Inovasi Mahasiswa Gizi UMS Sabet Medali Emas dan Favorite Poster di Ajang Mandalika Essay Competition 9
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memborong prestasi membanggakan di tingkat nasional. Delegasi UMS ini berhasil memboyong medali emas (Gold Medal) sekaligus Favorite Poster dalam ajang Mandalika Essay Competition 9 di Lombok.
Para mahasiswa Gizi UMS tersebut meraih kemenangan berkat karya inovasi beras analog berbahan umbi suweg dan bekatul. Produk pangan alternatif ini dirancang khusus untuk mendukung program diversifikasi pangan di Indonesia.
Poppy Aureliana Riadita memimpin tim inovatif ini bersama dua rekannya, Syifa Alicia Arka Aisyah dan Ulla Aulia Izaty. Dosen Aan Sofyan turut mendampingi seluruh proses perjuangan tim selama kompetisi berlangsung.
Solusi Diversifikasi Pangan Berbasis Bahan Lokal
Karya bertajuk “BERAS SUBEKA” ini memanfaatkan umbi suweg yang selama ini belum terolah maksimal. Selain suweg, tim menambahkan bekatul yang merupakan hasil samping pengolahan padi kaya nutrisi.
Gagasan ini lahir dari keprihatinan tim atas tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras putih harian. Padahal, Indonesia memiliki banyak potensi pangan lokal yang bernilai gizi tinggi.
“Melihat tren konsumsi umbi-umbian meningkat, kami tertarik mengangkat potensi umbi suweg dan bekatul. Kedua bahan ini punya nilai tambah yang luar biasa,” ujar Poppy pada Senin.
Langkah Nyata Mahasiswa Gizi UMS di Ajang Nasional
Persiapan menuju ajang Mandalika Essay Competition 9 membutuhkan kajian literatur ilmiah yang mendalam. Tim menguji kaitan riset agar produk beras analog aman serta bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.
Tantangan utama tim adalah merumuskan konsep inovasi yang siap diterima oleh lidah masyarakat luas. Meski menghadapi persaingan ketat dari berbagai kampus, tim UMS mampu membuktikan keunggulan karya mereka.
Raihan dua penghargaan sekaligus di Lombok menjadi motivasi besar bagi tim untuk melangkah ke tahap lanjutan. Poppy berharap produk beras analog ini dapat diproduksi secara massal bagi publik.
“Kami berharap inovasi ini tidak berhenti di kompetisi saja. Tim akan melanjutkan uji coba agar produk ini menjadi alternatif pangan nyata,” pungkas Poppy.
Kontributor: Maysali
Editor: Akmal



