agus Salim rela hidup sangat sederhana senasib dengan rakyat Indonesia yang diperjuangkan nasibnya. Seandainya ia mau, bisa saja menjadi pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda sehingga dapat menikmati hidup berkecukupan secara materi dan status sosial.

Pemimpin perjuangan yang idealis umumnya rela menempuh jalan hidup menderita demi menjaga kemurnian cita-cita dan kesetiaan dengan prinsip-prinsip perjuangan. Sebuah kata mutiara yang menggambarkan keadaan dimasa itu dalam bahasa Belanda, “Leiden is lijden” artinya memimpin adalah menderita.

Menurut Bung Hatta, sebagaimana dikutip Solichin Salam dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim, Haji Agus Salim memiliki rasa setia kawan yang tinggi. “Kalau dapat ia menolong semua orang yang melarat hidupnya. Perasaan itulah seringkali yang menimbulkan paham sosialisme dalam dadanya, yang diperkuat pula oleh ajaran Islam.” Kata Pahlawan Proklamator Kemerdekaan dan wakil Presiden RI Pertama itu.

Peran dan jasa Haji Agus Salim sebagai pejuang kemerdekaan terukir dalam sejarah. Pada tahun 1945 ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Haji Agus Salim salah satu founding fathers Republik Indonesia dan ikut mensahkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang merupakan konsensus tentang dasar negara Indonesia. Setelah proklamasi ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1945 – 1946).

Dalam pemerintahan, beberapa kali duduk dalam kabinet sebagai Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir || (1946) dan Kabinet Sjahrir III (1947); Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), dan Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta (1948 – 1949). Setelah tahun 1949 sampai wafat Haji Agus Salim menjadi Penasihat Utama pada Kementerian Luar Negeri RI.

Haji Agus Salim memimpin misi diplomatik RI dalam mengupayakan dukungan negara-negara Arab terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia dikenang sebagai “diplomat pertama Indonesia” karena perannya sebagai perintis hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab yang pertama; yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Haji Agus Salim salah satu anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 30 Desember 1949.

Baca juga, Menuju Penghujung Periode, IPM Pekalongan Gelar TORSENI

Dalam pengantar buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional karya Solichin Salam, Mohammad Hatta mengisahkan bagaimana tanggapan Haji Agus Salim atas kemarahan pihak Belanda sehubungan pengakuan negara-negara Arab atas kemerdekaan RI. Berikut pernyataan Haji Agus Salim, “Kalau Tuan-tuan menganggap usaha kami mendapatkan pengakuan de jure negara Arab atas Republik Indonesia bertentangan dengan perjanjian Linggarjati? Pengakuan de jure kami peroleh akibat daripada aksi militer Tuan. Kalau Tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, kami akan mencapai pengakuan de jure dari seluruh dunia.”

Mengenai cinta tanah air, sebagaimana diutarakan keponakannya Prof.Dr. Emil Salim dalam buku seratus Tahun Haji Agus Salim, bahwa Haji Agus Salim bertolak dari niat “lillahi ta’ala”. Karena Allah inilah yang menjadi niat utama. Pemantapan niat dalam hati sanubari pejuang dirasa perlu karena perjuangan kemerdekaan tidaklah mudah dan banyak godaan yang menyesatkan mereka yang berjuang. Lagi pula, menurut Haji Agus Salim, tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, cinta tanah air tidak hanya terbatas pada usaha membebaskan tanah air dari belenggu penjajah; tidak lagi terbatas pada kecintaan yang dikobarkan oleh nyiur hijau melambai atau kilauan emas dan padi menguning; tetapi beliau menarik ke tingkat lebih tinggi. Kita mencintai tanah air karena ini adalah anugerah Allah. Dalam rangka beribadah kepada-Nya, demikian pandangan beliau.

Jangan Dipuji Suatu Hari Sebelum Datang Maghribnya

Sebagai intelektual kelas dunia Haji Agus Salim pada 1953 diundang sebagai guru besar tamu pada semester musim semi untuk memberikan kuliah tentang agama Islam di Cornell University di Ithaca Amerika Serikat. Ia juga diundang memberi ceramah tentang Pergerakan dan Cita-Cita Islam Indonesia di Princeton University. George McT Kahin menyebut Kuliah Islam Haji Agus Salim di Amerika Serikat banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Belum pernah ada guru besar muslim yang memimpin program dimaksud di kampus terkemuka di negara Barat.

Haji Agus Salim menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku, antara lain: Cerita Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw (1935); Riwayat Kedatangan Islam Di Indonesia (1941); Keterangan Filsafat Tentang Tauhid; Takdir dan Tawakal (1953); Ketuhanan Yang Maha Esa (1953); Muhammad sebelum dan Sesudah Hijrah (1958); dan pesan-pesan Islam : Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell university Amerika Serikat (2011)

Panitia peringatan Hadji A. Salim Genap berusia 70 Tahun tanggal 8 Oktober 1954, dari kawan-kawan, pencinta, pengikut dan murid-muridnya memprakarsai penerbitan khusus sebagai penghormatan dan penghargaan yaitu buku Djedjak Langkah Hadji A. Salim: Pilihan Karangan, Utjapan dan Pendapat Beliau Dari Dulu Sampai Sekarang.

Saat usianya menjelang 70 tahun dan sekembali dari memberi kuliah di Amerika Serikat, beliau berniat menulis semua pemikiran yang disampaikannya dalam sebuah buku dan menyelesaikan karangan mengenai Tafsir Al-Qur’an. Tetapi Allah menentukan lain. Haji Agus Salim tutup usia satu bulan setelah memperingati ulang tahun ke 70.

Baca juga, MIM PK Sindon Adakan Seminar Parenting

Haji Agus Salim berpulang ke rahmatullah tanggal 4 November 1954 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara kenegaraan esok harinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, diantar oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan disaksikan oleh puluhan ribu rakyat.

Presiden Soekarno pada 27 Desember 1961 menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada almarhum Haji Agus Salim atas jasa-jasanya sebagai pemimpin bangsa yang besar peranannya dalam perjuangan merebut; menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pemerintah juga meresmikan nama Jalan H. Agus Salim di daerah Menteng – Jakarta Pusat; tepatnya di jalan rumah tempat tinggal beliau, yang sebelumnya bernama Jalan Gereja Theresia. Di masa Orde Baru, Presiden Soeharto tanggal 12 Agustus 1992 memberikan penghargaan tertinggi Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama kepada almarhum Haji Agus Salim sebagai tokoh perancang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Setengah abad dari usia Haji Agus Salim yang 70 tahun dihabiskan dalam tugas dan bakti bagi kepentingan bangsa dan tanah air sebagai ibadah kepada Allah. Di antara kata-kata bijak Haji Agus Salim, “Hinakan harta jangan hinakan diri.” dan “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang maghribnya.”

Salah satu yang mengesankan dari beliau, seperti dikenang murid-muridnya; tidak tampak kesuraman ketika hidup susah dan tidak berubah gaya hidup setelah mapan di hari tuanya. Salah seorang cucunya yaitu Ibu Maryam dalam wawancara majalah Intisari No 137, Desember 1974 menuturkan, “Opa tidak meninggalkan warisan berupa harta. Namun beliau meninggalkan warisan yang lebih berharga, yaitu nama baiknya sebagai ap orang yang pandai dan jujur.”

Sumber : Majalah Tabligh no. 07/XVII

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE