Kolom

MUNJULI

PWMJATENG.COM, KARANGANYAR – Seorang ibu muda bercerita pada temannya di sebuah rapat wali murid, “Alhamdulillah Bun anak saya sekarang hapalannya sudah setengah juz.” Matanya sedikit berair merasa terharu atas capaian yang diraih anaknya. Teman sang ibu muda tersenyum kemudian menimpali, “Wah bagus jeng tapi anakku sudah satu juz loh hapalannya!” Sang ibu muda tertegun, terasa ada yang mengalir perlahan dalam dadanya menghadirkan rasa tidak nyaman dan membuatnya tidak berselera untuk memperpanjang obrolan dengan teman sebangkunya.

Pada sesi training public speaking sang trainer mewanti-wanti “jadilah teman yang asyik sebelum menjadi pembicara publik yang hebat dan jangan pernah munjuli lawan bicara (publik). Bagaimana menjadi teman yang asyik dan tidak munjuli?
Arti Munjuli dalam kosa kata Jawa adalah mengungguli atau melebihkan dari sasaran. Contohnya bila teman kita bicara tentang sebuah topik dan kita tidak sabar untuk menimpali melebihi yang disampaikan, ada kesan kita ingin mengatakan bahwa kita lebih tahu, lebih up to date dan lebih menguasai topik pembicaraan. Walaupun faktanya benar namun orang yang sering munjuli teman bicaranya bukan teman yang asyik dan tidak akan bisa menjadi pembicara hebat menurut sang trainer menjelaskan tentang tips sukses dalam public speaking.

Al-Quran berbicara tentang enam gaya komunikasi/ qoulan dalam publik speaking. yaitu: Qoulan Sadida(perkataan yang benar), Qoulan Baligha (perkataan yang efektif), Qoulan Ma’rufa_ (perkataan yang baik), Qoulan Karima(perkataan yang mulia), Qoulan Layyina(perkataan yang lemah lembut), dan Qoulan Maysura(perkataan yang mudah dipahami). Menurut penulis kunci menjadi public speaker yang efektif terletak pada bagaimana memperlakukan lawan bicara kita dengan baik. Enam gaya bicara atau qoulan dalam al-Quran memberi arahan tentang etika public speaking yang harus kita perhatikan yaitu akhlak dalam bicara, materi pembicaraan, kondisi fisik dan psikis lawan bicara.

Rosulullah adalah contoh ideal bagaimana berkomunikasi dengan baik. Wajah berseri dan selalu tersenyum adalah bagian yang melekat pada pribadi Rosul. Bertutur dengan lembut dan perlahan adalah gaya Rosulullah berkomunikasi ( qoulan layyinan). Menghargai lawan bicara, menjadi pendengar yang baik dan tidak mudah marah bila ada hal yang kurang berkenan merupakan tabiat Rosul yang penyabar dan pemaaf. Maka tidak heran bila Rosul sangat dicintai kawan dan disegani lawan. Bila kita mampu meneladani Rosul dalam menjaga akhlak yang mulia terhadap siapa pun kita sudah memiliki modal awal untuk sukses dalam berkomunikasi.

Konten pembicaraan sangat penting untuk suksesnya sebuah publik speaking agar tujuan sampai pada sasaran. Sampai atau tidaknya pesan yang terkirim dalam sebuah komunikasi publik tergantung seberapa familiar seorang pembicara memahami kejiwaan pendengarnya. Empati yang besar pada kondisi kejiwaan audiens akan memudahkan seorang pembicara dalam menyesuaikan apa yang akan dan harus disampaikan.

Kebutuhan dasar setiap manusia adalah pengakuan bahwa dirinya penting dan berharga. Bila rasa itu konsisten kita jaga saat berkomunikasi dengan menjadi pendengar yang baik, antusias, tulus dan tidak munjuli maka materi berat pun akan lebih ringan dan kita akan mendapat respon yang positif.

Give your audience gift. Persembahkan hadiah terbaik buat audiens maka kita akan memperoleh segenap jiwanya, in syaa Allah.
Wallahu a’lam.

Oleh Hayati Nufus
MIM Bloran Kerjo, Karanganyar

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE